Dying Fin - Chapter 1 Sahabatku Bukan Kekasihku

Diane Yuyie
Karya Diane Yuyie Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 01 Mei 2016
Dying Fin - Chapter 1 Sahabatku Bukan Kekasihku

Langit pagi sangat cerah mengelilingi kepalaku. Seragam sudah kukenakan, rok cokelat panjang, kemeja atasan putih bersih, dan jilbab putih dengan sematan bros di dada kiri yang sempurna. Aku berjalan diatas jalanan aspal dari asrama menuju kampus sambil memanggul ransel reebok kuningku. Sepatu fantovel putihku sedang asyik berjemur hari ini, setelah hari hujan sore kemarin. Akhirnya si converse lah yang beruntung tersemat di kaki raksasaku ini. 

Adhe berlari lari kecil menyusulku dari belakang. "Cepet amat jalannya!"

"Aku ngga mau beruntung duduk di barisan paling depan, Dhe. Lagi ngga mood." 

"Kang Iphin sudah booking kursi dibelakang say, aman kita."

"Asiikk."

Benar saja, makhluk tengil berwajah entah berantah itu sudah stand by di kelas sambil nyengir nyengir kuda. Aku menatapnya kesal, terlalu rapi untuk ukuran cowok. Mau kuliah apa nampang sih. Seragam perfect, sepatu perfect, tas selempang birunya perfect, rambut rapi. Senyuman teduh. Astaga pikiran apa ini yang merasuki otakku.

"Senyum senyum, ngga tambah gantengnya Mas." Ucapku ketus, meski dalam hati aku selalu ingin mengatakan kalau dia cukup tampan. Tidak heran banyak teman seangkatannya dulu, maupun teman seangkatanku, anak anak jurusan lain, dan adik adik tingkat mengaguminya. Belum tahu saja mereka kalau kakinya suka bau. Oke rahasia tingkat dewa ini. 

"Nih anak ngga ada terimakasih terimakasihnya sudah dicariin tempat duduk." Ucapnya kesal.

"Makasih Kang sudah nyariin singgasana buat kita. Tumben ganteng." Ucap Adhe. Sohib cantikku yang satu ini selalu berkata terus terang. Segala yang modis ada pada diri Adhe, cantik, pintar memakai make up, kolektor jam tangan yang jeli, dan punya selera fashion yang mumpuni. Tak bisa dibandingkan denganku yang selalu apa adanya. Menyentuh bedak pun tidak. 

Seperti biasa, pelajaran kelas berjalan membosankan. Kami bertiga yang duduk di sudut paling belakang mulai tidak konsentrasi. Arifin menggeser buku catatannya. Di lembar paling belakang ia menggambar bu dosen yang sedang mengajar di depan kelas. Gambar yang cukup bagus, ia memang memiliki tangan seniman. 

"Ah, masih kurang." Bisikku.

Aku menambahkan gambar payung dalam gambar di buku catatan itu, juga awan dan rintik hujan diatasnya. Arifin terkekeh melihat keusilanku. Adhe merebut buku catatan itu, lalu menuliskan kata kata mesra. AYO KE KANTIN. Apa yang dituliskan oleh Adhe tepat seperti apa yang dipikirkan oleh aku dan Arifin. 

Tak lama, satu persatu dari kami bertiga meminta ijin untuk ke toilet. Kuliah dua jam berasa dua tahun bagi kami. Menyelinap ke kantin sudah menjadi kebiasaan buruk kami, namun terkadang ada dosen baik yang memergoki. Bukannya dimarahi malah ditraktir. Tidak ada kapoknya.

"Mbak, mau tempe mendoan ya. Sama es teh tiga."Ucap Adhe.

"Mau jadi apa kita, kabur mulu dari kelas?" Keluhku.

"Daripada jadi lumut di kelas, kakiku sampai kesemutan." Kata Arifin.

Kami melahap tempe mendoan nikmat buatan Mbak Yum, dengan kecap dan irisan cabe rawit tentunya. Penawar rasa kantuk yang sempurna, atau penawar rasa lapar. Ah, aku hampir tak bisa membedakan itu kantuk atau lapar. 

Hari itu, Arifin pulang lebih awal tanpa memberitahu aku dan Adhe. Pasti vertigo nya kambuh lagi. Apakah hanya aku yang tahu, atau ada teman lain yang tahu. Aku tidak ingin terlalu besar kepala, menerka nerka kalau ia hanya memberitahuku seorang. Meskipun aku berharap begitu. Aku tak pernah memberitahu siapapun. Tidak pernah sekalipun. 

Arifin pernah mengalami cedera kepala sewaktu ia menjadi kakak tingkatku. Kecelakaan bermotor membuatnya koma saat itu. Kejadian itu memaksanya untuk menunda kuliah. Sekembalinya ia ke kampus. Ia menjadi teman sekelasku. Hmm ajaib ya. Saat seseorang yang dulu dikagumi tiba tiba menjadi dekat, bahkan sangat dekat. Berbagi, bercerita tentang kegundahan hatinya, tentang betapa tidak percaya dirinya ia jika bertatap muka dengan sosok yang ia cintai. Betapa aku cemburu pada sosok sempurna yang selalu ada di pikiran Arifin. Saat bersamanya, rasaku yang ingin berdegup selalu bertahan ditempatnya. Enggan memperlihatkan wujudnya, menjelma menjadi sahabat yang selalu mendengar dengan penuh airmata di hatinya. Aku tak ingin kehilangan Arifin. Cukuplah ia menjadi sahabatku, bukan kekasihku. Ia selalu merasa tidak sempurna. Kini ia seringkali mengalami vertigo jika kelelahan atau imunitasnya menurun. Merasa hidupnya tidak lama lagi. Merasa kalau cita citanya untuk pergi ke negri sakura takkan pernah terwujud. Arifin menjadi sosok yang lebih tertutup. Namun entah mengapa, ia selalu menceritakan semua keluh kesahnya kepadaku. Mengapa aku? Kenapa harus aku? 

Hari itu, senja memerah di ujung barat asrama. Aku tak melihat sosok Arifin seharian ini. Betapa aku memikirkannya seharian penuh. Di sudut kamarku, di meja belajar paling ujung aku terduduk. Memandang jendela kamar Arifin di bangunan asrama sebelah. Tidak ada tanda tanda kehidupan. Pintu dan jendela balkonnya tertutup rapat. Aku pun mengambil buku gambarku, menggoreskan pensilku, mewarnainya dengan kuas dan cat airku. Bunga Sakura merah muda yang mekar hanya untuk Arifin, untuk impiannya yang kuharap terwujud. 

 

Dan sakura pun berguguran 

Diatas kepala kami yang berjalan bersisian

Apakah harus sempurna untuk mencinta

Apakah harus cinta memendam rasa

Membungkam pada senyuman

Memekik pada jeritan yang tak terdengar

Menahan jiwa menahan cinta

Apakah harus demikian

Yogyakarta, Juli 2004

Rere

 

Puisi untuk Arifin pun tertulis pertama kalinya di buku catatanku. Pikiranku menolak untuk jatuh pada cinta yang tak terungkap ini. Mungkin aku harus mengungkapnya hanya pada sepatu fantovel putihku yang seolah tersenyum dari sudut jemuran. Memintaku untuk segera menyimpannya di rak sepatu.

"Ah iya, cucianku... ." Setumpuk baju kotor sudah menantiku. Life is about killing time. Huuuh

 

  • view 91