Nasi Goreng Spesial

Dian Purnamasari Siregar
Karya Dian Purnamasari Siregar Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 29 November 2016
Nasi Goreng Spesial

Jangan rebut gelarku sebagai nasi goreng spesial! hanya aku yang pantas menyandang kata spesial di belakang nama.

Ah, lihat wanita yang baru saja masuk ke dalam tenda nasi goreng bersama seorang pria itu.

Memesan aku sebagai menu makan malamnya, tapi tak sedikit pun memandangku spesial.

Tak ada tatapan berbinar di matanya saat aku dihidangkan di hadapannya, aku tak diacuhkan oleh wanita itu.

Padahal Si Abang nasi goreng ini, sudah memberikanku gelar 'spesial' di belakang nama.

Agar setiap orang yang memasuki tenda ini, selalu terpesona denganku.

Dimasak dengan bumbu warisan turun temurun Si Abang nasi goreng yang sudah tidak diragukan lagi kelezatannya, ditambah dengan sayuran sawi hijau dan kol yang segar.

Belum lagi toping sosis dan ayam yang selalu menggoda para pelanggan, bahkan tak heran mereka minta diperbanyak untuk dua toping ini.

Aku juga selalu disertai dengan telur yang bisa dipesan berdasarkan keinginan pengunjung, diceplok, didadar, atau diorak - arik.

Dengan berbagai kelebihan itu, tentu sudah pantaskan aku dikatakan spesial?

Lalu kenapa wanita ini tidak melihatku spesial? sepertinya ada yang salah dengan mata si wanita itu.

Sepanjang ia dan teman prianya memasuki tenda ini, yang ia pandangi hanya si pria itu. Matanya lebih berbinar - binar saat melihat pria itu berbicara tentang film favoritnya, tentang tempat - tempat makan yang ia suka, tentang lagu yang ia suka, tentang keluarganya, atau tentang hal - hal yang ingin ia buat di masa depan.

Mata si wanita itu fokus memandang mata si pria itu.

Sesekali matanya menelanjangi setiap detail yang ada pada si pria itu. Potongan rambutnya yang tersisir rapi, dengan bagian depan yang selalu ia berikan pomade agar tidak mudah kusut. Tidak seperti pria lain yang selalu berlebihan ketika memberikan jel rambut yang satu itu, tapi pria ini memakai seperlunya saja dan tak membuat rambutnya jadi terlihat lepek.

Wanita itu hafal bagaimana cara pria itu tertawa, selalu ada guratan halus pada ujung mata dan bagian bawah mata si pria itu yang membuatnya tampak seperti bingkai pada mata.

Ah, lihat, kini mata wanita itu sedang berbinar memandangi bagaimana cara pria itu makan, sambil sesekali mengomentari tentang diriku yang kalah spesial dari dia ini. Pria itu bilang aku terlalu pedas, cabainya kebanyakan. Lalu wanita itu dengan sukarela menuangkan minuman ke dalam gelas untuk si pria itu.

Jelas aku yang sudah memiliki gelar 'spesial' ini kalah dari pria itu, wanita itu tak memandang aku spesial. Yang spesial di mata wanita itu hanyalah pria yang kini duduk di sampingnya.

Hei Bung, bagaimana rasanya sudah berhasil menggeser posisiku? bahagiakah kau dianggap spesial oleh seorang wanita? tapi sepertinya kau tidak sadar ya? bodoh kau!

Dianggap spesial itu membahagiakan, Bung! Aku pun selalu senang jika ada orang yang menatapku berbinar - binar seperti itu. Sadarlah wanita di sampingmu itu menganggapmu lebih! Wanita itu hanya tak bisa berkata banyak seperti wanita lain, tapi coba kau tatap matanya lebih dalam, ada cinta untukmu di sana.

Baru kali ini dalam sejarah aku kalah spesial. Kau memang lebih spesial, lebih dari sekedar spesial.

Terutama untuk wanita itu.

 

 

 

 

  • view 174