Dying Fin - Chapter 3 Pertama Mengenalnya

Diane Yuyie
Karya Diane Yuyie Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 01 Mei 2016
Dying Fin - Chapter 3 Pertama Mengenalnya

Perkenalanku dengan Arifin merupakan hari yang tak terlupakan. Sungguh, bagiku hari itu adalah salah satu sejarah dalam hidupku yang selalu akan kuingat. Ya, perkenalanku dengan sosok yang selama ini selalu kunanti dari balik jendela kamarku.

Pagi itu, ruang kelas yang berada di lantai atas kampus sudah penuh oleh teman-teman sekelasku. Hanya bangku deretan paling depan yang tersisa. "Huh, lagi-lagi aku harus duduk di depan nih", pikirku dalam hati. Belum apa-apa aku sudah menguap. Adhe yang juga bernasib sama denganku terlihat menghela nafas panjang. 

"Wah bakal seharian ngantuk nih, duduk di depan." Kata Adhe sambil memainkan nokia 3660 dusty pink nya.

"Kalo aku sih yang terpenting binderku gak ketinggalan." Aku mengambil binder  besarku dari dalam ransel. Meletakkannya di meja, lalu mengambil sebuah pulpen dari kantung depan ranselku. Aku melihat sosok yang sangat kukenal dari sudut mataku. Ia terlihat canggung, dengan wajah lugunya ia bertanya kepadaku.

"Ada yang duduk di sini ga?" Ia menunjuk kursi kosong yang ada di sebelah kiriku.

"Oh nggak Mas, nggak ada." Tiba-tiba saja tanganku berkeringat, seperti sedang melihat hantu. 

"Aku duduk sini ya." Katanya kemudian.

Aku mengangguk cepat. Adhe melihat tingkahku yang aneh, lalu ia berbisik pelan padaku.

"Itu Kak Arifin, yang bakalan ikut angkatan kita. Katanya dulu cuti habis kecelakaan."

"Ohh." bisikku pelan pada Adhe.

"Aku sudah tahu." Ucapku dalam hati. Harus kuakui, jantungku berdegup kencang, kuharap Arifin samasekali tak mendengarnya. Aku sudah mendengar cerita itu dari Mbak Ery dan Mbak Ema. Aku hanya tidak tahu kalau hari ini dia akan datang, terlebih lagi, dia sekarang duduk di sebelahku.  Aku hampir tak melihatnya setengah tahun lebih dan ia tampak tak berubah sejak terakhir aku melihatnya. Waktu itu, pada suatu siang saat ia hendak pergi sholat jumat ke masjid depan asrama dengan sarung merah marun dan kemeja hitamnya. Tak kupungkiri, aku sangat senang melihatnya terlihat baik-baik saja.

"Aku Arifin." Katanya sambil menjulurkan tangan kanannya.

"Aku Rere. Mas Iphin sudah terkenal banget kok di kelas." Kataku kemudian sambil menjabat tangannya. 

"Haha, bisa aja kamu. Kamu suka anime juga?" Tanyanya sejurus kemudian, saat menengok gambar inuyasha buatanku yang ada di binder. 

"Oh ini, iya Mas, aku suka banget Inuyasha. Tapi ini gambar gagal, soalnya kalau aku ngegambar pasti ukurannya jadi lebih besar dari gambar yang kucontek." Ucapku jujur.

"Tapi itu udah bagus kok. Kalau aku paling suka Rurouni Kenshin. Tahu `kan anime yang punya bekas luka di pipinya."

"Iya Mas, aku juga suka nonton. Tapi nggak sefanatik Inuyasha sih." Komentarku cepat. 

"Kalau di Inuyasha paling keren menurutku Miroku. Haha." Kelakar Arifin menyebutkan sosok biksu di film Inuyasha yang memiliki lubang angin ditangannya.

"Tokoh yang mata keranjang itu kan? Maukah kau menjadi ibu dari anak anakku?" Ucapku menirukan gombalan Miroku. 

"Hahaha. Tapi aku ngga ya." Katanya.

Pagiku tidak lagi membosankan karena Arifin ternyata sosok yang suka bercanda juga. Mata Arifin tampak berbinar saat mengetahui aku juga penyuka anime seperti halnya dirinya. Dari binar matanya tampak sebuah keceriaan, namun ada sesuatu yang hilang saat senyumnya juga menghilang. Seolah-olah ia sedang mencoba sekuat tenaga untuk bangkit dari keadaan yang membuatnya menghilang setengah tahun ini. Aku merasakan sejuta rahasia dari senyumannya. Namun aku belum ingin menanyakannya. Bahkan aku bisa merasakan kalau ia sedang tidak ingin berbagi pedihnya saat ini.

"Re, aku punya banyak manga juga dirumah. Mau aku bawain besok?" Kata Arifin menawariku.

"Asiiik, makasih Mas." Kataku kemudian.

"Aku hanya ingin berbagi kebahagiaan dengan Arifin. Aku ingin melihatnya tersenyum dan tertawa lepas." Ucapku dalam hati. Entah apa yang kupikirkan, namun sepertinya memang itulah hal terbaik yang dapat kulakukan sebagai temannya saat ini.

Siangnya aku pulang berjalan kaki bersama Adhe melalui gerbang belakang. Sedangkan Arifin sepertinya menaiki sepeda motor yang ia parkir di depan kampus. Sejauh yang kukenal, Arifin baik dan tidak sombong. Sangat sangat baik. Tidak terlalu banyak bicara, namun juga mencoba untuk tetap ramah pada semua orang. Ia juga sopan dan rendah hati. "Umm, pribadi yang tidak mengecewakan." pikirku.

Aku tersenyum sendiri mengalami segala kebetulan hari ini. Kebetulan atau entah apa, namun aku duduk di samping Arifin untuk pertama kalinya, setelah selama ini aku hanya dapat memandangnya dari jendela kamarku. Suatu kebetulan yang lucu.  Aku merasa geli sendiri memikirkannya. 

"Ssst, malah ngelamun." Adhe menyadarkanku sambil menyodorkan sekantung plastik es jeruk ke pipiku dan sekantung nasi bungkus yang kami pesan di warung belakang kampus.

"Dingin Non!" Teriakku. "Yuk makan di kamarku aja ya." Kataku.

"Sipp, habis itu main gitar ya. Haha." Adhe terlihat senang dengan ideku.

Kami pun segera pulang menyusuri jalan menuju asrama. Saat melintas di depan rental komputer Mas Bayu, suaranya yang menggelegar mengagetkanku.

"Re, nggak mampir?" Teriaknya.

"Nggak Mas, ngga ada tugas. Keburu laper. Kalau butuh bala bantuan buat ngetik ngetik sms aja ya." Lumayanlah kalau bantu bantu Mas Bayu bisa dapat uang buat makan.

"Ya udah sana, makan." Kata Mas Bayu kemudian. Sambil berkacak pinggang lalu menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Aku selalu tertawa saat Mas Bayu bertingkah seperti ini. Itu tandanya Mas Bayu sedang bingung mau melakukan apa lagi. Mungkin karena terlalu banyak pekerjaan yang harus diselesaikannya. Jenggot tipis dan rambutnya yang selalu tampak optimis membuatnya terlihat berwibawa. Tapi kalau wajahnya kucel seperti saat ini, ia terlihat seperti orang yang kurang tidur.

Tak sampai lima menit, kami tiba di asrama. Lingkungan asrama yang rindang dengan pepohonan membuat asrama menjadi tempat yang nyaman untuk melepas lelah. Lantai asrama yang dingin seperti pengobat alami bagi kaki yang kepanasan disepanjang jalan. Suasana riuh sepulang kuliah juga menjadi ciri khas yang sayang jika dilewatkan. Anak anak akan mulai bersahut sahutan untuk memesan jus alpukat, es jeruk, atau bahkan soto ke arah warung Pak Slamet, dan beberapa dari teman maupun kakak tingkat seringkali memesan dari balkon kamarku yang strategis.

"Re, aku masih haus. Ada air ga?" Tanya Julia.

"Yaah, aku belum ambil air dari dapur. Aku pesenin di Pak Slamet aja ya."

"Pak Slamet, Es Jeruk dua ya, di balkon kamar Rere." Teriakku ke arah warung Pak Slamet yang berada tepat di depan dapur asrama. 

Arifin tertawa melihatku bersuara seperti komandan sedang memerintahkan bawahannya. Ternyata Arifin pulang ke asrama putra. Kupikir ia pulang ke rumahnya. Aku tersenyum malu sambil menutup mulutku.

"Komiknya besok ya." Kata Arifin kearahku dari tempat parkir.

"Sipp." Aku mengacungkan kedua ibu jariku, sambil tersenyum bahagia. Sangat bahagia. Bahkan memberitahu tentang komik saja, cara berbicaranya sangat manis. 

Arifin pun bergegas menuju asrama putra. Kamar Arifin berada tepat disebelah pintu masuk asrama putra. Benar benar lokasi yang strategis untukku melihatnya. Namun ia jarang sekali menginap di asrama. Ia lebih senang pulang ke rumahnya di ujung utara Jogja.

Sekarang Arifin tahu persis dimana letak kamarku berada. Aku tak mau mengambil resiko mengamatinya seperti dulu lagi. Apalagi sekarang dia menjadi teman sekelasku. "Waah, bisa mati kutu kalau sampai ketahuan." Ucapku dalam hati. 

Dari arah jalanan aku melihat Pak Slamet datang sambil membawa bungkusan besar, entah berisi apa. 

"Lah tadi yang ada di warung siapa? Huuh, capek deh."

"Kenapa, Re?" Tanya Adhe dengan polosnya. Jemarinya masih  tetap memetik gitar klasikku.

"Sudah kamu pesan saja lagi minuman sendiri, tuh Pak Slametnya baru saja dateng."

"Lah kok jadi disuruh pesen sendiri, tadi pergi Pak Slametnya?" Tanya Adhe sekali lagi dengan tanpa rasa bersalah.

"Ya mana aku tahu. Biasanya juga stand by di tempat. Mana sudah teriak teriak, ternyata Pak Slametnya tiba-tiba nongol dari arah lain. Pesen sendiri sana." Ucapku kesal.

"Hahaha, kasihan deh." Ledek Adhe.

Aku melihat Arifin sudah mengganti seragamnya dengan celana dongker tigaperempat dan kaos warna merah marun. Ih, kenapa juga dia punya selera yang sama denganku. Arifin mengenakan sandal jepitnya dan melangkah menuju warung Pak Slamet. 

"Kang Iphin, es jeruk 2 donk. Bilangin ke Pak Slamet." Teriak Adhe yang tiba tiba muncul dari belakangku. 

"Okee. " Jawabnya cepat. 

Tak lama kemudian muncul sosok Arifin di depan balkonku sambil membawa dua kantung es jeruk. 

"Re, Adhe ini esnya. Bayar woii." Panggil Arifin.

"Kirain mau dibayarin. Nih duitnya. Delapan ribu kan?" Tanya Adhe sambil menyerahkan uang lima ribuan dan tiga lembar uang seribuan. "Makasih Kang. Baik banget deh." Kata Adhe.

"Sama sama. Rere mana?" Tanyanya.

"Tuh lagi sholat." Jawab Adhe.

"Owh, kamu ngga sholat?" Tanya Arifin.

"Ntar. Hihi." Jawab Adhe sambil nyengir.

"Hmmm, rajiiinn ya. Pakai ntar ntaran." Ledek Arifin mengeluarkan jurus ironinya.

"Biarin wekkk." Adhe menjulurkan lidahnya dan menutup korden pintu kamar balkon. Arifin pun bergegas kembali ke warung Pak Slamet untuk makan siang.

Hari itu. Pertama kalinya aku mengenal Arifin, dan perbincangan pertama kami sungguh menyenangkan. Aku masih selalu menantikan perbincangan perbincangan lain yang kupikir akan membawaku mengenalnya lebih dekat.

 

  • view 77