Refleksi Hari Pendidikan Nasional

Dian Nurmala Ws
Karya Dian Nurmala Ws Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 02 Mei 2016
Refleksi Hari Pendidikan Nasional

Apa yang akan Ki Hajar Dewantara katakan seandainya, ah ayo kita berandai-andai bahwa beliau masih bernapas. Mungkin beliau akan muak, malu dan resah yang bercampur menjadi semacam kegalauan. Bagaimana tidak? Peradaban berkembang, dulu waktu saya masih sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama, menyekip kelas atau istilah kasarnya bolos harus dengan kesepakatan bahwa saya boleh liburan sendiri dengan catatan sakit artinya saya hanya tiduran di rumah dan berlagak pusing. Tapi, sekarang anak-anak lebih canggih dalam urusan tipu menipu. Mereka tetap berangkat, bersalaman meminta uang jajan lantas pergi ke mall atau minimarket keren. Tempat nongkrong terbaik pada jaman saya dihabiskan di kantin sekolah dengan bekal 3000 rupiah perut kenyang kantong senang. Sekarang, anak-anak sekolah dasar bahkan bisa cabut ke tempat paling adem dengan kondisi wifi kencang, inflasi mengubah banyak hal termasuk budaya konsumtif terbaharukan. Cabut dari sekolah untuk menghilangkan penat juga punya gaya baru dengan menganti rok/celana sekolah dengan pakaian santai dan menutupi seragam menggunakan jaket urusan beres. Urusan kelas yang diskip, rasanya sudah jadi agenda rutin dan biasa-biasa saja. Orangtua di rumah toh selalu tahu bahwa anaknya tiba di sekolah.

Apa yang akan Ahamad Dahlan sampaikan, jika beliau masih bernapas. Beliau mungkin akan terus menerus mengulang ilmu yang sama. Ilmu yang barangkali tak terlalu banyak tapi masuk dan mendarah daging. Tapi, mungkin beliau akan batuk-batuk bahkan sebelum memulainya, berada di dekat kanak-kanak dan para pemuda yang harusnya penuh bara semangat memperjuangkan masa depan membuat beliau berdahem pelan batuk kecil penuh makna. Eh atau bukan karena anak-anak itu membuatnya grogi tapi justru asap dari linting demi linting batang rokok. Menghisapnya lalu dengan wajah tanpa dosa menghembuskannya tepat di dekat Ahmad Dahlan. Hingga sesak napasnya. Hei bukankah sekarang tak ada lagi proyek kucing-kucingan. Anak-anak seperti juga kuman dalam iklan lifebouy terlalu cepat berevolusi. Hingga merokok di samping warung sekolah dan dilihat guru jadi semacam kewajaran. Mengingat bahwa gurunya juga ada yang tetap merokok. Bagaimana mungkin orang dewasa mengarahkan untuk tidak merokok pada mereka sementara yang ditampilkan adalah bau nikotin di depan kelas.

Haruskah kita bertanya pada sang maha guru Hasyim Ashari, pendiri nahdatul ulama tentang bagaimana seharusnya pendidikan berlangsung? Ah, sayangnya kita tak akan bisa bertanya langsung padanya. Tapi seandainya beliau ada, barangkali kita akan diajarkan tentang adab sebelum ilmu. Karena, kita jauh dari beradab meski belum juga banyak ilmu. Beliau akan 'takjub' menyaksikan anak-anak dengan amat pandai melakukan semacam penipuan kecil-kecilan. Kepada orangtua yang berjuang setengah mampus menyekolahkan, anak-anak justru asik datang ke sekolah untuk bersenang-senang bertemu gebetan. Jangan tanya urusan belajar. Itu hanya sekedar kewajiban yang harus ditunaikan, tentang mimpi ah mereka mungkin tak pernah tahu kemana melangkah sebab terlalu menyenangkan berkubang dalam keberlimpahan. Tanyakan soal gadget atau game model baru kelas akan penuh kebanggan menjawab tapi jika ditanya soal ujian akan penuh dengan uh kecewa.

Berapa tahun pendidikan berjalan? Berapa banyak yang diubah. Nelson benar pendidikan adalah amunisi paling hebat mengubah masa depan. Sayangnya, disaat yang sama pendidikan justru institusi yang didalamnya penuh dengan kekurangan. Tentang guru yang enggan mengajar dengan hati, mengenai gedung sekolah yang tak lagi utuh, anak-anak yang terpaksa datang atau mari kita merefleksikan diri sejauh apa perubahan kurikulum mengubah anak bangsa? Betapa, kalau kita mau jujur terlalu banyak yang harus ditambal dalam pendidikan seperti penghapusan kesenjangan dan pemerataan pendidikan yang sejauh mata memandang belum juga berjalan setengahnya.
Anak orang kaya selalu bisa menggunakan guru privat, tempat bimbel dan ruang belajar nyaman sementara sisanya hanya bisa bermimpi dapat kelas tambahan dengan guru yang bersahabat. Ah sayangnya tanpa uang segalanya tak berjalan. Iya, saya tahu pintar itu bisa mendapat kesempatan untuk masuk dengan gratisan. Tapi, jangan lupakan bahwa dari sekian yang pintar lebih banyak yang tak beruntung. Terperangkap dalam ketidakmampuan.

Khairil tanjung atau siapapun yang dari keluarga biasa dan kemudian jadi bersinar, itu karena bermental baja. Kalau dikalkulasi berapa sih yang pintar dan bermental baja hanya sedikit. Keterbatasan seringkali melenyapkan kepandaian, karena sekali lagi dunia tidak pernah bekerja dengan cara yang kita mengerti atau setidaknya kita terlalu kompleks dalam berpikir.

Sekeren apapun undang-undang bercerita tentang mencerdaskan anak bangsa, kenyataannya selalu ada grafik statistik angka putus sekolah. Jangan lupakan soal ketakutan orangtua terhadap institusi ini setelah berkali-kali tersandung masalah. Kita masih ingat tentu saja kasus bully, tindakan asusila dan guru yang menghajar anak. Meski pada jaman dahulu mau di cubit sekeras apapun Ari Merdeka Sirait tak akan mampir dengan pasal berlapis.

Jadi, mari kita sama-sama saling genggam. Ini bukan Jepang saat yang pertama ditanya berapa guru yang terus bernapas. Ini Indonesia, tapi mungkin kita hanya perlu mengukuhkan hati bahwa semua orang berhak bersekolah, berhak belajar dan untuk itu tetaplah tegar meski honor guru hanya cukup untuk beli gorengan mau bagaimana lagi, uang bukan ukuran kebahagiaan tapi semoga kita selalu berbahagia meski dengan uang seadanya.

Ps. Maaf nggak jelas,pokoknya selamat hari pendidikan semoga pendidikan Indonesia lebih baik dan merata agar setiap anak bisa sekolah, bisa les, bisa bimbel, bisa tahu kenapa mereka harus belajar.


  • Chairunisa Eka 
    Chairunisa Eka 
    1 tahun yang lalu.
    kayaknya masih ada deh sekarang jarak dari rumah ke sekolah terlalu jauh termasuk penyandang disabilitas bukan lagi 5% bahkan bisa lebih dari itui. Rata-rata (MASIH ADA PERMASALAHAN) tidak ada yang mau menerima ABK di sekolah umum padahal sangsinya lebih besar apalagi sekolah menolak siswa-i ABK

  • Irfan Kriyaku.com
    Irfan Kriyaku.com
    1 tahun yang lalu.
    Kegalauan anak 80an atau 70an nih mbak?