Jejak - Jejak Pertemuan

Diana Syifa
Karya Diana Syifa Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 27 Januari 2016
Jejak - Jejak Pertemuan

Senin, 4 Januari?2016, pukul 16.50

?Ran? gimana prototype? Uda??, tanya Dito dari meja kerjanya.

?Andiiii?. Ini gimana jaringan nya. Kok gak stabil gini. Anak marketing bentar lagi mau upload tuh? teriak pak Edo.

?Mbak, laporan buat besok Rabu, Selasa siang uda harus cetak ya?

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Semua orang sibuk. Suara mereka bersahutan riuh rendah. Aku memilih memejamkan mata sesaat, menciptakan hening untukku saja. Jam di tangan menunjukkan pukul 16.55. Saatnya pulang, kataku lirih.

Motor yang ku kendarai melaju dengan kecepatan sedang. Andai saja dia mampu, mungkin aku tak perlu kendalikan arah. Dia tahu betul kemana harus menuju. Setiap harinya, 5 kali dalam seminggu, tak jauh dari pukul 17.05. Banyak orang menyebutnya rutinitas. Entah jika sudah berubah.

Dalam perjalanan, seringkali aku memperhatikan banyak hal. Sepasang muda mudi yang sedang berbincang riang di atas motor mereka, seorang bapak dengan jaket lusuh yang tak henti melirik arloji di pergelangan tangannya, pedagang bakmi keliling dengan peluh keringat yang terus mendorong gerobak nya, dan banyak lagi raut muka dengan berjuta ekspresi.

Aku tersenyum. Simpul saja.

?

Selasa, 5 Januari?2016, pukul 16.50

Layar laptop di hadapanku sudah mati 5 menit yang lalu.? Tak ada yang lebih membahagiakan, dari bayangan sebuah rumah yang penuh dengan canda. Aku tak sabar ingin pulang.

Kedua kalinya dalam minggu ini, motorku melaju di jalan yang sama dan tujuan yang sama. Semuanya sama. Kecuali waktu. Akankah kita bertemu orang yang sama setiap harinya? Sekalipun bukan orang yang kita kenal? Mungkin.

Sekali lagi, aku melihat bapak kemaren sore dengan jaket lusuh yang masih saja melirik arloji di pergelangan tangannya. Bahkan, aku kembali bertemu pedagang bakmi keliling dengan peluh keringat, yang tetap semangat mendorong gerobak nya. Seingatku, hanya warna kaos nya yang berubah.

Sebuah senyum tersungging dibibirku.

Tanpa disadari, besar kemungkinan kita bertemu orang yang sama setiap harinya. Bisa teman, saudara, bisa bukan siapa-siapa.

?

*sumber gambar : http://googglet.com/images/new york black and white photos

  • view 210