Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 7 Mei 2016   21:51 WIB
keluarga

Ini seperti malam yang sama. Saya terjaga, tak bisa lelap meski harusnya manusia normal tertidur pukul 21.48 dan kembali bangun pukul 05.00 menunaikan ibadah Subuh bagi seorang muslim atau bangun pukul 07.00 untuk segera pergi ke gereja. Ini hari Sabtu, yang terlalu panjang. Sebenarnya, apa yang menyenangkan dari keluarga?

Saat kosakata saya terlalu sempit dan pikiran saya teramat sederhana. Keluarga adalah tempat pulang paling nyaman sebab keluarga adalah pondasi saat sebelum terjun ke dunia yang amat kompleks. Sebelum memahami orang-orang. 

Keluarga semacam elemen ke lima setelah air, udara, tanah dan api. Sebab, kekuatan terbesar dalam banyak situasi paling sulit selalu lahir dari pengertian, kepercayaan, ketulusan dan pengorbanan yang semuanya berasal dari keluarga. Semacam kasih sayang tanpa nominal, deret matematik tak hingga atau sesuatu yang lebih kompleks dari mekanisme metabolisme, karena keluarga ibarat neutrofil meski satu dan lainnya harus mati tetap saja saling melindungi.

Kemudian, saat usia saya tak lagi belasan. Saya rasa istilah keluarga punya definisi tak sebatas hubungan kekerabatan atau filogeni karena kesamaan materi genetik yang diwariskan ibu dan ayah. Pemaknaannya lebih luas karena kadang air memang tak sekental darah tapi air selalu lebih banyak jumlahnya dari darah.

Orang-orang yang dibesarkan di panti asuhan, meski tak bersaudara secara darah tetap saling jaga bukan? Lagipula, saudara sedarah justru saling cekcok saling balap dan berseteru untuk sebidang tanah, seperangkat rupiah dan hal-hal duniawi yang tak dibawa mati tapi tetap punya arti.

Jadi, saya pikir keluarga tetap tempat pulang paling nyaman meski tak ada warisan genetik yang sama di sana. Sebab keluarga tak melulu soal darah. Keluarga adalah tentang siapa yang selalu memberi dan tak harap kembali, selalu mengisi tak peduli berapa isi dompet dan apa jabatanmu, ada tanpa diminta dan seperti sebuah pondasi keluarga menguatkan memberi bentuk paling sempurna saat kamu dalam posisi jatuh dan tak sanggup bangkit lagi.

Karya : Dian Nurmala Ws