Kisah Gadis Pengingat

Dian Purnamasari Siregar
Karya Dian Purnamasari Siregar Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 08 September 2016
Kisah Gadis Pengingat

Langit basah sisa hujan semalam......

Pagi itu di bulan Oktober, untuk pertama kalinya ia menyapa sambil mengulurkan tangannya

"Dani" katamu menyebutkan nama, sebuah nama yang biasa dan sudah banyak orang yang punya, pikirku.

Namun lambat laun, seseorang dengan nama yang biasa itu, mampu memercikan rasa yang tak biasa di hati.

Ah, kadang aku sebal dengan langit basah di pagi hari, karena entah kekuatan magis apa yang dipunya. Ia mampu menelusuri kisah lama untuk ditarik kembali ke masa sekarang.

Seperti hari ini, ingatanku ditarik kembali untuk mengingat bagaimana pertama kali kita berbincang, berbasa - basi sebagai orang yang baru pertama kali kenal. Aku ingat, saat itu pagi hari disebuah ruangan serbaguna yang ada di kantor ini, aku baru saja selesai sholat dhuha dan kamu masuk sambil membawa secangkir kopi. Wangi kopi dan bau asap rokok yang baru saja kamu hirup bercampur menjadi satu mengisi sudut ruangan itu.

Aku ingat caramu mengaduk kopi, perlahan dan tenang. Aku suka menghirup wanginya dan sesekali mataku ikut berputar ke mana arah sendok itu kau aduk.

Aku ingat kamu tidak suka wangi minyak kayu putih dan aku sedikit kecewa karena kita berbeda. Itu adalah salah satu wangi yang aku suka.

Aku ingat betapa tenangnya kamu saat yang lain merasa panik karena baru saja dibebani pekerjaan tambahan. Ketika melihatmu tenang, aku berusaha untuk ikut tenang meski hatiku juga tetap merasa khawatir seperti yang lain.

Aku ingat bagaimana jemarimu menari di atas keybord saat sedang serius menyelesaikan pekerjaanmu. Aku suka mendengarkan irama yang dihasilakannya, dan sesekali ujung mataku mengikuti setiap gerakan tanganmu, hingga akhirnya mataku berhenti saat melihat wajahmu yang disinari cahaya redup dari layar laptop. Begitu serius dan aku suka menikmatinya.

Aku ingat bagaimana ekspresimu saat bergidik ngeri begitu membayangkan ujung jarum suntik yang tajam menusuk tanganmu. Satu hal yang sama - sama kita takutkan. Dan aku pun ikut bergidik ngeri bersamamu, meski akhirnya selalu memecahkan tawa ketika sadar kita begitu konyol.

Aku ingat caramu saat mendengarkan musik, begitu asyik. Meski aku tak tahu dan tidak mengerti musik apa yang kau dengarkan. Sesekali ketika mulai masuk dalam irama musik yang kau dengarkan, tak segan tanganmu mengayun di udara dan meniru gerakan seolah - olah sedang menabuh drum dan menciptakan ketukan pada musikmu. Ya, kau seorang penabuh drum yang mungkin sudah lama tidak lagi menabuh drum. Maka, meski setiap kali kau melakukan itu meja yang kita gunakan untuk kerja ini bergoyang, aku membiarkanmu. Membiarkanmu bermain dengan imajinasi, dengan kegiatan yang mungkin sudah lama kau rindukan. Dan aku, seperti biasa hanya menikmati setiap gerakan yang kau lakukan.

Aku ingat seperti apa usahamu untuk tetap masuk kantor meski sedang sakit, ketika yang lain mungkin lebih memilih berbaring di kasur hangat mereka di rumah. Di balik bentuk tubuhmu yang kecil, aku tahu kamu seorang pria yang kuat.

Ah.... bagaimana aku bisa begitu mengingat hal - hal kecil seperti ini? Kadang aku benci, mengapa wanita bisa dengan mudah mengingat hal - hal kecil tentang seseorang yang menarik perhatiannya. Karena kini, saat langit pagi masih basah oleh hujan semalam, aku ingat, aku harus ingat.

Bahwa ada wanita yang letaknya jauh ribuan kilometer darimu sedang berjuang merintis masa depannya. Dan kamu, sedang menunggunya dengan setia di sini.

Dan aku, kembali dipaksa untuk melupakan setelah berhasil mengingat semua hal - hal kecil tentang kamu. Hah....bisakah semudah itu? Otakku terlalu sombong untuk mengingat segala hal tentang kamu, aku lupa, otakku tidak terperogram dengan mudah untuk melupakan.

Jika wanita bisa dengan mudah mengingat semua hal kecil, lalu bagaimana caranya wanita bisa dengan mudah melupakan?

Dilihat 174