Lihat ke dalam diri

Dian Nafasah
Karya Dian Nafasah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 18 Agustus 2017
Lihat ke dalam diri

 

Alam mengajak Uni JJGJ tapi di taman kota. Taman yang bunga-bunganya sedang ramai bermekaran. Bunga anggrek, krisan, matahari, mawar, melati dan banyak bunga lain. Bunga-bunga itu seolah ikut memeriahkan hari kemerdekaan. 
Uni memilih duduk di bangku taman di pinggir jalan. Dipandanginya keadaan sekeliling. Orang-orang sibuk berselfi dengan latar bunga dan bendera merah-putih. Diantara orang-orang yang dilihatnya, ada Salma salah satunya. Mata Uni lekat memandangi Salma dari kejauhan. Alam ikut-ikutan Uni. 
"Segitunya mandengin rival."
"Eh? Enggak kok, Kak. Malah saya kagum. Kagum sama kecantikan dan kepintaran teh Salma. Nggak aneh sih kak Panji milih teh Salma. Oh ya, katanya Desember nanti teh Salma mau pertukaran pelajar ke Amerika ya?"
"Saya dengar sih begitu."
"Waah. Pasti asik keluar negeri lagi pas musim salju. Pasti cantik banget pemandangannya. Jadi pingin juga."
"Kebiasaan kita memang lebih suka melihat diluar kita dibanding apa yang ada di diri kita. Jatuhnya, kita tak bisa melihat sisi menarik dari yang dimiliki."
Kali ini, Uni tak paham arah pembicaraan Alam. Entah apa yang sebenarnya hendak Alam katakan.
"Kak, saya nggak paham e apa yang mau kak Alam katakan."
"Indonesia tak perlu musim salju untuk memiliki pemandangan yang cantik. Gugusan gunung yang menjulang tinggi dan hamparan hutan tropis itu juga mampu memikat hati. Banyak orang datang ke Indonesia untuk itu. Kecantikan alam Indonesia tak bergantung musim tertentu. Kecantikannya ada pada setiap musim. Setiap negara memiliki kecantikannya masing-masing, Ni. Kita terlalu sibuk megagumi keindahan alam negara lain, tapi keindahan alam negeri sendiri tak dilirik."
Uni menggangguk setuju. Alam selalu mampu membuatnya memahami hal baru dengan mudah.
"Ni, menurut kau bunga anggrek cantik nggak?"
"Cantik, Kak."
"Krisan?"
"Cantik."
"Mawar?"
"Cantik. Semua bunga cantik, Kak."
"Kau benar. Semua bunga cantik. Anggrek tak perlu memiliki kelopak seperti krisan untuk menjadi cantik. Krisan tak perlu meminjam warna merah dari mawar untuk menjadi cantik. Sama seperti semua orang memiliki 'kecantikannya' masing-masing. Semua cantik sesuai takarannya. Semua cantik dengan apa yang di anugerahkan padanya."
Sekali lagi, Alam mampu membuat Uni paham dengan analogi-analogi yang ditawarkan Alam. Uni kembali melemparkan pandangannya kepada Salma.
"Kau jangan hanya melihat kecantikan orang lain sampai lupa kecantikan dirimu sendiri."
"Hehe. Siap, Kak!"
"Buat saya, kau cantik dan menarik meski kau tak memiliki apa yang Salma miliki. Seperti anggrek yang cantik meski ia bukan mawar."
Frekuensi kalimat terakhir kurang dari 20 Hz sehingga sama sekali tak terdengar Uni. Meskipun begitu, kalimat ini menggema dibenak Alam.
#cermin #18ke8

  • view 48