Dinding Putih

Dian Purnamasari Siregar
Karya Dian Purnamasari Siregar Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 05 Desember 2016
Dinding Putih

Sepanjang tahun seumur hidupku melihat wanita itu bertumbuh

Sedariku berdiri hari - hariku dipenuhi dengan mengawasi segala gerak - geriknya

Gadis kecil pengkhayal itu kini telah tumbuh dewasa. Segala hal tentang masa kecilnya kini telah ia tanggalkan

Rambutnya saat ia kecil tak pernah panjang, kini semakin ia dewasa telah tumbuh terurai sampai ke bahu. 

Beberapa rok manis dengan gambar karakter kartun favorit pemberian Ibunya, kini telah berpindah tangan menjadi milik anak saudara - saudaranya.

Gadis pengkhayal itu kini benar - benar telah tumbuh dewasa.

Kenapa aku selalu menyebutnya gadis pengkhayal? Ya, karena seumur hidupku, yang aku ingat dari gadis itu adalah ia suka mengkhayal.

Aku ingat betapa dulu ia sangat menginginkan rambut panjang dan lurus seperti anak perempuan lain. Tapi ia tidak punya.

Ia tidak ditakdirkan mempunyai rambut lurus dan panjang terurai, tapi ia tak hilang akal.

Aku ingat setiap pulang sekolah ia selalu mengambil kain gendong kecil berwarna merah milik Ibunya, Ia kenakan di atas kepala dan ia tahan dengan sebuah bando. Lalu ia berlenggak - lenggok di depan cermin sambil memainkan kain tersebut seperti layaknya orang yang sedang memainkan rambut panjangnya. Ya, ia berkhayal seolah - olah rambutnya panjang dengan menggunakan sebuah kain gendong. Aku tertawa melihat tingkahnya.

Aku ingat ketika dia berkhayal menjadi seorang penyanyi, ia jadikan sisir sebagai mic dan kemudian ia menaiki kasur seolah - olah sedang bernyanyi dalam sebuah acara konser. Lagi - lagi aku tertawa.

Semakin dewasa penampilannya berubah, tapi satu yang tak hilang dalam dirinya. Pengkhayal.

Semakin dewasa ketika ia mulai mengenal cinta, tingkat khayalannya semakin tinggi. Aku sering mendengar ia berbicara sendiri, merangkai sebuah dialog - dialog dan adegan yang ia lakukan bersama pria yang kini ada di hatinya. Adegan yang mungkin tidak bisa ia wujudkan di dunia nyata.

Aku ingat, ia pernah berkhayal ia bisa jalan berdua dengan pria itu di Sabtu siang yang mendung. Makan ayam goreng pedas di sebuah tenda kecil, kata si pria itu ayam di sana enak. Maka ia menurut. Di sela - sela waktu makan mereka banyak bercerita, bahkan kali ini si pria mulai membuka diri dengan bercerita tentang hubungannya yang saat ini sudah kandas. Ah.....aku tahu bagaimana penasarannya ia dengan kisah cinta si pria itu, tapi ia tidak bisa membuat pria itu bercerita. Dalam dunia nyata ia belum bisa menjadi seseorang yang membuat pria itu nyaman dan percaya untuk mulai membuka dirinya lebih jauh.

Tapi dalam khayalannya, semua berbeda, si pria itu dengan lancar mulai bercerita tentang kisahnya dulu yang kini kandas. Aku hafal betul bagaimana ekspresi sigapnya saat mendengar kisah si pria itu. Tanpa ragu ia menepuk pundak si pria itu, tanda empatinya.  Dalam khayalnya, ia juga mulai terbuka dengan si pria itu, segala malu yang ia rasakan dalam dunia nyata seolah hilang begitu saja. Ia mulai bercerita kepada pria itu, tentang kisah cintanya yang tidak pernah berakhir manis. Tentang kisah cintanya yang tak pernah menjadi satu, tentang kisah cintanya yang selalu berakhir dengan harapan kosong, tentang cintanya yang selalu berhasil direbut orang lain, dan tentang kisah cintanya yang tak pernah berbalas. 

Dalam dunia nyata ia malu mengakui bahwa ia nihil pengalaman akan cinta

Dalam dunia nyata ia malu mengakui bahwa ia tidak tahu bagaimana caranya menjalin kasih

Dalam dunia nyata ia malu mengakui bahwa ia tidak tahu caranya meredam pertengkaran yang selalu menjadi bumbu dalam kisah asmara

Tapi di dunia khayalnya, ia tak ragu untuk mengakui.

Lalu kau tahu? apa yang di khayalkan wanita ini ketika ia berani bercerita? si pria menatapnya penuh kasih, sedikit prihatin, namun tidak merendahkan. Lalu kemudian si pria itu memeluknya.

Ahhh......sungguh itu hanya terjadi di dunia khayal wanita itu saja.

Aku gemas mendengarnya, ingin ku teriak di telinganya, bahwa ia hidup dalam dunia nyata, kenapa tak kau wujudkan segala adegan dan dialog yang ia susun dalam dunia khayal ke dalam dunia nyata? Sulitkah? ahhh aku tak tahu tentang problematika manusia, aku tak tahu bahwa jalan berdua, makan berdua, dan bercerita tentang diri mereka masing - masing bisa menjadi sesulit itu.

Dalam dunia khayalnya, setelah makan bersama mereka menyusuri jalanan ibu kota dan mereka menemukan sebuah posko donor darah. Sungguh di luar nalar khayalan wanita ini, kenapa terpikirkan bertemu dengan sebuah posko donor darah?

Ternyata ia dan si pria ini memiliki ketakutan yang sama dengan jarum suntik, dan seumur hidup mereka belum pernah mendonorkan darah.

Dalam dunia khayal wanita itu, ia berkata "Seumur hidup sudah pernah berdonor darah?"

"Belum" jawab pria itu

"Mau melakukan hal yang belum pernah kita lakuin seumur hidup kita ga?"

"Apa?"

"Donor darah. itu!" Wanita pengkhayal itu menunjuk sebuah posko donor darah yang berada di sebrang jalan. "Kita coba lawan ketakutan kita bareng - bareng. Kalo dipikir - pikir konyol juga, hanya karena takut sama jarum suntik, kita jadi gak pernah melakukan kebaikan kaya donor darah gitu."

"Lu yakin?"

"Iya gue yakin, asal lu yakin"

Dalam khayalan wanita itu, mereka pun akhirnya melakukan donor darah berdua. Kemudian wanita itu tersenyum sendiri, merasa berhasil telah menciptakan sejarah dalam hidup si pria itu. Yaitu untuk pertama kalinya berani mendonorkan darah, melawan ketakutan bersama, dan yang terpenting hal pertama ini pria itu lakukan bersamanya. Berharap kejadian ini tidak terlupakan oleh si pria itu.

Ah itu manis! kataku

Tapi kemudian senyum wanita itu menghilang, berganti jadi sendu dan tangis. Seketika ia merebahkan dirinya di kasur dan memukuli bantal sambil berkata

"Tapi gimana caranya itu jadi nyataaaa??"

Aku sedih, semakin dewasa khayalannya melukai dirinya sendiri. Khayalan yang sulit ia realisasikan dalam dunia nyata. Sesulit dan sesakit itukah bertumbuh menjadi dewasa? hingga khayalanmu yang semakin melambung tinggi itu, justru melukai dirimu? Aku rindu khayalan ringan penuh tawa saat ia kecil dulu, aku selalu tertawa melihat tingkahnya. Tak pernah setelahnya ia menangis.

Aku ingin memeluk wanita itu, tapi aku tak punya tangan. Aku juga keras dan dingin. Tak bisa aku meringankan bebannya.

Wahai wanita pengkhayal yang ku kenal sejak kecil, cerialah dan jangan biarkan khayalanmu yang manis berbalik melukaimu. Wujudkan semua khayalanmu secara perlahan ke dalam dunia nyata. Menjadi dewasa mungkin tidak mudah, tapi setiap orang dewasa pasti bertumbuh menjadi kuat.

 

  • view 257