pertemuan sederhana

Dian Nafasah
Karya Dian Nafasah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 17 Februari 2016
pertemuan sederhana

Pagi kembali menyambut. Rupanya cerahnya pagi ini disambut gembira oleh kicauan burung. Akan terjadi apa hari ini? Entahlah. Yang jelas, akan ada pertemuan-pertemuan sederhana dengan orang yang berlalu lalang dijalanan. Akan jadi apakah pertemuan sederhana itu? Hanya sekedar angin berlalu? Atau akan diingat selalu? Seperti pertemuan sederhana kita di emperan toko seminggu yang lalu.

?

Langit yang terlihat begitu cerah, mendadak mengguyurkan hujannya pada bumi. Aku dan kamu yang sama-sama sedang melintas di jalan itu berlarian mencari tempat untuk berteduh.? Aku dan kamu berteduh dibawah atap yang sama. Sebuah emperan toko. Pertemuan sederhana kita di jalanan, membuat kita saling mengadu. Tentang langit yang tetiba menjatuhkan bulir airnya yang deras tanpa ampun.

"Ah, kenapa tiba-tiba hujan begini sih.." protesmu.

Aku, yang sedang mengusap-usap kerudungku yang basah ,mendengar kalimatmu, refleks ikut mengadu. "Iya. Padahal tadi langit terlihat cerah."

Kamu yang merasa kalimatmu disambung olehku, memalingkan wajahmu kepadaku. Aku yang merasa diperhatikan olehmu mendadak berhenti mengusap-usap kerudungku yang terkena bulir air hujan dan balik menatapmu. Entah apa yang membuat kami berdua spontan tertawa kecil saat itu dan terdiam beberapa saat. Merasa aneh dengan keheningan aku dan kamu yang tadi sempat tertawa bersama, akhirnya kamu menyodorkan tanganmu.

"Farhan"

"Lia"

Dan, menit-menit selanjutnya berisi tentang obrolan ringan seputar pekerjaan kami masing-masing. Tentang bos yang selalu meminta datang 10 menit sebelum jam kerja. Tentang gaji yang akan dipotong jika terlambat. Tentang tempat tinggal kita masing-masing. Aku dan kamu kehabisan cerita. Aku dan kamu kembali terdiam. Namun, tiba-tiba? kamu berjalan pergi meninggalkanku. Padahal hujan masih deras. Aku bingung kenapa kamu tiba-tiba pergi. Apa ada yang salah dengan ucapanku? ?Aku menundukkan kepalaku memikirkan percakapan tadi. Tidak lama kemudian, kamu kembali dan menyodorkan satu gelas plastik berisi kopi.

"Nih minum. Biar ga kedinginan banget." katanya

Sayangnya hujan? reda. Hujan hanya mampir sebentar. Barangkali hanya untuk membuat aku dan kamu bertemu. Barangkali hanya ingin membuat pertemuan sederhana kita bukan sekedar angin berlalu tetapi yang diingat selalu.

?

Hujan menghilang tanpa menyisakan sedikitpun bulir airnya. Tidak ada lagi gerimis. Langit kembali cerah seperti sedia kala. Lalu, aku dan kamu berpamitan.? Kembali pada kehidupan kami sebelum obrolan sederhana itu dimulai. Kembali pada masing-masing tujuan yang hendak dituju sebelum bertemu. Sayangnya aku tidak tahu, pergiku akankah benar-benar pergi, atau masih ada yang sengaja kutinggalkan pada emperan toko itu. Semacam, harapan untuk kembali bertemu. Tapi entah bagaimana kamu..

  • view 116