Dying Fin - Chapter 2 Hidupku Duniaku

Diane Yuyie
Karya Diane Yuyie Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 01 Mei 2016
Dying Fin - Chapter 2 Hidupku Duniaku

Selama kuliah, aku tinggal di sebuah asrama kokoh yang terlihat kuno. Asrama putri yang terpisah dengan asrama putra. Kedua asrama ini berada dalam satu komplek yang berada di sebuah perkampungan. Mau aku sebut pedesaan, tapi sudah terlampau riuh di sekitarnya.

Gedung asramaku memiliki dua lantai. Seluruh bangunan memiliki cat berwarna krem dengan pintu, jendela dan pegangan tangga berwarna hitam. Terdapat sekitar 32 kamar di dalamnya dengan masing masing 4 kamar mandi dan 4 toliet di masing masing ujung koridor. Di depan toilet terdapat kran kran air berjajar tempat favorit anak-anak mencuci dan konser bersama.

Aku tinggal satu kamar dengan Mbak Ema dan Mbak Ery. Hanya tiga penghuni yang menempati kamar nomor 28, meskipun memang ada dua tempat tidur kayu bertingkat yang ada didalamnya, dan adik tingkat selalu dipaksa mengalah untuk tidur di tempat tidur atas, yang selalu berdecit saat aku menaiki tangga kayunya. Selain itu, terdapat juga meja belajar kayu yang berhadapan dengan pembatas tinggi di tengahnya yang dapat digunakan berpasangan. Terdengar menyenangkan bukan. Namun, untuk tinggal satu kamar dengan teman yang memiliki sifat berbeda membutuhkan adaptasi yang tepat. Namun aku bersyukur, kedua kakak tingkatku ini sangat sejalan dengan pemikiranku. Cuek, bebas, rapi dan sangat menyukai kebersihan. The right girl in the right place I guess.

Aku memilih meja belajar yang letaknya tepat di sebelah jendela. Dari kursi belajarku, aku dapat melihat tempat parkir, ruang makan dan dapur yang tak jauh dan berseberangan dengan kamarku. Juga pepohonan yang ada di samping lorong masuk gedung asrama putri dan putra. Terlebih lagi, aku juga dapat melihat seseorang yang kukagumi. Cowok rapi, yang terlihat selalu cool dengan tas selempang dan sepatu ketsnya. 

Saat itu, pagi sungguh terlihat sangat cerah. Belum terlihat olehku sosoknya melintas di lorong masuk asrama. Aku sudah siap dengan seragam kuliahku, tas dan buku catatan juga pulpen, dompet, dan yang tak kalah penting adalah ponsel yang selalu menemani waktu istirahatku dengan musik kesukaanku.

"Ahaa, dia melintas". Kataku dalam hati. Sepertinya mataku membulat saat sosoknya yang penuh kharisma melintas di lorong. Rupanya aktivitasku diperhatikan oleh Mbak Ery.

"Namanya Arifin. Sudah tahu belum?" Mbak Ery mengagetkanku dengan perkataannya yang mengejutkan tepat di samping telingaku.

"Haah, belum Mbak." Kataku menahan malu. Teringat olehku momen pertama kali aku mengetahui namanya.

"Ketahuan ya..., kamu ngefans sama Arifin."

"Umm, nggak kok Mbak. Biasa aja." Jawabku jujur.

"Oh ya udah. Mau titip salam nggak?" Godanya cepat.

"Mauuuu. Ops, nggak Mbak. Nggak usah. Sumpah aku ga mau salam ke dia."

"Hahahaha, sudah sana sarapan dulu. Di ruang makan menunya pecel lele sama sambel terasi. Kesukaanmu kan?"

"Sudah jam tujuh kurang Mbak. Aku ambil saja, makannya buat nanti siang." Kataku kemudian.

Aku bergegas menenteng sepatu ketsku, lalu keluar kamar, duduk di tangga depan ruang tamu sambil memakai kaus kaki dan sepatuku. Dian dan Adhe sudah menungguku di depan pintu.

"Lama amat neng, ngapain aja di kamar?" Tanya Dian dengan logat Betawinya yang kental.

"Biasalah, dandan dulu biar cakep." Jawabku sekenanya.

"Kayak Lu suka dandan aja, Re." Ucap Adhe polos.

"Iya-iya, yang ada juga kamu Dhe yang dandan bertahun-tahun. Haha." Kataku sambil beranjak dari tangga. Bergegas menuju ruang makan dan meminta pada Mbok Nah agar jatah makanku disimpan untuk nanti siang.

Aku, Dian dan Adhe sejak awal daftar di kampus selalu bertiga kemana mana. Seperti tak terpisahkan. Namun Dian seolah menjauh dari kami, tepatnya menjauh dari Adhe. Sosok cantik yang tak jarang absen dari kelas ini membuat Dian sedikit menjauhinya. Terlebih saat rumor kedekatannya dengan salah satu dosen. Ah, Adhe tidak sebodoh itu. Aku sangat tahu sifatnya. Dia memang terkadang pergi bersama kakaknya hingga larut malam, mencoba dunia gemerlap diluar sana. Dunia yang bahkan tidak menarik hasratku untuk terbawa. Terlepas dari rumor rumor tak sedap yang berkembang, aku memilih selalu menemani Adhe. Ia memang lebih suka blak blakan tentang segala hal, sedangkan Dian lebih banyak diam. Aku tidak menjauh dari Dian maupun Adhe, bagiku mereka tetap teman terbaikku. 

Aku selalu meyakini setiap orang memiliki kebaikan di hatinya. Tak peduli seperti apa penampilannya. Bahkan Tio, anak pemilik warung makan di belakang kampus yang penampilannya urakan saja, sikapnya bisa penuh hormat dengan orang yang lebih tua. Ah ingin rasanya aku mengkritisi rambut jabriknya yang kuning kontras dengan kulitnya yang hitam. Tio tetap sosok ramah yang selalu memperlihatkan deretan giginya yang putih setiap kali aku membeli makan di warungnya. Aku berusaha tidak pemilih, selama seseorang bersikap baik terhadapku. Aku akan selalu tersenyum untuknya.

  • view 69