After Marriage

Dian Nurmala Ws
Karya Dian Nurmala Ws Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 01 Mei 2016
After Marriage

Ini pukul 01.45 dan seperti kebanyakan hewan nokturnal aku terjaga. Memikirkan banyak hal. Apa saja, termasuk diantaranya adalah bapak.

Bapak, lebih dari separuh hidupnya dihabiskan untuk melakukan banyak hal. Membuat mimpiku yang mustahil dan samar jadi nyata. Bapak, semacam keajaiban dunia ke dua untukku. Pertama tentu saja terus memercayai Tuhan terlepas dari terlalu banyak salah dan dosa. Toh, tanpa Tuhan aku hanya sejenis entitas kosong. Kedua untuk dilahirkan dan dibesarkan oleh dua orang yang bertanggung jawab. Sisanya kurasa terus bernapas dan bisa melihat jadi bagian penting.

Lalu, biasanya tengah malam saat semua lelap. Aku terjaga, memikirkan hari-hari tanpanya. Akhir 22 tahun, seharusnya dijaman modern seperti ini tak perlu lagi pertanyaan klasik semacam pernikahan. Tetapi, mengingat bahwa aku hidup jauh dari peradaban dan magnet kota Jakarta. Usia adalah segalanya kalau di usia sekian aku tetap sendirian maka tetangga akan mulai sibuk berdiskusi. Semacam perundingan tentang gelar terbaik yang akan diberikan.

Aku sih tidak masalah. Toh ini hidupku, urusan orang lain menyukainya atau tidak itu masalah mereka. Tapi, bapak tentu saja akan terus peduli. Meski, menyetujui pernikahan berarti merelakanku mungkin berkelana jauh. Meninggalkannya sendirian.

Lalu, aku berpikir apakah kamu demikian? Tentang orangtuamu, apakah pernah terlintas dibenakmu untuk membuat kesepakatan, bahwa mereka tak akan ditinggalkan, tergantikan dan diabaikan. Maukah kamu membantuku menyudahi semua drama menyedihkan soal menantu dan mertua yang seperti kisah kacangan saling melukai demi sebuah kasih sayang.

Pasanganmu mungkin akan lebih mencintai ibunya. Tetapi, itu wajar bukan mengingat betapa melahirkan adalah sebuah perjuangan dan pertaruhan tentang nyawa. Siapa yang berani bertaruh soal hidup dan mati selain orangtua? Tak apa tak sama rata, selama penempatan posisinya setara. Maksudku, saat ibu mertuamu keliru ia akan meluruskannya dan saat kamu keliru ia akan menegurmu.

Hubungan yang baik tak pernah dibangun dengan kekerasan. Hubungan yang baik dibangun lewat kerjasama, komunikasi dan tentu saja negosiasi. Termasuk soal orangtua. Jika, ia tak bisa membaginya sama rata maka ia bisa membaginya dengan adil sesuai dengan kebutuhan. Karena, adil tak selalu sama bukan?

Ku rasa kamu akan sepakat bahwa tanpa keluarganya barangkali pasanganmu bukan siapa-siapa. Jadi, berhentilah melakukan aksi turun temurun menjadi majikan untuk suami dan sang maha kuasa bagi istri. Setara tak berarti melawan, hanya harus ada kesamaan di sana. Bahwa, istri tak akan membiarkan keluarga suaminya menjadi maling untuk menerima penghasilan yang suami dapatkan. Keluarga pasanganmu, adalah penopang utama. Tongak bersejarah tapi jelas bukan artefak. Seperti apa pasanganmu sekarang, bukankah kamu harus berterimakasih pada keluarga yang membesarkannya dengan baik? Sejenis bentuk penghormatan tertinggi kepada para pahlawan.

Lalu, jika kamu suami. Setelah akad memang sih istri harus lebih mengutamakanmu. Tapi tak ada salahnyakan mengijinkan istrimu pulang ke rumah untuk menjenguk bapak dan ibunya? Membiarkan orangtuanya sendirian akan amat menyedihkan.

Orangtua cendrung sensitif bukan? Maka, ada balasan setimpal untuk berbakti apalahi ditambah berjuta-juta kesabaran dan pengertian.

Kita kelak akan menua juga bukan? Saat kita menua dan lemah bukankah kita ingin diperlakukan sama pentingnya seperti saat kita membesarkan anak-anak kita dulu? Ini bukan semacam balas budi atau jaminan sosial tapi sebentuk terimakasih.

Jadi, maukah kamu membantu menyepakatinya bahwa menikah bukan hanya soal akad dan pembagian tugas atau uang resepsi. Lebih dari itu, menikah adalah menyatukan hati kita. Orangtuamu akan jadi orangtua pasanganmu dan orangtua pasanganmu akan menjadi orangtuamu. Jika, banyak yang tak sama mari dirundingkan tapi jangan biarkan mereka menjadi back up plan. Bukankah kamu bukan siapa-siapa dan apa-apa tanpa orangtuamu?

Kalau tak sempat pulang ayo telepon, pulsa tak sebanding dengan seluruh perjuangan dan pengorbanan. Jangan biarkan mereka terabaikan menanti sendirian di depan beranda rumah di temani daun yang berserakan sementara kamu sibuk sendirian. Mereka bukan rongsokan jangan jadikan mereka seperti barang bekas yang bisa kau perlakukan sembarangan. Berjanjilah, ini kesepakatan!

 

  • view 64