cermin RamaDhani 1

Dian Nafasah
Karya Dian Nafasah Kategori Project
dipublikasikan 28 Mei 2017
cermin RamaDhani

cermin RamaDhani


cermin adalah singkatan dari cerita mini, sedangkan RamaDhani adalah nama tokoh dalam cerita, mas Rama dan Dhani. Ini adalah sebuah proyek menulis saya selama bulan Ramadhan. Ada pesan moral pada setiap ceritanya yang bisa dipetik oleh masing-masing pembaca. selamat me-nik-ma-ti.

Kategori Cerita Pendek

430
cermin RamaDhani 1

Jalanan sudah ramai dengan orang-orang. Dari yang masih bayi sampai kakek-nenek memenuhi jalanan. Terlebih adanya penjual makanan musiman saat ramadhan seperti ini. Ada kolak dengan berbagai varian campuran, gorengan dengan bermacam-macam jenis, kue dengan berbagai ukuran dan segala jenis minuman dingin berjejer dipinggir jalan menjelang buka puasa. Euforia mencari ta'jil memang menjadi hal yang dirindukan .

Jalanan akan semakin ramai dengan anak-anak saat senja mulai muncul. Sebab saat itu anak-anak selesai mengaji dan menyetorkan hafalannya. Selepas mengaji mereka akan berebut menuju pintu keluar untuk segera mecari jajanan yang ingin dimakan hari itu. Namun ada yang berbeda dengan Dhani pada suatu senja. Dhani terlihat tidak begitu bersemangat. Wajahnya menyimpan kesedihan dan ketidakpuasan. Mas Rama dapat melihat dengan jelas hal itu di wajah Dhani.

"Ada kabar apa ditempat ngaji? Kok jadi keliatan sedih gitu?"

Pertanyaan yang selalu mas Rama utarakan kepada Dhani saat menjemput Dhani. Mas Rama ingin menananmkan kejujuran pada Dhani dengan membuat Dhani terbiasa bercerita tentang apa yang sudah terjadi. Mas Rama percaya bahwa setiap anak tidak pernah berani berbohong. Maka dengan membiasakan sedari kecil mengatakan kejujuran pada saat bercerita, ketika besarpun semoga tetap jujur.

 "Mas, tadi di tempat ngaji kedatangan saudaranya ustadz Abi. Dia hafidz, sudah 30 juz. Keren deh Mas hafalannya.  Pertanyaan dari ustadz Abi bisa dijawab semua. "

"Wah hebat dong. Umur berapa, Dek?"

"Seumuran sama adek, Mas. Adek jadi malu deh."

"Karena adek belum bisa hafal 30 juz seperti dia?"

Dhani mengangguk. "Iya, Mas. Tapi ada alasan lain juga."

"Apa?"

"Dia cacat, Mas. Nggak bisa jalan, ngomongnya aja kesusahan. Adek jadi malu deh, dia yang berketerbatasan aja bisa." jawab Dhani dengan sedih.

Mas Rama menekuk lutut. Kini tingginya sama dengan Dhani. "Tidak ada yang  membatasi kita, Dek. Jikapun ada, itu kita sendiri yang membuatnya. Bukan Allah, bukan keadaan. Manusia yang membuat batasan itu sendiri sebagai alasan kemalasan atau keengganan melakukan sesuatu."

Dhani tampak belum mengerti. Mas Rama mencoba memberi penjelasan. "Begini. Contohnya, banyak orang yang kurang mampu enggan bersedekah. Sebab apa? Sebab menurut mereka untuk hidup mereka saja sudah susah, apalagi untuk bersedekah. Padahal sedekah kan nggak harus banyak. 500 rupiah juga nggak apa-apa, yang penting …"

"Ikhlas." jawab mas Rama dan Dhani berbarengan.

"Nah. Sayangnya, mereka membatasi diri dengan keadaannya. Keadaannya dijadikan alasan enggan bersedekah, bukan tidak bisa bersedekah."

Dhani tampak masih mencerna kalimat mas Rama.

"Jadi, orang yang Adek sebut berketerbatasan itu sebenarnya tidak. Sebab dia mampu melakukan. Dia bisa menghafal 30 juz sekalipun dengan fisiknya yang begitu."

Wajah Dhani  menjadi sumringah. Rupanya Dhani sudah memahami apa yang dikatakan mas Rama.

"Hmm. Kalau begitu Adek harus membuang batasan yang Adek buat."

"Emang Adek buat batasan apa?"

"Adek kalau lagi ngafalin suka makin lapar, Mas. Jadi aja suka malas kalau ngafalin. Kan takut puasanya jadi nggak full. Hehe"

"Huu. Itu sih karena badan kamu aja yang gembul makanya cepa lapar."

"Hahaha"

Kakak-beradik itupun tertawa.

  • view 62