cermin RamaDhani 5

Dian Nafasah
Karya Dian Nafasah Kategori Project
dipublikasikan 23 Juni 2017
cermin RamaDhani

cermin RamaDhani


cermin adalah singkatan dari cerita mini, sedangkan RamaDhani adalah nama tokoh dalam cerita, mas Rama dan Dhani. Ini adalah sebuah proyek menulis saya selama bulan Ramadhan. Ada pesan moral pada setiap ceritanya yang bisa dipetik oleh masing-masing pembaca. selamat me-nik-ma-ti.

Kategori Cerita Pendek

284
cermin RamaDhani 5

Dhani terbujur lemas di kursi ruang TV. Sebentar-bentar dia menengok jam dinding. Memastikan bahwa jarum detik tetap berputar. Sebab rasanya jarum detik itu tak berputar jika dia tak melihatnya. Membuat waktu maghrib datang begitu lama. Acara kartun kesukaannya kalah menarik dengan detik jarum jam dinding yang terus berputar mendekati pukul 17.47 WIB. Mas Rama yang sedang duduk disampingnya sembari mengerjakan tugas skripsi melihat apa yang Dhani lakukan.

"Maghrib masih tiga ribu seratus dua puluh tiga detik lagi. Sabaar dek sabaar ~ "

Apa yang dikatakan mas Rama tak cukup ampuh untuk membuat Dhani berhenti melakukan aktifitasnya tadi. Dhani masih sebentar-sebentar melirikkan matanya pada jam dinding. Seolah jam dinding lebih elok dari siapapun.

"Mending mandi gih. Siap-siap ke rumah pak Ustadz buat setoran."

"Hari ini libur, Mas. Soalnya pak Ustadz mau buka puasa pertama di rumah mertuanya."

Mulut mas Rama membulat.

"Mas Rama kapan buka puasa di rumah mertua ?"

Mas Rama menghentikan jemari tangannya yang sedari tadi sibuk menggarap skripsi. Matanya tajam menatap Dhani.

"......."

"Haha. Iya ampun, Mas. Ampun.. Nggak lagi deh nanya gitu."

Sesaat kemudian mas Rama uring-uringan sebab lupa dengan apa yang mau dituliskannya tadi. Kalimat Dhani membuyarkan apa yang tadi dipikirkan mas Rama.

"Aaaargh! Gara-gara kamu nih mas Rama jadi lupa sama apa yang tadi dipikirin."

"Sabar mas sabaar ~ . Hehe. Ngabuburit yuk , Mas. Mas Rama juga bingung kan mau nulis apa. Mending keluar. Cari takjilan. Yuk?"

Mas Ramapun menyetujui ajakan Dhani.

Begitu sampai alun-alun, Dhani kalap. Dhani membeli banyak jajanan. Kolak, gorengan dan cilok. Kali ini matanya tertuju pada es serut. Namun sebelum kakinya beranjak menuju mamang es serut, mas Rama menarik kerah baju Dhani.

"Mau kemana lagi, Deek? Ini lho udah banyak jajanannya."

"Mau es serut, Maas. Enak kayanya." jawab Dhani. Matanya masih tertuju pada mamang es serut.

Mas Rama mengajak Dhani duduk di sisi alun-alun.

"Adek tahu apa itu arti puasa?"

"Menahan diri dari makan dan minum dari terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari, Mas."

"Ngg.. Iya sih. Tapi ada yang lebih penting dari itu."

"Emang apa, Mas?"

"Menahan diri dari ego. Dari nafsu. Nafsu makan, nafsu minum,  nafsu amarah, nafsu membenci orang, dan nafsu-nafsu lainnya. Dari puasa kita dilatih untuk bisa mengalahkan nafsu. Mengalahkan ego. Adek ingat cerita pak Ustadz tentang perang Uhud?"

Dhani mengangguk. "Yang kalah itu 'kan, Mas?"

"Iya. Adek inget kenapa bisa kalah?"

"Ngg.. Karena pasukan musuh sudah pergi dan pasukan islam merasa sudah menang?"

"Iya. Betul. Tapi sebenarnya mereka sudah kalah sebelum benar-benar kalah di medan peperangan. Mereka kalah dengan ego mereka sendiri. Itulah yang membuat mereka akhirnya benar-benar kalah. Kalah melawan ego sehingga kalah dalam perang. Makanya, kata Nabi perang terbesar itu adalah perang melawan diri sendiri. Perang melawan ego. Kita tak akan pernah berhenti dari perang melawan ego sendiri."

Mas Rama menjeda sebentar.  "Jadi, jangan sampai kita sudah bertarung melawan ego hampir setengah hari lalu kalah begitu saja melihat jajanan-jajanan ini. Sesungguhnya jajanan-jajanan ini adalah ujian akhir kita. Jangan sampai kita kalah,Dek !" Ucap mas Rama sembari mengepalkan tangan. Layaknya seorang petarung sejati.

Dhanipun meniru apa yang dilakukan mas Rama. Dua kakak-beradik itupun pulang dengan dada membusung dan pandangan lurus ke depan menuju tempat parkiran motor. Mengabaikan mamang es serut, mamang es doger, mba-mba seblak, ibu-ibu surabi dan berbagai jajanan lain.

  • view 51