Sebuah kerinduan

Sebuah kerinduan

Dian Nafasah
Karya Dian Nafasah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 03 Mei 2017
Sebuah kerinduan

Ini ceritanya tentang keMaha Hebatan Allaah. Tentang keMaha Luarbiasaannya Allaah…

Jadi, setiap pagi kalau tidak mendung, mata saya akan disuguhkan pemandangan yang luarbiasa. Deretan gunung kecil yang jauh dibelakang deretan gunung itu ada gunung Ciremai berdiri dengan gagahnya. Pemandangan yang mensyahdukan. Ditambah suasana pagi ditemani mentari yang hangatnya mencairkan hati. Udah deh nikmat ples bahagianyaa luar biasa..

Lalu, minggu kemarin saya dan teman-teman IPNU-IPPNU jalan-jalan ke Paraland, Majalengka. Dalam perjalanan menuju Paraland, saya dikejutkan dengan pemandangan yang luar biasa. Yaitu deretan gunung kecil yang biasa saya lihat hampir setiap hari namun dalam jarak yang lebih dekat. Dan nyatanya, gunung kecil itu juga sama menakjubkannya di mata saya layaknya Ciremai. Saya sedikit memelankan laju motor untuk menikmati pemandangan tersebut (sebenarnya bahaya sih soalnya ga fokus sama jalan. :D). Saat itu, dalam hati saya krenteg (hmm apa ya bahasa indonesianya, semacam keinginan yang datang tiba-tiba) ingin mendaki gunung itu. Ingin melihat gunung itu jauh lebih dekat.

Dan jreng jreng jreng.. Allah mengabulkan krenteg-an hati saya itu secepat mungkin. Lepas seminggu dari krenteg-an hati, saya kembali mengunjungi Majalengka. Kali ini tujuannya adalah Cadas Gantung. Itupun tak direncanakan sama sekali. Wong abis kondangan terus ga mau pulang dulu, jadilah jalan-jalan aja. Saya juga tak tahu bagaimana dan dimana Cadas Gantung itu. Setahu saya itu tempat wisata alam. Udah itu aja yang saya tahu.

Begitu sampai ditempat, saya langsung berdecak kagum dan speechles. Saya benar-benar dibuat haru sama Allaah. Seketika hati saya langsung basah melihat apa yang saya lihat. Yaitu gunung kecil yang seminggu lalu saya krenteg-kan ingin saya lihat jauh lebih dekat dan saya daki. Saya benar-benar diam seribu bahasa merasakan hal yang luarbiasa ini. Saya sampai tak henti-henti mengatakan ‘terima kasih Allaahku’ dan segala jenis bentuk dzikir.

Rasa-rasanya saya tak percaya Allaah mengabulkan apa yang saya minta secepat itu. Barangkali selama ini saya selalu merasa diuji kesabaran dulu sebelum akhirnya apa yang saya inginkan tercapai. Sehingga ketika Allah langsung mengabulkan tanpa pernah saya bayangkan sebelumnya, saya merasa sangat sangat bahagia. Saya merasa Allaah sayaaaang sekali pada saya sehingga Allaah membuat kejutan yang tak terduga. Itulah alasan saya menyukai kejutan, apalagi dari Allaah. Maa syaa Allaah :’)

Meskipun saya merasa was-was sebab saya mendaki dengan memakai dress dan sandal ber-hak 5 cm, tapi semua perasaan was-was itu kalah dengan rasa bahagia. Saya hanya bermodalkan percaya, jika Allaah ridho saya bisa ada disini, maka semua akan baik-baik saja. Dan kenyataannya memang begitu, saya nyaman-nyaman saja. Walaupun ketika turun saya jadi lebih lama dibanding teman-teman yang lain. Haha. Tapi alasannya bukan hanya kondisi saya sih, juga saya tak mau hendak cepat-cepat meninggalkan pemandangan yang luar biasa itu. Sesekali ketika istirahat, saya kembali memandangi deretan gunung dan samudera langit untuk kemudian saya mengagumi-Nya. Mengagumi Dia yang telah menciptakan alam semesta dengan sangat sangat indah. Maa syaa Allaah..

Selain itu, perjalanan ini juga adalah hal yang sangat saya rindukan selama ini. Saya rindu sekali mendaki. Rindu memandangi alam semesta yang membentang luas. Rindu menciumi bau pepohonan. Lantas, bagaimana saya tak haru dengan kejutan Allaah ini? Rasanya Allaah menghilangkan semua kerinduan saya akan mendaki. Yaa walaupun hanya gunung kecil, tapi saya sangat bahagia. Terima kasih, Allaah.. :’)

Saya jadi teringat momen pertama menjelajah hutan dan mendaki adalah saat SD kelas 4 yaitu di gunung Ipukan. Saya begitu antusias untuk terus berjalan dan melihat-lihat keadaan sekitar. Lalu momen kedua adalah gunung Cupang saat kelas 6 kalau tidak salah. Dan mulai di gunung Cupang inilah rasa suka saya pada mendaki mulai tumbuh. Rasa bahagia ketika sampai di puncak lalu bisa melihat pemandangan sekitar dari atas. Saya masih ingat ketika dipuncak, saya ditemani dengan guru favorit saya. Lalu kami bercengkerama sebentar karena hari semakin terik dan kami harus segera turun. Kenangan yang masih terputar jelas di benak saya.

Sampai saat ini, salah satu impian saya masih sama dan semakin kuat saya semogakan. Yaitu, saya ingin mendaki gunung sekali lagi saja sebelum saya nanti menikah. Sebab saya tak tahu apakah lelaki saya suka mendaki atau tidak. Akan mengizinkan saya mendaki atau tidak. Jadi, saya ingin merasakan lagi momen melihat gugusan bintang dengan lebih jelas, rembulan yang tampak sangat mempesona, merebahkan badan di atas tanah langsung, menyiumi bau rerumputan dan pepohonan, serta memandangi samudera awan di langit. Semoga yaAllaah. Aamiin allahumma aaamiiin..

  • view 146