Jodoh

Dian Nafasah
Karya Dian Nafasah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 26 Februari 2016
Jodoh

Hai langit. Hari ini kamu terlihat mendung sekali. Awanmendung semakin ramai berkumpul diatas bumi Bandung. Apakah kamu akan benar-benar menurunkan hujanmu, langit? Ah, terserah. Mau kau turunkan atau tidak hujanmu, toh aku tetap akan memilih naik angkot. Kau tau kenapa, langit? Sebab, aku bosan dipermainkan olehmu. Aku lelah dengan harapan palsumu. Aku tidak mengerti bagaimana prosesi hujan itu turun. Aku kira mendung menandakan hujan, ternyata tidak selamanya mendung berarti akan hujan. Kadang, mendung sudah bergeser ke bagian mana, hujan tetap turun di bagian mulanya sebelum bergeser. Aneh kan? Baiklah, terserah padamu langit, mau jadi hujan atau tidak, nyatanya aku sudah memutuskan untuk naik angkot bersama temanku, Windu.

Siang itu, aku dan Windu berdiri di sisi jalan menunggu angkot Cicaheum-Ledeng. Untuk membunuh jenuhnya menunggu, aku mengajak ngobrol Windu. Membahas pengisi acara yang akan kami ikuti. Cukup lama kami menunggu, angkot belum juga datang. Kami berdua terdiam. Dalam diam itu, aku memikirkan sesuatu. Tidak lama kemudian, angkot yang ingin kami tumpangi melintas. Kami memilih duduk di depan, disamping supir. Setelah duduk dengan nyaman, aku mengatakan sesuatu kepada Windu.

?Ndu, nunggu jodoh tuh kaya nunggu angkot ya..?

?Hah? Maksudnya??

?Ini sih pendapat aku ya, Ndu. Tadi, selama kita diam nunggu angkot, aku memikirkan sesuatu. Nunggu jodoh tuh kaya nunggu angkot ya.? Aku diam sebentar lalu melanjutkan , ?Sepanjang menunggu disamping jalan, ada teramat banyak kendaraan yang berlalu lalang didepan kita. Melaju menuju tujuannya masing-masing. Tapi kita masih berdiri ditempat kita tadi, menunggu kendaraan yang sesuai tujuan kita datang. Mungkin seperti inilah cara Allah mempertemukan kita dengan ?seseorang?. Pertemuan atas dasar tujuan yang sama.?

Aku melirik ke arah Windu. Ingin mengetahui apakah Windu sudah paham atau belum dengan kalimatku.

"Terus?" kata Windu.

Sepertinya, Windu masih belum sepenuhnya mengerti kalimatku. Aku melanjutkan, ?Sama halnya dengan hidup kita. Sekalipun banyak orang berlalu lalang dalam hidup kita, namun hanya yang bertujuan yang sama yang akan mempertemukan kita dengan jodoh kita. Bukankah selama ini begitu cara Allah mempertemukanku dengan kamu selama ini? Sama-sama memiliki tujuan yang sama, yaitu sama-sama ingin sukses berbisnis. Kita sama-sama menyukai dunia perbisnisan sehingga ketika ada seminar tentang bisnis, aku sama kamu pasti semanget ngedatengin. Mungkin hal yang lain juga sama. Seperti dipertemukan dengan teman satu organisasi, satu kelas, dan sebagainya.?

Air muka Windu menjadi cerah. Windu mulai memahami apa yang aku katakan.

?Oh iya ya. Selama kita menunggu tadi, sebenernya banyak angkot yang lewat depan kita terus nawarin, ?Neng, Kalapa, BIP", ?Neng, Stasiun?" dan banyak yang lain. Ga cuma satu-dua juga yang nawarin.? Banyak. Tapi, karena bukan itu angkot yang akan membawa kita ke tujuan kita, makanya kita ga mau. Sama halnya dengan jodoh. Walaupun banyak laki-laki yang mendekati, tapi karena dia ga sesuai dengan tujuan atau visi-misi berumah tangga yang kita pikirkan, makanya ya ga mau.? Windu mengonfirmasi apa yang dia pahami dari penjelasanku.

?Naah, iya gitu. Satu hal lagi, pertemuan dengan seseorang itu di waktu yang tepat. Pasti sebelum kita menunggu tadi, ada angkot Caheum-Ledeng yang lewat, tapi mungkin saat itu kita masih jalan menuju tempat kita menunggu, makanya ga ketemu. Sama halnya saat ini kita sedang berjalan menuju ke suatu persimpangan, dimana kita akan bertemu dengan seseorang yang tepat diwaktu yang tepat.?

Windu mengangguk-angguk. Mang angkot yang mungkin juga ikut mendengarkan diskusi kami, ikut menimpali.

?Berarti Mamang jodoh Eneng dong.?

?Hahaha? kami bertigapun tertawa.

  • view 241