Nona penunggu Tuan

Dian Nafasah
Karya Dian Nafasah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 24 Februari 2016
Nona penunggu Tuan

Pada suatu dermaga, duduklah seorang Nona yang beberapa hari lalu ditinggal lelakinya. Lelakinya pergi bersama Nona lain yang menang jauh di bandingnya.? Lebih cantik,? lebih kaya dan tentu lebih ramping tubuhnya. Maka, berdukalah sang Nona. Diratapinya lelaki yang sangat dicintainya pergi dari hidupnya. Didermaga ini kali terakhir dia menatap wajah sang pujaan hatinya. Lelakinya pergi meninggalkan desa menuju kota. Bersama Nona barunya, lelakinya pergi dengan hati berbunga. Sedangkan hatinya, terluka tiada tara.

?

Maka muncullah tabiat buruknya. Duduk sendiri ditepian dermaga menunggu lelakinya kembali. Berharap lelakinya sadar akan cintanya kemudian berpulang lagi. Duduk dari awalnya siang hingga awalnya malam. Dari matahari sedang terik-teriknya hingga hilang dari pandangan mata. Sang Nona tak pernah jemu menunggu. Baginya, harapan itu masih ada. Lelakinya akan kembali menyapa dan mereka akan bahagia.?

?

Dari tempatnya duduk termangu

Ada detik jarum jam yang terus berputar

Seolah berkata

"Hey, Nona. Sudah berapa ribu kali aku berputar mengelilingi angka 12 engkau masih saja duduk disitu.

Masih saja isi lamunanmu tentang laki-laki itu.

Tidakkah ada padamu keinginan untuk meninggalkan masa lalu?"

?

Dari tempatnya duduk menunggu

Ada seekor kucing yang duduk manis menjilati tubuhnya sendiri

Sesekali mata kucing itu menatap tajam padanya

Seolah berkata

"Hey, Nona. Apakah gerangan yang engkau tunggu?

Hingga aku bangun tidur dan selesai membersihkankan tubuhku

Engkau masih saja duduk disitu.

Engkau, menunggu laki-lakimu?

Tidakkah engkau biarkan saja dia pergi berlalu?"

?

Dari tempatnya duduk membisu

Sebuah kursi mengumpat dengan kasar

"Hey, Nona! Dasar kau bodoh!

Kau buta, tuli dan bisu!

Segeralah beranjak dari atasku!

Aku bosan diduduki orang bodoh sepertimu

Yang selalu meratapi kepergian lelakimu

?

Tidakkah kau lihat, dengar dan rasakan

Puluhan orang menyayangimu

Puluhan orang mengkhawatirkanmu

Atau setidaknya, lihatlah ibumu

Menangis meraung-meraung meratapi kepergian anaknya

Kau ada tapi tidak ada baginya"

?

Dari tempatnya duduk membatu. Seorang kakek tua duduk berbaju lusuh. Didepannya ada mangkuk kecil berisi recehan. Sang Kakek menatap sang Nona dengan pilu. Diucapkannya sebuah kalimat pendek, "Wahai Tuhan, apa yang akan terjadi pada negeri ini? Apa yang terjadi pada pemuda-pemudi masa kini?"

Kakek tua itu menangis. Teringat pada kalimat sang Presiden Pertama, "Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia". Kalimat yang kakek tua itu dengar langsung dari pidato Presiden semasa mudanya ikut memperjuangkan kemerdakaan. Kakek tua itu menangis. Meratapi betapa berbedanya dulu sewaktu beliau menjadi pemuda dengan pemuda masa kini. Oh Tuhan, apa yang akan terjadi pada negeri ini?

  • view 177