Ibu, titik.

Dian  Djanis
Karya Dian  Djanis Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 06 November 2016
Ibu, titik.

Sekuat apa dirimu? 

Apakah mendekati kuatnya ibumu? Jawabanku tidak. Seangin pun tak mendekati. Kita seakan lupa perempuan yang menengadahkan tangan untuk keselamatan kita. Untuk kesehatan putrinya. Untuk kelancaran anak rahimnya. Sementara kita terlalu hikmat menangis untuk lelaki yang sepertiga hidup kita pun mereka tak tahu. Lalu berhenti dalam waktu yang lama. Patah hati disebutnya. 

Lalu pernahkah kita berpikir ibu kita juga pernah patah hati karna putri kecilnya? 

Ibu, selama ini aku lupa susahnya membesarkan anak perempuan sepertiku. Keras kepala. Aku memang sering diam di depanmu. Tapi seringkali keputusan setelah diamku mengalirkan sungai di pelupuk matamu. 

Ibu, selama ini aku lupa entah seperti apa perasaanmu ketika gelak tawa dan air mataku lebih sering kutumpahkan kepada laki-laki yang pada akhirnya menghujamkan sembilu di hati terdalamku. Dan saat sakit itu kuterima. Aku menyadari luka seperti apa yang bersemayam di tubuhmu selama ini. Dan mungkin apa yang kualami tak ada apa-apanya dibandingkan punyamu.

Ibu, adakah aku bisa menjadi perempuan sekuatmu? Bahkan mengatasi diriku sendiri pun aku tidak sanggup. Apalagi kelak membesarkan dan menghadapi anak sepertiku. 

Ibu, setelah banyak hal yang kualami. Aku terkadang berpikir menyerah. Putus asa. Ingin berhenti. Maafkan aku, Ibu. Berpikiran sesempit itu. 

Ibu, anakmu mungkin butuh waktu untuk menjadi lebih baik. Dan Ibu teruslah bersamaku. Maafkan sekali lagi kalau putri kecilmu masih sering mengumpan beberapa bening air di pipi lusuhmu karena menahan rindu terhadapku yang jarang "pulang" ke rumah.

Anak perempuan lemahmu ini akan bakti terhadap nasihat terus menerusmu.

Nak, letakkan kepalamu di sajadah. Lama. Maka kamu akan mengerti. Tuhan lebih dekat dari urat nadimu sendiri. Dan kelak, jangan goyah jikalau ibu telah tiada.

 

Remainder, 

Aku mencintaimu tanpa batas, Ibu

di 45 derjat Bingkai Merapi,

 

  • view 205