Tentang Lenyapnya Kepulauan Indonesia

Diane Yuyie
Karya Diane Yuyie Kategori Project
dipublikasikan 13 Agustus 2016
Mimpi Mimpi yang tak Mengerti

Mimpi Mimpi yang tak Mengerti


Cerita tentang mimpi mimpi yang datang silih berganti

Kategori Fiksi Umum

148 Hak Cipta Terlindungi
Tentang Lenyapnya Kepulauan Indonesia

Siang terik menyengat kulitku yang kecoklatan. Rambut ikalku yang terikat seperti ekor kuda bergelayut manja diatas kepalaku. Masih belum lelah aku berkeliling keluar masuk pertokoan di Malioboro. Melihat deretan tas tas cantik yang berkilau seolah olah melambai lambai kearahku, juga sepatu sepatu stiletto cantik yang dengan rapi berjajar di etalase. "Seandainya aku pemilik toko itu", pikirku.

Ada  seorang ibu ibu berpakaian compang camping duduk di salah satu sudut pertokoan berkata "Jangan ikuti Dia!", teriaknya parau, ketika tiba tiba ada seorang pria berjas putih panjang menggandeng tanganku.

"Ikut aku kalau kau tak ingin mati." Katanya kemudian sambil menyuruhku berjalan didepannya. Ia memintaku memasuki satu gedung kaca yang tiba tiba saja muncul dihadapanku. Gedung yang tingginya entah berapa ribu meter itu mengejutkanku. Aku memasukinya pintu otomatisnya yang setinggi 4 meter itu. Menapaki lantainya yang berkilau seperti kaca.

"Ikuti aku dan jangan membantah. " Katanya.

Ingjn rasanya aku pergi saja keluar dari gedung itu, namun rasa penasaranku lebih kuat. Aku mengikutinya.

Aku tiba di ruangan yang luas, seperti sedang berasa di stasiun luar angkasa. Layar besar berada di dinding. Mungkin ukurannya sekitar 6x 3 meter. Laki laki dihadapanku pun akhirnya memperkenalkan diri.

"Aku Profesor Agasa." 

Aku hampir tertawa mendengar ia menyebutkan namanya yang sama persis dengan tokoh profesor di film detektif conan. Namun yang ini terlihat lebih muda dan ramping, juga berwibawa. 

"Sebenarnya apa yang membuat profesor membawaku kesini?" Tanyaku kemudian.

"Coba kau lihat peta dunia di layar itu. Apa yang berbeda?" 

Aku memandangi peta itu. Benua Australia mendekati daratan Cina. 

"Indonesia akan segera lenyap dari dunia".  Katanya kemudian. Aku hanya terdiam, tak mampu berkata kata.

"Kau lihat gambar selanjutnya."  Profesor Agasa menjentikkan jarinya, lalu layar pun berganti slide dengan sendirinya?

Aku melihat bumi yang memerah. Iya itu bumi, bukan planet Mars. 

"Dalam beberapa hari, atau mungkin lebih cepat. Indonesia akan tenggelam. Terjadi gempa besar yang membawa lempeng benua Australia mendekati daratan Cina. Lalu dalam beberapa minggu bumi akan memanas, memerah seperti gambar itu, saat itu magma akan berusaha keluar dari semua celah bumi. Bumi lelah! Bumi sudah renta. Lalu bumm. Hancurlah bumi ini."

Aku hampir menangis mendengar perkataannya. Profesor pasti berbohong. 

"Dengar, jangan sok tahu dengan apa yang akan terjadi dengan bumi ini." Aku mulai marah.

"Tolong dengarkan dulu penjelasanku, hanya kamu yang bisa melakukan ini. Sebuah misi untuk membawa orang orang bumi ke planet baru yang kondisinya sama persis seperti bumi. Namun hanya pada saat yang tepat kamu bisa melakukan pemindahan, yakni sesaat sebelum bumi ini meledak."

Aku masih tak mengerti, dan aku tahu pasti sepertinya semua ini hanya mimpi.

"Ayo siapa saja, tolong bangunkan aku." Teriakku dalam hati. 

"Dengar, kamu sedang tidak bermimpi Roro." 

"Bagaimana dia bisa tahu apa yang kupikirkan?" Tanyaku dalam hati.

"Bahkan setiap ide yang ada di dalam otakmu hingga saat ini aku tahu. Namun aku tak lagi dapat melihat masa depan setelah bumi ini meledak."

"Lihat planet baru ini", ia kembali menjentikkan jari sembari menghela nafas panjang. "Planet ini berada sejauh 500 juta cahaya dari bumi, kau tak perlu memikirkan seberapa jauh itu. Peneliti penelitiku berhasil mencari planet yang serupa dengan bumi dan menemukan koordinat yang tepat agar kau bisa mengaktifkan alat yang bisa membawa semua orang bumi untuk melalui Big Worm itu."

"Dimana koordinatnya?" Tanyaku kemudian.

"Maaf aku belum bisa memberitahumu hingga kamu bersedia melakukan misi ini bersamaku."

"Bersamamu?" Tanyaku ragu.

"Pertama, hanya aku yang tahu kode untuk mengaktifkan alat itu. Kedua kau tak mungkin pergi ke koordinat itu dengan berjalan kaki." 

Sudah cukup dengan semua omong kosong ini. Aku segera berlari menuju keluar gedung. Meninggalkan Profesor Agasa yang terdiam lelah.

Di luar gedung langit bergemuruh, angin bergerak kencang menggugurkan dedaunan. Satu persatu gedung bergerak, tanah dibawah kakiku pun bergerak. Aku kembali berlari masuk menemui Profesor yang sudah tidak lagi berada dalam jas lab nya. Ia memakai baju seperti astronot. 

"Kau ikut aku sekarang! Atau semua terlambat. " Katanya

Lalu aku pun terbangun, menggapaigapaikan tanganku ke udara. Terbangun disisi dvd film " The Day After Tomorrow" yang mencuat dari laptopku. 

Not yet finished... it's a dream. To be continued. Someday... 

  • view 147