Di bawah Hujan

Dian  Djanis
Karya Dian  Djanis Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 30 Oktober 2016
Di bawah Hujan

Hujan di akhir-akhir Oktober,

Saat hujan tak semenenangkan biasanya. Tiap tetesnya terkesan memberondongku dengan pertanyaan sekaligus penjelasan. 

Air mataku mengalir. Bahkan hujan menghakimiku, batinku. Sesak. Dan pikiran itu pun memburuku lagi. Keputusasaan, penyesalan. Kenapa harus dia? Kenapa aku? Pertanyaan yang tak henti-hentinya kuuapkan.

Kenapa Tuhan yang harus kau debat? Sedikit pun kau tak punya pengetahuan apa-apa tentang itu. Kenapa  jadinya Tuhan yang harus menyesuaikan denganmu. 

Aku hanya tidak mengerti. Mesti telah kupikirkan ratusan kali. Aku tak menemukan satu pun alasan. Kenapa aku harus ditinggalkan. Kenapa aku yang mesti sendirian. 

Hujan merebak sebegitu derasnya. Seakan itu pertanda. Pertanyaanku mengusik ketenangannya.

Harusnya pertanyaan tak bersyukur itu tak mesti keluar dari mulut mungilmu, Sayang. 

Kenapa kau harus menghukum dirimu sendiri? Kenapa kau harus menyiksa batinmu, lantaran kau disakiti? Kenapa kau harus rubuh, lantaran kau dicampakkan?

Pertanyaan itu menyusup bak godam yang melesak ke ulu jantungku. Air mataku tak bisa kutahan lagi. Hujan ini benar-benar menyiksaku. Di luar hujan tak bisa di bendung lagi. Begitu pun di perairan mataku.

Ketahuilah, Sayang. Buka matamu. Kau tak perlu bertanya kenapa harus sendirian. Itu sudah hukumnya, Sayang. Bahkan tiap-tiap tetes dari kami pun sendirian. Diantara belantara masing-masing tetesnya. Bahkan burung pun sendirian diantara ratusan yang membentuk formasi  indah di langit. Angin sendirian. Bintang pun sendiri-sendiri diantara mereka yang bersinar dan berserak di langit malam. Itu sudah fitrahnya, Sayang. Sendiri-sendiri. Semua tergantung dari mana kau melihatnya.

Begitu pun manusia. Kalian dilahirkan dalam keadaan sendirian. Dan kelak mati pun dalam kedaan sendirian. Soal orang lain, teman, partner hidup, sahabat. Itu titipan, Sayang. Bahkan sekalipun orang di dunia temanmu. Kau akan tetap sendiri. Fitrahnya. Dan sebaliknya, Sayang. Ketika semua orang di muka bumi ini bersekongkol meninggalkanmu. Itu tidak jadi masalah. Asalkan dirimu tidak pernah berpisah dari dirimu sendiri. Dan menjadi kuatlah, Sayang.

Hujan mereda. Seiiring tangisku yang mengalirkan hikmah . Yang tertinggal hanya dingin dan sepenggal pemahaman. Percakapan hujan sore ini usai. Maghrib memanggilku. Tiba waktunya percakapan dengan Pemilikku.

  • view 248