Refleksi Kasus Yuyun

Dian Nurmala Ws
Karya Dian Nurmala Ws Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 05 Mei 2016
Refleksi Kasus Yuyun

Tentang Yuyun, saya bukan tak perduli. Awalnya, saya pikir saya hanya tak perlu terlibat. Bukan karena empati itu mati, tapi saya tak begitu hebat beradu argumen. Tak begitu jago menaham amarah dan pedih saat adu pendapat. Tentu saja, kacamata yang tiap orang gunakan berbeda dan akan sangat pusing jika dipaksa menggunakan kacamata yang sama.

Tapi, saya rasa kali ini saya harus urun rembuk. Setidaknya menyuarakan riuh pikiran dan gemuruh nafas yang memburu. Hati saya koyak, bagaimana mungkin seorang manusia apalagi masih dalam masa kanak-kanak tega membunuh, ah bukan hanya membunuh tapi ditambah memperkosa dan menggilir gadis muda yang tentu saja seperti kebanyakan wanita tak punya tenaga berlebih.

Sebut ini getir, untuk tiap anak yang ikut terlibat saya mengutukinnya meski itu tak mengubah sedikitpun pedih di hati keluarga Yuyun. Tak sedetikpun mengubah kenyataan pilu bahwa Yuyun berpulang dengan cara tragis untuk gadis yang jalannya masih begitu panjang.

Saya hanya tak pernah mengerti, bagaimana anak-anak itu tumbuh dan dibesarkan. Terserah kalau kalian pikir saya kejam, tapi anak adalah cerminan orangtua. Saya tahu, sebagai orangtua kamu akan melakukannya banyak hal untuk anakmu seringkali kecintaan itu yang membuatmu begitu buta untuk sekedar menatap manik matanya dan memintanya berjalan di arah yang sesuai. Karena kecintaan yang sama, seringkali orangtua justru membuat anaknya semacam kehilangan arah. Semua dosanya lenyap seketika, pasang badan untuk tiap kesalahan yang diperbuat.

Tak ada yang salah dengan rasa cinta yang salah hanya penempatan. Cinta adalah kejelian melihat, sungguh hatimu boleh buta tapi tidak dengan logikamu. Memaafkan itu urusan mudah, tapi ada harga untuk luka yang selalu membekas.

Tentang Yuyun adalah potret kegagalan para orangtua remaja putra yang begitu aniaya. Terlepas bagaimana sibuknya seorang ibu dan bapak, memiliki anak berarti berani bertanggung jawab bukan sekedar melengkapi kebutuhan sandang, pangan dan papan lebih dari itu adalah melengkapinya dengan iman dan akhlak.

Yuyun tak kembali tidak sedetikpun. Tapi, setelah ini harusnya kita sama-sama berpijak di sudut yang paling netral bahwa orangtua adalah pondasi kemana anaknya kelak melangkah. Bahwa tak ada alasan pembiaran bahkan dengan rupiah karena, bapak dan ibu wajib mengajarkan tiap anak bertanggung jawab bukan hanya untuk dirinya tapi oranglain. Jika, seorang lelaki berlaku kasar kita patut bertanya bagaimana bapaknya memperlakukan ibunya atau bagaimana ibunya membiarkan dirinya menjadi pengecut tengik.

Menonton video porno, merokok dan minum saat masih remaja bukan sesuatu yang keren dan membanggakan, dan sungguh itu adalah cermin kegagalan orangtua sebab anak-anak itu amanah jika ia dirawat dengan baik ia akan tumbuh baik.

Semoga tak ada lagi Yuyun lainnya.


  • Chairunisa Eka 
    Chairunisa Eka 
    2 tahun yang lalu.
    satu lagi mentalnya anggota DPR yang menyalahkan alm. Yuyun karena pulang lewat kebon yang sepi, salahnya korban ngapain pulang lewat jalur sepi. Bayangkan anggota DPR yang hidupnya enak ada AC, ada fasilitas, ada mobil. Beda sama rakyatnya ga ada AC, ga ada fasilitas, ga ada mobil mereka harus ngangkot.