Secangkir Cokelat Panas

Dian Purnamasari Siregar
Karya Dian Purnamasari Siregar Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 27 Februari 2016
Secangkir Cokelat Panas

Sore yang basah selepas hujan......

Sejam sudah aku di sini, di kedai kopi sederhana yang biasa ku datangi hanya untuk sekedar menikmati kopi hitam tanpa gula. Tapi hari ini entah apa yang terjadi, kopi hitam tanpa gula yang biasanya selalu menarik perhatianku, hari ini sudah sejam ku diamkan. Bahkan kepulan asap dari cangkir kopi panas yang biasanya selalu menggodaku, kini ia menyerah. Bahkan sampai asapnya menghilang dan kopi itu dingin, aku tetap mendiamkannya.

Apa aku kini tak tertarik lagi dengan kopi hitam tanpa gula?

Mungkinkah ini karena pria itu? Pria berambut gondrong dengan tato disekujur tangan kirinya. Aku bertemunya seminggu lalu di kedai ini. Ia mengaku sebagai pelayan baru di kedai ini. Ia datang dan memberondong banyak pertanyaan mengenai pilihan minuman yang ku pesan. Apa yang salah dari secangkir kopi hitam tanpa gula? pikirku. Tapi baginya itu seperti sebuah kesalahan dan pilihan yang aneh.

Katanya pilihanku menggambarkan kehidupanku. pahit.

Aku benci karena ia men-judge-ku seenaknya, tapi aku juga tak bisa marah. mungkin yang ia katakan memang benar adanya. Beberapa tahun ini, aku memang membenci keadaan hidupku. Tiga tahun lalu Ayah dan Ibu ku bercerai, setelah sebelumnya selama setahun tak ada hari yang mereka lalui tanpa bertengkar. Entah apa yang selalu mereka ributkan, aku tak ingin tahu, bahkan aku tak ingin dengar. Karena setiap kali mereka bertengkar, aku selalu menutup telinga dan pergi menjauh. Kini Ibu sudah punya pacar baru. Aku gak tau harus senang atau sedih, karena aku merasa asing dengan adanya pria baru yang dekat dengan Ibu selain Ayah.
 
Gak hanya itu, kepahitan hidupku semakin bertambah karena dua bulan lalu tunanganku ketahuan selingkuh dengan partner bisnis sekaligus sahabatku sejak kuliah.?
 
Jadi, apa yang dikatakan pria berambut gondrong dan bertato itu benar. Hidupku memang pahit.
 
Tapi dia bilang, padahal aku bisa menambahkan gula ke dalam kopiku agar rasanya tak menjadi terlalu pahit. begitu pun juga hidupku, kalau aku bisa berfikir positif dan mengambil hikmah dari segala kenyataan pahit, mungkin hidup yang aku rasakan jadi tak terlalu pahit. Ketika dia berkata seperti itu aku hanya tersenyum sinis dan memperhatikan penampilannya dari ujung kaki hingga kepala.
 
"Kenapa ngeliatin gue seperti itu?" Katanya
"Omongan lu kaya cewe yang lagi nenangin temennya yang baru putus cinta. Gak sesuai banget sama penampilan lu"Jawabku
"Lho, kenapa? Emang cowo yg penampilannya lebih kaya preman ini gak boleh ngomong gitu? Awalnya juga gue gak percaya sama yang gue omongin, sampai akhirnya kejadian buruk menimpa hidup gue. Gue pernah dipenjara karena narkoba, setelah keluar dari penjara lingkungan sekitar menolak gue. Gue luntang - lantung di jalan gak jelas. Sampai akhirnya gue ketemu Ibu Kadek, pemilik salah satu yayasan peduli anak Di Bali. Dia mau terima gue tanpa ada perasaan takut. Dia percaya bahwa setiap orang punya kesempatan untuk memperbaiki diri. Berkat beliau gue bisa ngerasaain punya keluarga, bisa merasakan seperti apa bahagianya punya Ibu. Ya, karena dari kecil gue gak pernah tau siapa Ibu gue. Gak hanya itu, berkat beliau gue bisa kenal sama adik - adik kecil yang saat ini gue anggep seperti adik gue sendiri. Dan gue mau berubah lebih baik demi mereka. Kalau aja gue gak pernah dipenjara dan di tolak lingkungan, mungkin gue gak akan menemui takdir gue sekarang"
 
"Jadi gue percaya, sepahit apapun hidup lu saat ini, percayalah pasti akan ada takdir baik yang sedang menunggumu di depan sana. Berfikir positif saja. Ibu dan Ayah lu bercerai mungkin karena Tuhan menakdirkan mereka berjodoh hanya sampai situ. Kita gak pernah tahu bukan? Daripada terus dipaksa akan membuat mereka berdua sama - sama sakit dan tentunya mereka juga gak akan tega membiarkan lu hidup dengan menyaksikan pertengkaran dan mendengar suara teriakan marah mereka terus. Untuk tunangan dan sahabat lu, anggap saja Tuhan sedang mencoba membuka mata lu. Bahwa selama ini yang berada di dekat lu bukan orang baik."
 
Siapa dia Tuhan? Kenapa dia tiba - tiba datang dan bisa berbicara seperti itu? Tanpa sadar air mataku menetes.
 
"Ah gini aja, gimana kalau pesanan lu gue ganti sama secangkir coklat panas"
"Kenapa harus coklat panas?" Tanya ku
"Gak ada apa - apa sih, cuma pernah baca artikel aja, katanya coklat bisa meningkatkan hormon endorphin yang bikin orang bahagia. Trus seenggaknya coklat panas lebih manis, hehehe. Ohhh ayolaaahhh, yang sudah pahit gausah lu tambah pahit. Tuhan menciptakan berjuta banyak rasa yang wajib kita coba, lalu kenapa kita harus merasa puas dengan merasakan satu rasa saja? Wait, gue bikinin buat lu"
Dia pun pergi dan 5 menit kemudian kembali dengan secangkir coklat panas untukku. Dan kemudian ia pergi lagi sambil memberikan senyumnya sambil membisikan kata "semangat".
 
Kini aku di sini lagi, tempat di mana pertama kali aku bertemu dengannya. Jika benar dia pelayan, harusnya saat ini dia ada. Tapi aku tak melihatnya sejak tadi. Kopi hitam tanpa gula di cangkirku makin tak menggoda, mungkin ini saatnya aku mencoba rasa baru selain pahit.?
 
"Mas" aku memanggil seorang pelayan dan ia segera datang menghampiriku.
"Ya, ada yang bisa dibantu, Mba?
"Saya mau pesan coklat panas dong"
"Oke, tunggu sebentar ya, Mba"?
"Oh Mas, Mas" baru beberapa pelayan itu melangkah, aku sudah memanggilnya kembali.
"Ya, Mba, ada yang lain?"
"Mas, kenal sama pelayan yang berambut gondrong trus tatoan di seluruh tangan kirinya gak?"
"Sepertinya di sini gak ada pelayan yang gondrong dan tatoan deh, Mba."
"Yakin Mas?"
"Iya Mba saya yakin, kebetulan saya kerja di sini dari pertama kali tempat ini buka"
"Oh, oke, Mas, makasih ya" pelayan itu pun berbalik dan berjalan pergi untuk segera membuatkan pesananku.
 
Dia bukan pelayan di sini? Lalu siapakah dia? Siapa pun dia, terima kasih pernah datang dan membuka pikiran dan hatiku yang sempit dalam memaknai hidup. Berkat kamu aku bisa merasakan rasa lain selain pahit, dan aku siap merasakan rasa lain dari berjuta rasa yang Tuhan ciptakan.
 

  • view 185