Tanah

Dian Nurmala Ws
Karya Dian Nurmala Ws Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 01 Mei 2016
Tanah

Kelak kau akan pahami betapa dunia bekerja dengan cara yang amat kompleks. Rumus kimia teori biologi bahkan integral matematika tidak serumit kehidupan. Bahwa segalanya menjadi bias hanya karena sudah biasa melihat yang 'salah' lalu kesalahan itu termaafkan.

Esok lusa pelaku video amoral tetap disambut dengan baik di industri hiburan. Cibiran hanya bertahan dalam kurun waktu sepersekian bulan sisanya bagai debu-debu berterbangan. Terhapus. Esok lusa orang-orang tak akan pernah mengingat siapa kamu, tentang jumlah tato atau asap rokok yang lintingnya kau bakar di tengah perempuan dan bocah. Kamu tak pernah diingat kecuali bahwa bau nikotin memuakkan dan tentu saja gambar-gambar aneh akan selalu jadi kenangan buat siapa saja yang dekat denganmu. Selebihnya kamu hanya nama yang tak akan menjelma dalam doa.

Dunia sudah aneh sekali, setiap hari orang-orang bercita-cita punya tayangan edukatif yang kualitas mendidik nomor satu jadi unggulan. Meneriaki acara lain sampah. Tapi, ironis sekali yang berteriak paling lantang adalah yang terus menikmati sajian suci gosip hingga sinetron tak 'mendidik' tersebut. Bahkan dalam perhitungan paling sederhana, jika kau membenci sesuatu berhentilah untuk menjilat ludahmu dengan menikmati kebaikannya.

Dunia tak waras ini menyeret-nyeret kakimu, merusak akal sehatmu, menyerang membabi buta. Menuduh bahwa kebenaran mutlak dan absolut hanya milik mereka yang A dan selain A adalah pendosa dan sumber dosa. Sungguh kau akan menyaksikan betapa memuakkan para pecinta fanatik, mengacung telunjuk sementara disaat bersamaan mereka tahu pasti bahwa manusia bisa khilaf kapanpun dan bagaimanapun setebal apapun keimanan karena bahkan Adam tergoda pada khuldi yang jelas-jelas terlarang.

Dunia ini memuakkan. Tapi, kau dan aku harus bertarung bangun setiap pagi berusah menyambut hari-hari dengan rutinitas basi lalu kemudian kembali lelap tanpa membawa apapun kecuali sejumput keluhan dan segudang makian. Tentang pencapaian yang terlalu tinggi terpaksa dihempas kenyataan. Tentang mimpi yang hanya berbuah iler bukan keindahan. Terakhir dunia barangkali ini teori Darwin yang paling tepat tercipta untuk kompetisi demi kompetisi tak ada lagi waktu untuk menatap nestapa seluruh lebam disekujur tubuh. Siapa perduli? Karena, kau bahkan bukan siapa-siapa. Kau hanya budak dari nafsu, terbelenggu kesombongan dan sekedar tulang berbalut daging hanya segerombol asam amino. Lalu apa yang bisa disombongkan?

Haruskah kita kembali bersama, saling genggam tanpa mendorong dan menyakiti. Meski barangkali kita tak punya pemikiran yang sama tapi tempat kembali kita tetap sama. Tanah.

  • view 89

  • Chairunisa Eka 
    Chairunisa Eka 
    1 tahun yang lalu.
    bagus sekali pemikiran yang dianalogikan dengan kenyataan yang ada sekarang, bahkan kita tidak akan tahu sejauh mana pandangan setiap orang, sendirinya mereasa paling benar dan sesukanya memanfaatkan "celah" kesalahan-kesalahan orang lain. Andaikan ada pesan moral yang bisa di sampaikan tanpa adanya kesenjangan sosial mungkin bisa jadi agar tidak menjadi kebiasaan.
    Eh ngelantur, salam kenal jangan lupa mampir berkunjung ya