Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Inspiratif 8 Mei 2016   04:43 WIB
Darurat Keselamatan Anak anak

Siang itu, sepulang sekolah saat aku dan adikku, juga beberapa tetanggaku yang hampir semuanya lebih muda dariku berlari lari kecil di lapangan tenis dekat rumah, bermain dengan cerianya. Tiba tiba ada seorang pria setengah baya meminta tolong ingin menanyakan sesuatu. Ia berada diluar lapangan. Aku menghampirinya, menanyakan ingin meminta tolong apa. Namun tak disangka bukannya bertanya sesuatu hal yang penting namun ia malah menunjukkan seeuatu yang mungkin 'penting' baginya dari balik celananya. WHAT. Aku yang merasa hal itu tidak benar langsung menyuruh adik dan semua teman teman yang sedang bermain untuk pulang. Pulang semua! SEKARANG! Pekikku. Sambil meninggalkan lapangan aku masih mendengar tawa pria itu. 

Ketika itu, kedekatanku dengan orang tua bisa dibilang 25%. Keduanya bekerja, pulang ke rumah cuma bisa marah marah karena kesal melihat rumah berantakan. Samasekali tidak ada yang kuberi tahu kejadian ini. Adikku pun waktu itu tidak menanyakan kenapa aku menyuruh ia dan teman teman untuk pulang. Sejak saat itu aku memilih bermain bersama teman teman di tempat yang ramai dimana ada orang dewasa yang kukenal.

7 tahun kemudian sewaktu kuliah, aku baru tahu kalau itu adalah kelainan seksual dimana seseorang akan merasa puas kalau berhasil menunjukkan kemaluannya pada orang lain. Kelainan ini disebut eksibishionis. Namanya saja yang keren tapi kelakuannya itu bisa membuat seseorang trauma. Bahkan ngeri. 

Kejadian lain yang membuatku hingga saat ini masih berharap bisa belajar bela diri adalah kejadian tak menyenangkan di suatu malam ketika aku masih SMP. Saat itu ibu menyuruhku pergi membeli pecel lele di pinggir jalan. Tidak jauh dari rumah. Namun penerangan dari rumahku ke jalan hanya satu di ujung gang. Sepulang dari membeli pesanan ibu, seorang pria yang tak jelas raut mukanya mencegatku. Dia memojokkanku ke dinding gang dengan kedua tangannya. Sambil berkata kata yang membuatku ngeri. Aku langsung menerobos dari bawah lengannya lalu berlari menuju ke rumah. Malam itu sudah habis nafsu makanku. Sejak itu, aku tak mau keluar malam tanpa ditemani. Masih tidak ada seorangpun yang bisa kuberitahu.

Kejadian diatas merupakan sedikit gambaran betapa terancamnya anak anak jika tidak diawasi atau dijaga oleh orangtua. Itu jaman dulu lho waktu aku masih kecil. Bahkan ketika belum ada yang namanya internet dan ponsel. Pun di pinggiran kota jogja pula. Hal hal semacam ini lah yang perlu menjadi perhatian kita sebagai orangtua. Betapa pentingnya kedekatan antara orangtua dan anak. Betapa pentingnya orangtua bisa menjadi sosok menenangkan yang dapat membuat anak secara terbuka bercerita tentang semua kejadian yang dialaminya apakah itu baik atau buruk. Bagaimana saat itu aku mau bercerita kepada orangtuaku jika setiap kali mereka sibuk dengan pertengkaran mereka, mereka terlalu lelah bekerja, lalu hanya bisa melampiaskan rasa lelah dan kesal dengan kemarahan pada anak anaknya. Aku memilih menenangkan adikku yang tersedu, lalu terdiam di kamarku mendengarkan radio. Membuat duniaku sendiri. Sadly, suicide pernah terpikir. Namun yang ada kepalaku cuma benjut karena beberapa kali kubenturkan ke dinding, pingsan pun tidak. Jadi usaha bunuh diri itu sakit ya guys. Jangan coba coba. Sebelum memutuskan untuk bunuh diri pikirkan dulu rasa sakit yang bakal kamu rasain sebelum mati. Benjut kepala lah, nyeri hebat, darah bercucuran lah, kalau pun lompat dari ketinggian, iya kalau mati, kalau cuma patah tulang lalu malah cacat seumur hidup. Menyesal ngga akan ada habisnya. Buang jauh jauh pikiran itu. Belum kalau bunuh diri, mati langsung masuk neraka. Naudzubillah. Perbanyak istighfar dan perbanyak teman yang kuat agamanya. Itu tipsku. Setidaknya aku aman hingga SMA kelas 3. Finally ortuku pisah. Lengkap sudah penderitaanku. Sudah ngga berpikir lagi tentang masa depan kala itu. 

Alhamdulillah Allah menyelamatkanku. Aku selalu dikelilingi orang yang baik. Semakin dewasa, semakin mengerti apa itu yang baik dan ngga baik. Semakin mendekatkan diri pada Allah adalah kunci dari semuanya. Bagaimana kita bisa menjaga diri sendiri, memilih lingkungan yang positif demi tumbuhnya jiwa yang positif pula. Trauma? Aku bahkan sudah tidak memikirkan hal itu. Dulu pikiran anak anakku berpikir kalau orangtua terlalu egois mengambil keputusan mereka sendiri tanpa memikirkan kami anak anaknya. Namun seiring berjalannya waktu. Aku sendiri menyadari kalau terkadang dalam hidup ini ada yang tidak bisa dipaksakan untuk terus bersama. Bahkan hanya akan saling menyakiti jika terus bersama. That's the point. Belajar ikhlas... terus dan terus...

Pernah kala itu membaca satu buku tasawuf, yang bahkan aku sendiri tak tahu kenapa bisa membaca buku itu. Di buku itu dikatakan kalau ikhlas itu belum dikatakan ikhlas kalau kita masih mengatakannya, menyebutnyebutnya atau memikirkannya. Jadi ikhlas itu... tidak perlu kita katakan. Cukup Allah yang tahu.

Kembali ke darurat keselamatan anak ya. Kalau tidak ingin anak anak menjadi korban, orangtua harus mau BELAJAR lebih untuk bisa memahami anaknya, menjaga anaknya, berusaha sekuat tenaga melindungi anak anak dari bahaya pornografi yang sudah hampir tidak terbendung. Berusaha menguatkan iman islam anak anak dengan sering membacakan dongeng dongeng yang baik. Belajar tentang parenting anak seiring pertumbuhan dan perkembangan anak, supaya sebagai orangtua bisa menjadi sahabat sekaligus orangtua yang memuat anak anak aman dan nyaman untuk berkeluh kesah. Gadget di usia yang tepat akan lebih baik. Bahkan anakku yang kelas 3 SD sudah bisa bertanya kapan boleh punya hp sendiri. Kujawab saja nanti kalau sudah SMA. Mamanya sadis hehe.

Berdasar pengalaman tak menyenangkan itu, bekal iman islam untuk anak, ilmu yang baik, berusaha menempatkan anak di lingkungan yang baik, satu lagi bekali ilmu bela diri. Just in case kalau tiba tiba ada kejadian tidak menyenangkan mereka bisa fight back. Pun setelah semua hal yang baik yang sudah kita upayakan. Paparan hal yang kurang baik bisa dari mana saja. Bahkan dari odong odong yang lewat di depan rumah sambil memutar lagu "Sakitnya tuh disini di dalam hatiku, sakitnya tuh disini melihat kau selingkuh." WHAT... itu odong odong lho, lagunya dahsyat gila. Siap siap saja ditanya,"Ma, selingkuh itu apa?" untungnya sampai saat ini belum tercetus pertanyaan itu dari mulut mulut kritis anakku.

Belum lagi iklan iklan di televisi. Film boleh kartun anak anak, tapi iklannya masih yang berbau dewasa. Iklan sinetron pas adegan ngerayu lah, pas adegan anak anak ngomel ke orangtua lah. Belum iklan iklan parfum yang menggoda, iklan pasta gigi yang yah ngga pas lah kalau disisipkan disela sela film kartun anak anak. Apa memang target mereka merusak anak anak Indonesia. Ini untung saja aku ikut mantengin televisi ya. Bagaimana dengan orangtua diluar sana yang tidak ikut mengawasi anak mereka untuk sekedar nonton tv? Bagaimana dengan anak anak yang diasuh pembantunya yang bisa saja setiap hari tontonannya sinetron yang ngga mendidik. Hancurlah generasi. 

Anak adalah yang paling berharga dari semua yang kita miliki. Menjaganya adalah kewajiban kita. Kalau belum siap menjaga anak dengan segenap jiwa dan raga, JANGAN 'buat anak'. Tanggung jawabnya besar. Sekarang ini semua info terlalu TOO MUCH, kita sebagai orangtua harus bisa men STOP yang tidak baik, menjelaskan yang baik, atau kalaupun sudah terlanjur terpapar info yang kurang baik. Jejali kembali dengan dongeng dongeng dan cerita cerita inspiratif yang baik. Tak ada televisi tanpa pengawasan orangtua. Itu penting ya. Kuatkan iman anak anak supaya tidak tergoda melakukan hal yang buruk, melalui cerita. Anak anak sangat senang kalau kita sebagai orangtua meluangkan waktu untuk bercerita. Disana kita bisa menyisipkan kebaikan yang akan berbuah surga dan keburukan yang bisa berbuah neraka. 

Mungkin sekian dulu curhatnya. Panjang ya. Semoga menginspirasi.

Depok 8 Mei 2016

Diane Yuyie

 

 

 

Karya : Diane Yuyie