cermin RamaDhani 6

Dian Nafasah
Karya Dian Nafasah Kategori Project
dipublikasikan 23 Juni 2017
cermin RamaDhani

cermin RamaDhani


cermin adalah singkatan dari cerita mini, sedangkan RamaDhani adalah nama tokoh dalam cerita, mas Rama dan Dhani. Ini adalah sebuah proyek menulis saya selama bulan Ramadhan. Ada pesan moral pada setiap ceritanya yang bisa dipetik oleh masing-masing pembaca. selamat me-nik-ma-ti.

Kategori Cerita Pendek

283
cermin RamaDhani 6

Mas Rama, Bunda dan Ayah sibuk menyiapkan perayaan kecil-kecilan selepas tarawih untuk Dhani yang berulang tahun. Tahun ini tak ada perayaan seperti biasanya karena jatuh di bulan Ramadhan. Bunda bingung mencari waktu yang pas untuk merayakannya jika harus mengundang yang lain, sehingga hanya membuat perayaan kecil dirumah.

Setelah potong kue dan menikmati kue, mereka duduk-duduk santai di ruang tengah. Tiba-tiba Dhani mengatakan sesuatu yang mengagetkan semuanya.

"Mas, kayanya do'a adek sia-sia deh. Padahal tiap tahun adek minta hal yang sama, tapi nggak juga dikabulkan."

"Heeeh. Nggak boleh gitu. Nggak ada do'a yang sia-sia. Semua do'a pasti dikabulkan. Masa Adek lupa kalau Allah pernah berfirman, 'berdo'alah padaku, maka akan Aku kabulkan.' . Kan adek yang dulu bilang sama mas Rama potongan ayat itu."

Dhani mendesah. "Ngg.. Iya sih, Mas. Tapi ..."

"Hmm.. Gini. Gini, Dek." mas Rama mengambil sebuah mangga yang ada didepannya. "Mangga ini tidak tiba-tiba ada. Tidak muncul secara langsung ketika kita menginginkannya. Mangga ini ada karena dia bertumbuh. Dari mulai biji, memiliki akar, memiliki batang, tumbuh besar, berbunga sampai menghasilkan mangga ini. Semua berproses, butuh waktu. Termasuk apa yang kamu inginkan."

Dhani tampak sedang memahami apa yang dikatakan mas Rama. Namun, Dhani masih saja berkomentar.

"Tapi adek juga udah berdo'anya dari dulu, Mas. Dari tiga tahun yang lalu, lho. Tapi tetap aja belum dikabulin. Jadi aja adek ngerasa do'a adek sia-sia."

Mas Rama mulai memutar otak. Dhani sudah tak lagi seperti anak kecil yang lugu. Kini umurnya sudah menginjak 10 tahun. Dhani sudah mulai menggunakan nalarnya. Mas Rama mencari cara untuk memahamkan Dhani.

"Bunda dulu waktu abis nikah sama Ayah terus ngelahirin mas Rama jaraknya berapa tahun, Bund?"

Bunda mengingat-ingat kenangan masa lalu. Jari-jarinya ikut membantu menghitung.

"Dua tahun-an, Mas. Emang kenapa?"

"Nggak lama berarti ya, Bund. Bunda tahu nggak ada pasangan suami istri yang menanti anak selama 40 tahun umur pernikahan?"

Bunda dan Ayah tak terkejut. Mereka tahu siapa pasangan yang sedang dibicarakan mas Rama. Berbeda dengan Dhani yang tampak sangat terkejut.

"Emang ada, Mas?"

"Ada, Dek. Kebayang enggak menanti seorang anak selama 40 tahun? Tiap hari selalu berdo'a hal yang sama, robbi hablii minashoolihiin. yaTuhanku, anugerahkanlah kepadaku seorang anak yang termasuk orang-orang yang shaleh."

Dhani tampak berpikir. Sepertinya dia mengenal do'a tersebut. "Bukannya itu ayat al-qur'an ya, Mas?"

"Pintar! Itu memang potongan ayat al-qur'an, Dek. Adek tahu itu do'a siapa?"

Dhani menggeleng. Bunda dan Ayah hanya menyimak. Tak mau menjawab meskipun tahu siapa yang sedang mas Rama ceritakan.

"Do'a nabi Ibrahim. Adek tahu siapa anaknya nabi Ibrahim?"

"Nabi Ismail bukan, Mas?"

"Tepat sekali. Nabi Ibrahim berdoa kepada Allah meminta hal yang sama selama 40 tahun. Nggak bosan dan nggak mengeluh. Akhirnya Allaah kabulkan dan diberilah seorang anak yaitu nabi Ismail. Anak  yang sholeh. Anak yang bersedia untuk disembelih. Allaah memberi anak lagi kepada nabi Ibrahim yaitu nabi Ishaq, yang juga sholeh. Sesuai do'a nabi Ibrahim selama 40 tahun. Bahkan nggak cuma anak-anaknya yang sholeh, cucu dan cicitnya juga sholeh-sholeh. Bahkan menjadi Nabi. Allaah memberi lebih dari apa yang nabi Ibrahim pinta."

Adik tampak merenungkan baik-baik apa yang dikatakan mas Rama.

"Jadi kalau adik baru berdo'a selama tiga tahun dan belum dikabulkan, yaa jangan putus asa. Kadang Allaah ingin kita membayar doa kita dengan sesuatu."

"Hah? Pakai apa, Mas?"

"Pakai kesabaran dan keteguhan hati kita. Allaah ingin tahu seteguh apa dan sesabar apa kita sama do'a kita."

Dhani tampaknya memahami apa yang dijelaskan mas Rama. Bunda dan Ayah senang melihatnya. Ayah yang penasaran dengan apa yang Dhani pinta akhirnya bertanya.

"Emang Adek minta apa sama Allaah?"

Dhani tampak malu-malu ingin menjawab. "Adek minta kurus, Yah. Hehehe"

"Hahaha.." mas Rama, Bunda dan Ayah tertawa bersamaan.

"Itu mah nggak cukup do'a aja, Dek. Tapi usaha buat nggak jajan aja juga harus dilakukan. Jadi, Bunda sama Ayah jangan banyak-banyak kasih uang jajan ke Adek. Demi cepat terkabulnya do'a Adek, Bund, Yah. Haha.."

Mas Rama, Bunda dan Ayah lagi-lagi tertawa puas sedangkan Dhani menyilangkan tangan di dada dan memasang muka sebal.

  • view 40