cermin RamaDhani 2

Dian Nafasah
Karya Dian Nafasah Kategori Project
dipublikasikan 29 Mei 2017
cermin RamaDhani

cermin RamaDhani


cermin adalah singkatan dari cerita mini, sedangkan RamaDhani adalah nama tokoh dalam cerita, mas Rama dan Dhani. Ini adalah sebuah proyek menulis saya selama bulan Ramadhan. Ada pesan moral pada setiap ceritanya yang bisa dipetik oleh masing-masing pembaca. selamat me-nik-ma-ti.

Kategori Cerita Pendek

331
cermin RamaDhani 2

Dhani rusuh sendiri. mondar-mandir kamarnya - garasi - gudang - kamarnya -garasi - gudang. Begitu sampai beberapa kali. Dicarinya sesuatu sampai ke berbagai titik di tiga ruangan tersebut. Bunda turut membantu namun tidak juga terlihat apa yang sedang dicari. Dhani semakin kesal dan akhirnya duduk di atas lantai garasi. "Adek capek, Bund."

"Coba Adek minta tolong mas Rama. Mas Rama baru aja pulang. Bunda ada janji sama tante Maya sekarang. Maaf ya, Dek."

"Iya, Bund. Ga apa-apa. Ya udah Adek ke kamar mas Rama dulu."

 "Maaas! Mas Ramaa!" teriak Dhani sambil berlari menuju kamar mas Rama.

Dhani membuka pintu kamar dan menemukan mas Rama sedang tiduran di kasur dengan kepala ditutup bantal.  "Mas, bantuin Adek cari sepatu biru."

Mas Rama beranjak duduk. "Sepatu yang Adek minta ke Ayah sampai ngerengek-rengek itu?"

Dhani menganggguk. "Iya, Mas. Tahu dimana? Adek suka banget sama sepatu itu."

"Kalau suka harusnya dijaga baik-baik dong, Dek."

"Huhu. Iya, Mas. Adek salah. Adek sadar harusnya Adek jaga baik-baik sepatu kesayangan Adek itu." jawab Dhani tertunduk lesu.

"Tuh kan, giliran hilang aja menyesal. Gini Dek, nilai dari sesuatu itu tampak sangat berharga ketika dua hal, pertama ketika belum dimiliki dan kedua setelah kehilangan." kata mas Rama sambil mengangkat jari telunjuk dan jari tengah. "Ketika kita menginginkan sesuatu, pasti sesuatu itu tampak berharga tapi pas udah dimiliki mah biasa aja. Malah seringnya di diemin, dianggurin. Tapi, giliran hilang, baru deh tampak lagi nilai berharganya. Makanya kalau punya sesuatu harus dijaga baik-baik."

Dhani memahat baik-baik kalimat mas Rama.

"Iya, Adek tahu Adek salah. Yuk ah bantuin Adek cari. Nanti sore mau jogging nih sama temen-temen ngaji."

"Duuh, cari sendiri aja ya Dek. Mas Rama lagi sedih nih. Baru aja diputusin sama mba Intan. Padahalkan Mas masih sayang sama mba Intan."

Dhani tampak terkejut. Setahu Dhani selama ini hubungan mas Rama dan mba Intan baik-baik saja. Mba Intan masih sering main ke rumah, masih sering jadi tempat Dhani latihan setor hafalan. Namun setelah dipikir-pikir, Dhani tahu alasannya kenapa mereka putus.

"Makanya, Mas, kalau punya pacar tuh dijaga baik-baik. Jangan didiemin, jangan dicuekin. Mas Rama sih main game mulu. Jadi kan diputusin. Wlee" ejek Dhani.

Mas Rama merasa tertohok dengan kalimat Dhani. Dhani melanjutkan kalimatnya, "Dulu aja pas PDKT sampai mati-matian ngejar, giliran udah jadian eh dicuekin. Nilai dari sesuatu itu tampak sangat berharga ketika dua hal, pertama ketika belum dimiliki dan kedua setelah kehilangan." kata Dhani sambil mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya meniru apa yang dilakukan mas Rama sebelumnya.

Mas Rama diam seribu bahasa. Apa yang dikatakan Dhani semuanya benar. Apa yang dikatakannya tadi berbalik kepadanya.

"Emang Mas nyuekin mba Intan?"

"Iya. Orang kalo ke rumah bukannya ditemenin eh asik main game aja sendiri. Mba Intan malah main sama Adek.  Huuu.. Ayo ah Mas, bantuin Adek cari sepatu." pinta Dhani menarik-narik lengan mas Rama. Namun, mas Rama terpaku ditempatnya. Dhani kesal mas Rama diam saja dan hendak beranjak dari atas kasur. Namun matanya menangkap sebuah plastik putih di bawah meja belajar mas Rama di pojok kamar. Terlihat sebuah sepatu didalamnya. Dhani mengambil plastik tersebut. "Nah! Ini sepatu biru Adek. Alhamdulillaah akhirnya ketemu setelah nyari kesana-kemari. Fhuuuh.."

Mas Rama seperti tersadarkan akan sesuatu begitu mendengar kalimat Dhani. Mas Rama segera bangkit berdiri dan meraih kunci motornya di atas meja. Langkahnya terhenti begitu di depan cermin. Mas Rama merapihkan rambutnya yang acak-acakan.

"Mau kemana, Mas?" tanya Dhani bingung. Tadi mas Rama terlihat lesu dan sedih namun tiba-tiba bersemangat sekali.

"Mas mau ke rumah mba Intan. Kalau Adek saja bisa mendapatkan kembali sepatu kesayangan Adek setelah mencoba mencarinya, maka Mas-pun akan mencoba untuk mendapatkan kembali hati perempuan yang Mas sayangi."

  • view 70