Persimpangan Jalan, Persimpangan Zaman

Diana Syifa
Karya Diana Syifa Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 05 Februari 2016
Persimpangan Jalan, Persimpangan Zaman


Pedal itu berputar pelan, menuruti apa yang dimau pemilik sepeda. Raka duduk diatasnya, menikmati setiap udara pagi yang menghidupinya. Pandangannya beredar santai, mengamati apapun yang dilewati. Tak ada resah, hanya senyum yang selalu mengembang

?

Raka. Dia akan selalu seperti itu setiap pagi. Bersepeda santai, menikmati apapun. Menikmati hidup, sebelum menjadi berat pada siang harinya. Ada banyak jalan yang dilewati, namun ada satu rute wajib yang selalu dilalui. Entah, dia hanya suka saja.

?

Hari ini pun tak berbeda. Rute wajib itu tetap ada. Tetapi pada salah satu sudut persimpangan jalan, ia memilih berhenti. Mencoba mencerna apa yang baru saja terlihat. Rasanya, pemandangan seperti itu selalu ada, setiap hari, setiap pagi, setiap dia lewat, tak berubah.

?

Di salah satu sudut persimpangan, terdapat sebuah toko tua dengan sedikit pelataran didepannya. Toko tak bernama yang mungkin lebih tepat disebut warung atau setidaknya toko kelontong. Di toko itu tergantung beberapa barang barang rumah tangga, dan toples toples berisi apapun di atas rak kaca yang suram. Terlihat tak menarik memang.

?

Yang mengusiknya adalah, di depan toko itulah sang pemilik selalu duduk setiap paginya. Ya.. hanya duduk saja. Seorang kakek dengan pakaian seadanya, dan sorot mata sendu. Hampir 3 bulan Raka menggeluti hobi barunya, bersepeda pagi, dan selalu mendapat pemandangan yang sama di sana.

?

Rasa penasarannya tergugah, dan dengan penuh tanya, dia datangi toko itu. ?Si kakek sedikit terlonjak melihat kehadiran pembelinya.

?

?Maaf kek, apa ada air mineral?? tanya Raka sesopan mungkin

?

?Oh... ada. Sebentar saya ambilkan.?

?

Si kakek berdiri perlahan, dan masuk ke tokonya. Tak lama ditangannya telah tergenggam sebotol air mineral dan langsung menyerahkannya pada Raka.

?

?Ini mas... Rp 2000,00?

?

?owh...iya kek... ini uangnya, terima kasih? ucap Raka, disambut senyum hangat sang kakek.

?

Selanjutnya Raka tak begitu saja meninggalkan toko itu. Dia memilih duduk di tempat yang tak jauh dari tempat kakek tadi duduk. Membuka segel air mineralnya dan meneguknya cepat. Selain penasaran, dia memang haus.

?

Si kakek, mendatangi tempat duduknya kembali, dan terlihat tak keberatan dengan kehadiran Raka di dekatnya. Kakek tadi tersenyum lagi dan sejurus kemudian memilih melempar jauh pandangannya.

?

Pelan pelan didekatinya kakek tadi, dan mencoba mengajak bicara.??Toko ini sudah lama berdiri ya kek?? Raka asal saja memilih pertanyaan awalnya. Si kakek menoleh ke arahnya dan menjawab, ? Iya mas... bahkan sebelum saya lahir, toko ini sudah ada?

?

?Maaf kek, kenapa kakek suka sekali duduk di sini setiap pagi? Setiap saya lewat persimpangan ini, selalu ada kakek disini? tanyanya hati hati.

?

Kakek tersenyum lagi dan, ?ow... tidak mas, hanya kadang sekedar merenung saja?

?

?merenung kek? Merenungkan apa? Maaf kalo boleh tahu..?

?

?Waktu saya kecil, toko kami ini ramai didatangi orang. Setiap hari, bahkan setiap jam selalu ada pembeli. Nasib toko ini masih bagus. Banyak temannya yang memilih tutup.?

?

Raka tertegun, dan si kakek melanjutkan sembari mengarahkan jari tangannya ke sudut lain persimpangan, ?Lihatnya di sudut sana. Banyak motor terparkir. Orang lalu lalang setiap detiknya keluar masuk pintu toko yang besar itu.?

?

Raka menuruti apa yang diminta si kakek, dan mulai mengerti apa maksudnya. Tanpa sadar, ia berucap lirik yang ternyata terdengar oleh si kakek, ?kapitalisme?.

?

?Saya sering mendengar apa yang baru saja kamu ucapkan. Tapi saya tidak begitu mengerti apa itu kapitalisme, eksploitasi buruh, dan kata kata ajaib lainnya yang sangat asing ditelinga. Yang saya tahu, sejak toko besar disudut sana berdiri, toko saya menjadi sepi. Banyak orang memilih pergi ke sana dari pada toko yang dulunya ramai ini.? Mata si kakek terlhat sedikit berkaca kaca.

?

Raka terdiam, tidak tahu apa yang musti dikatakan. Dia merasa tanpa sadar mungkin telah ikut andil dalam kesedihan orang tua disampingnya itu. Jika diminta memilih, antara membeli barang di toko besar sudut sana dan toko sederhana dibelakangnya, dia tidak munafik akan meilih toko besar itu. Disamping nyaman, semua yang ia butuhkan ada. Tapi hari ini, Raka melihat bukti nyata kesuraman dari kenyamanan yang didapatkannya. Melihat dari sudut yang berbeda.

?

?Kenapa kakek tidak menutup saja toko ini, dan mencoba pekerjaan lain, atau merenovasi toko ini?? tanyanya.

?

?Saya tidak sampai hati untuk menutupnya. Ayah saya berpesan untuk selalu menjaga toko ini. Jika ingin merenovasinya, uang dari mana? Bisa untung sedikit saja sudah bagus.?

?

?maaf... anak bapak? Bukankah bisa membantu??

?

?anak saya tidak mau menjaga toko ini. Dia memilih menjadi buruh di pabrik. Saya tidak punya cukup uang untuk menyekolahkannya sampai perguruan tinggi, jadi cuma tamat sma. Dan apa yang bisa didapatkan lulusan sma? Sedang katanya sarjana saja banyak yang menganggur.?

?

Skak mat ! Sekali lagi Raka tidak berkutik. Dia tak tahu apalagi yang akan ditanyakannya. Semakin dia bertanya, bentangan sisi luar kehidupannya semakin jelas. Dan Raka tidak sampai hati untuk melihat bentangan selanjutnya.

?

Melihat Raka yang terdiam, si kakek berkata pelan, sembari tersenyum entah yang keberapa kalinya, ?Biarlah toko ini tetap ada, walau koma, dan pada akhirnya kami tenggelam bersama. mati bersama.?

?

  • view 170