Chapter 1 Namaku Bagas

Diane Yuyie
Karya Diane Yuyie Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 04 Mei 2016
Kisah Sang Edelweis dan Mentari yang Menyinarinya

Kisah Sang Edelweis dan Mentari yang Menyinarinya


Sebuah novel yang sudah lama sekali ingin dikerjakan. Bismillah semoga bisa selesai. ^_^

Kategori Acak

345 Hak Cipta Terlindungi
Chapter 1 Namaku Bagas

Namaku Bagas, aku seorang mahasiswa salah satu perguruan tinggi di jogja yang baru saja di DO karena alasan yang pantas membuatku untuk di DO. Sebulan absen plus terlibat penggunaan narkoba membuatku dijatuhi drop out. Aku sempat melihat temanku sesama pemakai narkoba overdosis dan meninggal di depan mataku. Keadaanku diperparah dengan meninggalnya ayahku. Aku bagaikan mayat hidup, mampu mendengar namun tak mampu merasa, seolah semuanya telah hilang dari diriku. Kakak kakakku sempat menyalahkanku, namun ibu masih melindungiku. Meninggalnya ayah bukan disebabkan olehku namun memang karena takdirnya ayah harus pergi, begitu pembelaan ibu. Mereka menghormati ibu dan menerima semua penjelasan ibu tanpa membantah sedikitpun. Aku pun bebas dari amukan mereka. Saat ini mereka tinggal bersama suami mereka masing masing. Sedangkan aku, masih tetap tinggal di rumah bergaya belanda ini bersama ibu.

Hampir seminggu aku mengurung diri di dalam kamar. Sampai suatu hari ada seseorang yang meneleponku. Ia mengaku bernama Nada. Ia mengatakan kalau ia adalah teman dari temannya sahabatku si Didi. Sedikit tidak masuk akal karena tiba tiba ada seorang gadis yang meneleponku di siang bolong. Sepertinya ini akal akalannya Didi, entah apa yang direncanakannya. Lagipula aku tidak mengeluarkan uang untuk membayar tagihan telepon ini. Jadi aku menanggapi saja semua perkataan Nada. Ia berbasa basi menanyakan bagaimana keadaanku, apa yang kulakukan saat ini, dan apa yang sedang kurencanakan nanti. Sebagai seorang anak kelas 1 SMA, Nada ini termasuk anak yang banyak bicara. Pintar sekali dia menggali perasaanku. Aku mengungkapkan semuanya, semua kegundahanku pada Nada. Aku mengatakan kalau seminggu ini aku merasa benar benar jatuh. Aku telah menyianyiakan kepercayaan ayahku, menghancurkan impian ibuku untuk melihat anak bungsunya kuliah dengan baik. Aku hampir saja berpikir untuk mengakhiri hidupku yang terlampau suram ini. Namun aku tak mengatakan kepada Nada tentang rencana sesatku itu. Nada mengubah pemikiranku, bahwa setiap orang memiliki kesempatannya untuk melakukan apa yang baik untuk dirinya sendiri maupun keluarganya. Tinggal orang itu mau mengambil kesempatan itu atau memilih untuk terpuruk lebih jauh. Gila, aku diceramahin anak SMA yang usianya 8 tahun lebih muda dariku. Dunia ini gilaaa. Namun aku masih mendengarkan suara merdunya hingga ia menutup dengan salam yang sangat sempurna.

Sore itu juga pertama kalinya aku mandi. Badanku rasanya seperti diguyur air es. Aku menggigil, demam. Dengan cepat aku menyelesaikan semediku itu di kamar mandi. Lalu mendatangi ibu, meminta obat penurun panas. Ibu langsung berlari ke warung depan, membelikanku obat penurun panas. Ibu juga menyiapkan sup ayam kesukaanku, lengkap dengan tempe goreng dan sambal tomat di meja makan. Astaghfirullah, betapa sayangnya ibu terhadapku. Betapa durhakanya aku jika aku pergi begitu saja tanpa membahagiakan beliau. Tiba tiba kalimat Nada melintas di pikiranku, dan aku mengatakan pada diriku sendiri. Aku akan mengambil kesempatan ini, melakukan apa yang baik untuk diriku sendiri dan keluargaku. Dimulai dengan menjauhi barang haram bernama narkoba itu.

***

Aku terbangun sebelum ayam jantannya Putra berkokok. Putra itu tetanggaku sekaligus teman yang setia menjaga wartel milik keluarga kami. Tubuhku merasa lebih baik setelah semalam makan kenyang dan minum obat. Aku segera mandi lalu mengambil air wudhu saat adzan subuh berkumandang. Sajadah dan sarung yang ada diatas meja belajarku tampak sedikit berdebu. Aku tak mengenakannya. Baju dan celana panjangku sudah cukup menutup auratku. Aku akan mencuci keduanya nanti. Sujudku sangat lama dan berlinang air mata. Di akhir sholatku aku berdoa untuk kedua orangtuaku dan berkali kali memohon maaf atas semua kesalahanku. Aku yakin Ia mendengarku. Sungguh hati ini merasa jauh lebih baik. Sangat baik.

Yamaha F1ZR hitamku terlihat membisu di sudut garasi. Tidak tampak berdebu, bahkan sangat bersih. Pasti Putra yang mencuci sepeda motor kesayanganku ini. Dari rumahnya yang bersebelahan dengan rumahku, Putra pun muncul dengan senyum lebarnya.

"Sudah baikan?" Tanyanya.

"Ya begini lah." Jawabku sekenanya. "Kau bawa kemana saja motorku ini?" Tanyaku kemudian.

"Hehe, tau aja. Ngga kemana mana cuma buat nganter nganter Dian." Jawabnya jujur.

"Pantesan kinclong begini. Tapi bensin habis nih kayaknya. Cakep bener." Sindirku.

"Aku pinjem sekali lagi ya, bentaaar aja pagi ini. Nanti balik balik full tank deh. Deal ngga?" Rayunya.

"Ngga. Enak aja aku mau pakai nih ke rumah Didi."

"Bentar doang, nganter Dian bentar. Ngga sampai setengah jam. Deket kok."

"Iya iya, apa sih yang ngga buat sohib kucelku ini. Haha."

"Yaah, masih gantengan aku kemana mana lah." Ucap Putra membela dirinya.

Matahari terik akhirnya menyapa kulitku yang mulai tampak sawo matang. Kalau bertahan sebulan lagi saja mengurung diri mungkin semua orang takkan mengenaliku, bukan putih lagi tapi pucat dan kaku. Ah, untung saja ada suara malaikat yang menyadarkanku kemarin, dan aku akan menanyakan tentangnya kepada Didi, biang kerok yang sepertinya menyuruh Nada untuk meneleponku. 

"Masih hidup?" Sapa Didi sopan.

"Bukan ini aku HANTU." Kataku kesal.

"Mau nanyain soal Nada? Tebaknya. "Kenapa ngga nelpon aja?"

"Ngapain sih nyuruh nyuruh Nada buat nelpon aku?"

"Bukan aku yang nyuruh, aku cuma minta tolong ke Nindi buat nanyain kabarmu, kebetulan waktu itu dirumahnya Nindi ada Nada. Dan sori kalau aku ceritain semua tentang kamu ke dia. Nada sendiri yang menawarkan untuk meneleponmu. Dia manis lho." Kata Didi meyakinkanku.

"Sial kau. Aku diceramahin sama Anak SMA. Kayak aku ini masih SD aja. Mati kutu tau."

"Nanti kalau sudah ketemu Nada ngga mungkin mati kutu. Paling malah enggan mati. Haha." Candanya.

Aku memutuskan untuk pergi ke rumah Nada, dan sebelumnya aku meminta tolong pada Didi agar Nindi mau menemaniku. Hari minggu yang cerah, sangat cerah. Nindi mengatakan lewat telepon kalau ia akan datang lebih dulu ke rumah Nada. Rumah Nada cukup jauh dari rumahku. Rumahku ada di tengah kota jogja, sementara rumahnya jauh ke utara mendekati gunung Merapi. Motor kesayanganku melaju cepat, seolah tak sabar menemui pemilik suara yang menenangkanku kemarin.

Rumah Nada tidak jauh dari jalan raya. Rumah bercat putih dengan tanaman tanaman hijau yang asri di bagian depannya menarik perhatianku. Juga pohon cemara yang tinggi menjulang, yang menjadi satu satunya pohon di depan rumah itu tampak menyambut kedatanganku. Di terasnya yang juga berlantai putih terdapat bangku bangku rotan yang berjajar rapi. Nindi sudah berada disana dan melambai kearahku.

"Assalamu'alaikum." Ucapku.

"Wa'alaikumsalam." Jawab Nindi dan juga Nada yang baru saja keluar membawa es sirup yang tampak segar. 

"Duduk Mas." Kata Nada. Ia terlihat sangat manis mengenakan rok panjang dan kaos oblongnya yang berwarna putih. Senyumnya sungguh menawan, matanya bulat, rambutnya yang panjang sebahu berwarna cokelat terlihat berombak. 

"Kenalan dulu donk." Kata Nindi

"Bagas." Kataku

"Nada." Jawabnya sambil tersenyum. Dia menjabat tanganku sangat cepat. Seolah olah ia takut kalau aku menariknya. Aku pun tersenyum, mungkin cukup manis. Entahlah atau enyahlah, yang terpenting aku tulus.

Singkat cerita, selama bertamu di rumah Nada, kami, aku dan Nada tak henti hentinya bercerita. Nindi yang merasa menjadi penggembira lebih memilih membaca komik conan, komik kesukaan Nada, di sudut teras. Percakapan kami mengalir begitu saja seperti kami sudah saling mengenal lama. Dari percakapan kami, aku mengetahui kalau Nada sangat suka dengan tanaman. Apapun itu. Pantas saja halaman rumahnya hijau. Bahkan di atas pagar rumahnya yang memiliki pot panjang, ia tanami tanaman cabai yang mulai mengeluarkan kuncupnya. Aku sendiri menceritakan kalau kegemaranku naik gunung. Namun rasanya itu sudah cukup lama tak kulakukan. Aku menceritakan bagaimana seandainya tersesat saat di hutan. Bisa dengan mencari lumut lumut yang akan membawa ke sumber air atau sungai, telusuri sungai itu mungkin tak jauh dari sana akan ada pemukiman, atau bisa juga mengikuti jejak sampah pendaki yang berjatuhan. Namun jangan sekali kali mengikuti kotoran hewan, bisa jadi itu membawanya ke hewan buas. Kelakarku pun dianggapnya serius, Nada benar benar pendengar yang baik. Entah apa yang ada di pikirannya, aku sama sekali tak mampu menerka. 

Siang itu hatiku seperti melonjak lonjak. Jalanan Jogja tampak berbeda. Lebih berwarna. Bahkan senyuman seorang tukang becak yang berhenti berdampingan dengan motorku di lampu merah terlihat begitu istimewa. Aku tersenyum kearahnya. Sampai dirumah pun senyuman kuterbar kepada siapa saja yang kutemui. Ibu yang beberapa hari ini muram pun tampak terkejut melihat senyumku yang terlalu lebar.