Sukur dan Sabar

Dian Nurmala Ws
Karya Dian Nurmala Ws Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 14 April 2016
Sukur dan Sabar

Kadang, saya juga ingin mati. Mungkin lebih cepat mati lebih baik. Bukan karena putus asa atau semacamnya. Hanya, terus menjadi kompetitor tidak pernah mudah. Bersaing dengan orang-orang culas tak cuma butuh hati yang sekuat baja tapi pikiran yang sejernih mata air pegunungan. Untuk pintar-pintar bersukur dan lebih pintar bersabar. Melihat Tuhan dari sudut paling baik.

Kadang, rutinitas menatap matahari lalu beranjak ke kamar mandi untuk kemudian melakukan segala hal yang sama dengan runtutan persis hanya beda waktu kejadian amat membosankan. Hingga, lelah yang lilahnya rasanya sekedar pemanis. Hidup memaksa untuk lebih jarang tersenyum dan lebih sering mengatupkan rahang. Karena, hei dunia, media dan apa saja lebih tertarik menayangkan prostitusi, kekerasan dan ironi dibandingkan menjunjung tinggi prestasi, cinta dan kasih sayang. Dan menatap matahari itu menyilaukan, sisi baiknya seringkali kalah dengan kehangatan yang terlalu. Tapi, bagaimanapun saya harus terus menengadah. Sesekali, hanya untuk terus bersukur bahwa Tuhan masih menyempatkan mengenggam tangan saya hingga tak terlalu jauh melangkah dan sering-sering tertunduk untuk pahami bahwa ada jutaan yang seharusnya membenci pagi tetapi terus memaksa kaki melangkah.

  • view 93