Skripsi

Dian Nurmala Ws
Karya Dian Nurmala Ws Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 27 Januari 2016
Skripsi

Akhir-akhir ini pertanyaannya bukan ke Tuhan tapi barangkali lebih ke saya. Seberapa antusias saya atau seberapa niat saya. Karena, lagi-lagi ini bukan takdir. Ini nasib. Saya memercayai bahwa di atas seluruh kekuasaan mutlak Tuhan, ada usaha yang harus mendorong pintu-pintu itu terbuka. Bahkan usaha itu harus membuat saya bersimbah darah, terduduk kemudian masalah saya mau berhenti atau berdiri, semua kembali ke saya bukan?

?

Saya nggak pernah ngiri untuk kebahagiaan orang lain. Percayalah, karena saya mau saat saya berbahagia tidak seorangpun hatinya duka. Ini bukan filosofi Caplin dan ini adalah ekpektasi muluk-muluk umat manusia. Barangkali saya satu-satunya. Tapi, bagaimanalagi hati saya mencelos. Usaha tidak pernah mengkhianati hasil adalah omongkosong yang saya coba percayai. Tunggu-tunggu, tambahkan medium lain setelah usaha. Keberuntungan.

?

Orang-orang yang tidak memercayai keberuntungan adalah orang-orang yang peluhnya terbayar. Hei, tapi bagaimana dengan mereka yang bahkan setelah peluhnya mengucur deras tak lantas terbayar lunas. Begitulah kira-kira sebagian besar dari kita hidup, memercayai apa yang sama menurut asumsi khalayak ramai.

?

Tidak, saya nggak akan bilang Bob Sadino misalnya beruntung. Tentu saja sebelum seluruh kemujuran itu menghantam dirinya, Bob si bapak bercelana pendek itu bahkan merasakan betapa pedih kehidupan. Hanya beda antara saya dan Bob barangkali terletak pada kedalaman cara berpikir. Bob punya tekad baja, dibandingkan dengan terus menggerutu atas apa yang orang lain telah selesaikan, Bob terus memilih jatuh dan bangkit. Sekali dua mari kita sebut fase 'istirahat' tapi istirahatnya jauh lebih produktif. Istirahat yang membasuh luka di sekujur tubuh sembari terus memikirkan sesuatu untuk maju bahkan dalam tidur.

?

Maka iri saja tidak pernah cukup. Ya Tuhan betapa saya sering bersikap seolah mendikte dengan mengatasnamakan 'lo enak ya udah bab segitu dosen lo sih care bimbingan sampe matahari tenggelam. Lah gue boro-boro'. Bukan di bagian ini bukan si dosen ?atau apa saja yang salah. Kesalahan terbesar dan harus ditanyakan adalah diri saya 'seberapa peluh itu telah mengucur?' 'seberapa tekad itu membaja?' terakhir nggak ada kesuksesan yang didapat dengan gratis. Pintu itu harus didobrak. Tentu saja, kalau cuma berharap pintu itu terbuka dengan sendirinya adalah ilusi era android.

?

Pintu itu nggak pernah bisa terbuka kalo saya cuma sibuk membandingkan apa yang mereka miliki dan saya tidak. Pun pintu itu akan selalu tertutup kalo saya cuma duduk-duduk. Seluruhnya sekarang ada di tangan Tuhan, tapi hei Tuhan nggak pernah sedikitpun menjanjikan kesulitan sebanyak kemudahan sebagai imbalan. Tuhan bahkan dengan tegas mengatakan 'nasib kamu di tangan kamu. Tuhan tidak mengubah nasib kamu, sebelum kamu merangkak, berjalan atau berlari untuk mengubahnya'.

?

Maka ayo kita buat semacam resolusi yang bagaimanapun kaki kita terserimpet oleh tali-tali keputusasaan. Bagaimanapun leher kita tercekik oleh ketidakmungkinan. Tangan kita seperti diborgol keterbatasan. Telinga kita sakit karena makian. Bahkan, dada kita sesak karena terlalu memaksakan didi berlari. Mari lawan, kerahkan seluruh yang kita bisa meski harus berdarah-darah karena sesuatu yang berharga butuh perjuangan setimpal. Resolusi bahwa apa-apa yang kita mulai, seberapa sering kita terjatuh harus kita tuntaskan. Semacam akad pada Tuhan. Kalau tahun ini kita semua tidak menyelesaikan kuliah ayo buat perjanjian siapapun yang tak di wisuda hingga tahun ini selesai wajib membayar kafarat untuk hasil leha-lehanya. Kafarat yang setimpal, karena membuat orangtua menanti lebih lama dan mengkambing hitamkan keadaan.

?

'Tahun ini ayo selesaikan semuanya. Semuanya. Skripsi. Sidang. Wisuda.'

'Tahun ini ayo berhenti mengeluh tentang apa saja pun kesibukan dosen dan teman yang lebih dahulu sidang'

'Tahun ini fokus saya dan kamu adalah diri sendiri dan kewajiban jadi sarjana.'

  • view 131