Chapter 2 Bunga untuk Nada

Diane Yuyie
Karya Diane Yuyie Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 27 Mei 2016
Kisah Sang Edelweis dan Mentari yang Menyinarinya

Kisah Sang Edelweis dan Mentari yang Menyinarinya


Sebuah novel yang sudah lama sekali ingin dikerjakan. Bismillah semoga bisa selesai. ^_^

Kategori Acak

306 Hak Cipta Terlindungi
Chapter 2 Bunga untuk Nada

Sudah hampir dua minggu sejak pertemuan pertamaku dengan Nada, aku samasekali belum menemuinya. Aku masih disibukkan dengan urusan pendaftaran mahasiswa baru. Ya, aku mau mengambil jurusan komunikasi di kampus lain di Jogja. Beberapa kali aku dan Nada berbincang hanya lewat telepon. Kadang aku yang meneleponnya, kadang Nada yang meneleponku. Namun hatiku yang merindukan untuk bertemu dengannya mendesak otakku untuk berpikir lebih keras. "Lakukan sesuatu." Teriak hati kepada otakku.

Otakku buntu, aku bukan sosok romantis yang tahu bagaimana membuat seorang wanita jatuh hati. Akhirnya jawaban Nindi diujung telepon menyadarkan otakku.

"Kasih aja bunga." Jawab Nindi.

"Bunga apa dong?"

"Aduh gitu aja masih perlu nanya. Terserahlah." Jawab Nindi kesal. Mungkin karena dia ditanya tentang sesuatu yang ngga penting. Tapi menurutku ini penting.

" Help me please!" Kataku.

"Kasih bunga bank aja. Haha."

Oke, ketahuan banget kalau Nindi ini materialistis haha. Apa iya aku harus memberinya bunga bank? Itu pasti cuma akal akalannya Nindi. Seketika aroma wangi bunga anggrek Mbak Ira yang sedang mekar di taman membuatku memutuskan untuk membawa salah satunya untuk Nada. Setidaknya aku memiliki alasan untuk bertemu dengannya. Nada pasti akan sangat menyukainya.

***

Nada pernah mengatakan padaku kalau dia pulang sekolah sekitar jam 2 siang, jadi aku menunggunya di depan sekolah 5 menit sebelum bel berbunyi. Menunggu itu membosankan, meskipun hanya 5 menit. Sesaat setelah bel sekolah berbunyi, anak anak mulai berhamburan keluar sekolah. Ada yang berjalan kaki, ada yang menaiki sepeda motor, ada pula yang menaiki mobil. Mungkin saja itu mobil milik ayahnya.

Dari kejauhan tampak Nada berjalan berdampingan dengan tiga orang temannya. Mereka terlihat berbincang bincang, lalu salah seorang temannya yang bertubuh tinggi dan memiliki rambut ikal melihat kearahku. Ia kemudian memberi kode pada Nada.

"Itu bukan?" Tanyanya setengah berbisik kepada Nada.

"Iya." Jawab Nada sambil tersenyum kearahnya.

"Kenalin donk." Kata teman Nada yang lain.

"Nyampe juga Mas kesini." Kata Nada.

"Iya, sekolahmu kan nyarinya gampang." Jawabku.

"Oh iya kenalin, ini temen temenku. Mega, Prima, dan Aini." Kata Nada berturut turut sambil menunjuk temannya satu persatu, yang bertubuh tinggi, yang memakai kacamata, dan yang paling imut diantara mereka berempat. Aku menjabat tangan mereka satu persatu. Lalu aku pun menyebutkan namaku.

"Aku Bagas. Boleh hari ini Nada kupinjam?" Tanyaku.

"Bayar pajak ya. Haha." Celetuk Prima sambil tertawa.

"Haah pajak apa?" Tanyaku bingung.

"Huss, udah sana pada pulang." Usir Nada.

"Cokelat." Kata Mega kemudian sambil menaikkan kedua alisnya.

"Mas, kita pulang duluan ya." Pamit Aini sembari menarik narik lengan baju Prima dan Mega. Lalu mereka bertiga pun berlarian menuju bis kota yang terhenti tepat di depan gang sekolah.

Aku tersenyum melihat kelakuan mereka. Rasanya sudah lama sekali aku meninggalkan bangku SMA. Tempat dimana aku belum sepenuhnya menghabiskan stok kenakalanku hingga aku terjerumus ke jurang yang terdalam. 

"Mana, katanya mau ngasih anggrek?" Ucap Nada cepat membuyarkan lamunku. Matanya langsung berbinar kalau sudah berbicara tentang tanaman.

"Nih." Aku mengacungkan goddie bag yang didalamnya terdapat bunga anggrek berwarna ungu muda yang sangat cantik dan harum. "Namanya Dendrobium Anosmum. Anosmum dalam bahasa latin artinya harum." Ucapku kemudian, bangga karena bisa menyebutkan nama bunga itu dengan tepat, ya setelah mengorek ngorek info dari Mbak Ira. Padahal merawat bunga saja tidak ada paham pahamnya sama sekali. 

"Oh iya, harum." Ucap Nada saat mencium wanginya. "Makasih ya Mas, ih baik banget deh. Besok besok kasih lagi ya bunganya. Haha." Ucapnya kemudian.

"Lah ngelunjak nih anak. Iya iya, bunga tujuh rupa juga nanti aku kasih." Candaku.

"Garing deh lawakannya. Udah ayo antar aku pulang." Kata Nada sembari duduk dibelakangku. Terasa lucu karena ada ransel besarnya yang terdiam kaku diantara punggungku dan lengannya.

Jalanan Jogja terlihat begitu bersahabat. Nada banyak bertanya tentang persiapan tes masuk kuliah. Lalu ia terdiam cukup lama.

"Nad." Panggilku.

"Iya Mas. Bisa lebih cepat ngga ini motornya. Pelan banget ya jalannya." Ucapnya jujur.

"Haha. Bisaaa." Kataku cepat sambil tertawa, bahkan motorku sedikitpun tak ingin waktuku bersamanya terbuang begitu saja.

"Iya, soalnya bapak lagi libur ini. Biasanya sih jemput aku di perempatan deket rumah."

Saat melewati perempatan, Nada tak berkata apapun. Namun tak seberapa jauh dari sana Nada mengatakan kalau bapaknya tadi tersenyum saja melihat kami melintas. 

"Mas, kamu pulang saja. Gawat ini siap siap diinterogasi. Haha." Perkataan Nada membuatku ngeri, apalagi aku belum pernah tahu seperti apa bapaknya. 

"Serius nih aku pulang? Kamu ngga papa?" Tanyaku mengkhawatirkannya.

"Iya santai saja." Jawabnya sambil tersenyum manis. 

"Oh iya jangan lupa seminggu sekali anggreknya dikasih michin."

"Haah, ngga salah? Nanti kalau malah keluar bakwan gimana?" Kata Nada. 

"Gitu sih kata mbakku. Ngga tahu biar apa. Haha. Ya udah, salam buat bapak aja ya." Kataku sambil memutar balik motor kesayanganku.

***

Sepanjang sore aku memikirkan Nada. Apa yang terjadi ya? Mungkinkah bapaknya memarahinya? Aku merasa sangat bersalah mengantarnya pulang begitu saja tanpa menemui bapaknya. Semoga saja Nada bisa mengatasinya. Aroma anggrek ungu yang wangi di taman belakang menenangkan pikiranku. Kupikir Nada juga sedang mencium wanginya disana.

 

 

 

 

 

  • view 141