Toko Online di Instagram

Diane Yuyie
Karya Diane Yuyie Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 12 Agustus 2016
Toko Online di Instagram

Sebagai pendatang baru di dunia toko online instagram aku sempat terkesima, heran, bingung, juga excited. Terkesima dengan foto foto produk yang keren keren, paling sering buka buka instagramnya toko yang jual barang barang shabby chic, adem di mata, juga instagramnya alas alas foto yang menggoda. Heran karena banyak sekali toko online yang bisa punya follower hingga ratusan ribu. Bingung mau mulai darimana buat promosi. Terlebih lagi excited karena hal baru yang jauh dari semua kegiatanku sebelumnya. Masih ingat waktu pertama kali antri di salah satu ekspedisi pengiriman untuk mengirim paket ke pembeli. Luar biasa senang, juga luar biasa merasa kesepian. Seperti seolah telah meninggalkan semua kehidupanku sebelumnya. Memilih untuk satu hal yang membuatku bisa berada dekat dengan anak anak.

Pesona Instagram mengusikku. Tak mau kalah dengan akun akun yang sudah lebih dulu membuat foto foto cantik. Aku mencoba membuat foto produk yang kujual, dengan kemampuan memotretku yang nol besar. Mengandalkan autofocus, dan mencoba samasekali tidak memakai cahaya blitz kamera. Semua demi mendapatkan foto produk yang jujur. Baik dari warna juga kualitas. Tapi tetap saja masih ada yang nanya, "bisa lihat real pic nya?" Harus ekstra sabar jika ditanya seperti ini. Alhasil aku nyerah juga, lama lama males foto foto produk lagi. Pakai foto dari suplier aja yang udah cakep. Huffft

Dibalik toko toko online instagram yang heboh dengan grup grup SFS (Shoutout for Shoutout), LFL (Like for Like), FFF (Follow for Follow) saat pertama kali mengenal instagram, rasanya masih banyak yang tak aku pahami. Hingga suatu hari aku tercebur kedalam satu grup yang konsisten mengajari pendatang baru di dunia perinstagraman seperti aku. Di grup inilah aku mulai satu persatu memahami bahasanya owner owner toko toko online di instagram. Meskipun mungkin banyak yang tidak mempunyai toko fisik, intip punya intip, semangat para owner owner muda ini luar biasa. Meskipun entah apakah mereka jual produk sendiri langsung dikirim ke pembeli atau melalui dropship (menjualkan produk supplier, lalu produk dikirimkan ke pembeli atas namanya). Hal baru yang dulu membuatku tertarik, hingga mempelajarinya berhari hari sebelum memutuskan mencoba membeli barang secara online untuk pertama kalinya. Mempelajari bagaimana seorang penjual menawarkan barang dagangannya, menyapa pembeli dengan ramah, membuat pembeli sabar menunggu ketika penjual mencari tahu ongkos kirim, menunggu totalan dan nomer rekening, juga respon responnya setelah aku mentransfer uang kepada penjual.

Ada aturan tidak tertulis di dunia toko online. Jujur, saling menghormati, tidak asal kabur kalau sudah bertanya tanya panjang lebar, tidak ada kabar lagi setelah diberi totalan, awalnya emosi, namun lama kelamaan menjadi biasa dan terbiasa. Kuncinya iklaskan saja, akan ada rejeki lainnya. Kalau di instagram sendiri. Banyak sekali hal yang menurutku baru, mungkin untuk yang sudah expert nanti bisa meluruskan kalau ada yang salah. Mulai dari cara menghindari akun instagram kena banned, salah satunya dengan tidak memakai tanda hashtag (#) yang berlebihan, hingga saling like dan saling follow antar akun yang luar biasa banyak responnya. Aku memulai dengan SFS (shoutout for shoutout) ini yang paling mudah dari event lain, cukup setor nama id akun kita dengan beberapa kata kata promo yang menjelaskan isi akun, setelah terkumpul, lalu kita posting di akun masing masing. Setelah itu biarkan partikel partikel keberuntungan dari Allah yang bekerja membawakan rejeki.

Selanjutnya ada event "Big FFF" (follow for follow) yang kuotanya mencapai 250 akun, tak terbayangkan seberapa keriting jempol untuk memfollow 249 akun lainnya. Tapi lumayan, follower jadi bertambah 200-an. Lelah iya dan lumayan menghabiskan waktu. Namun SFS dan FFF ini kurang begitu menarik pembeli.  Lalu langkah selanjutnya LFL (like for like), sekalinya ikut langsung yang BIG jadi ya gempor lagi jempol. Ada 110 -an akun yang ikut dan kita harus me-like 3 produk di masing masing akun, jadi total 330-an kali menggerakkan jempol, belum lagi untuk scroll dan menyentuh panah back. Luar biasa menghabiskan waktu dan tenaga, juga pikiran sudah sampai mana me like nya ya? Belum lagi kalau sudah mepet deadline nya, ada admin grup yang tegas memberi denda untuk like 3 kali lipat di semua akun, jadi 9 like jika terlambat. Ada juga yang lumayan baik hati menambahkan 3 like saja. Disini prinsipnya tidak ada paksaan untuk gabung, namun harus konsisten dengan aturan yang dibuat, tidak main asal menghilang jika masih ada tanggungan like atau follow. Supaya tidak disebut "Anak Hilang". Wow, aku terhenyak dan tersentak dengan istilah istilah ini. Awas di black list, ini yang susah. Kalau sudah kena blacklist, mau balik ikutan event event bakalan dicuekin. Semua bakal sounding di grup masing masing kalau si A atau si B ini ngga konsisten. Kata anak jaman sekarang 'Afgan' setelah itu jadi baper. Haha. Asal jangan sering sering ikut event event ini, bisa terbengkalai semua kerjaan rumah.

Kalau yang ada efek ke penjualan biasanya kerokan atau sering juga disebut keroyokan. Serem amat ya? Entah darimana bahasa ini, mungkin karena saling mempromosikan akun bersama sama dengan serentak saling mengiklankan produk dengan gambar terkeren, jadi disebut keroyokan lalu disingkat menjadi kerokan. Kalau di keroyokan, nanti kita diminta setor foto produk dan caption (kata kata iklan disertai dengan id akun instagram), kuota peserta biasanya dibatasi tidak mencapai 30-an. Lalu setelah terkumpul, nanti kita mengiklankan semua produk anggota yang ikutan event dalam batadan waktu 3 hingga 6 jam. Setelah itu, tunggu saja partikel partikel lain bekerja. Menyenangkan dan melelahkan. Namun jangan sampai kita terbuai dengan kompetisi untuk memperbanyak follower. Let it flow saja. 

Cukup sekian curhatnya, kapan kapan lagi curhat yang lain 

Depok, 12 Agustus 2016

Diane Yuyie

Ketika sedang bosan buka instagram dan lelah dengan notifikasi yang ratusan ????

 

  • view 215