Angan Senja Senyum Pagi

Dian Nafasah
Karya Dian Nafasah Kategori Buku
dipublikasikan 11 April 2017
Angan Senja Senyum Pagi

Angan Senja Senyum Pagi

karya : Fahd Pahdepie

Angan Senja adalah tokoh utama laki-laki dan Senyum Pagi adalah tokoh perempuan. Nama yang unik bukan ? Tak hanya nama tokoh utama, nama tokoh lainpun demikian. Fajar, Hari, Dini, Embun, Cakrawala, nama-nama bunga dan nama-nama unik lainnya. Dan saya suka! Saya sudah jatuh cinta begitu mengetahui nama tokohnya demikian uniknya. Dan begitu melihat covernya, saya dibuat jatuh cinta lagi. Covernya menggambarkan benar dengan apa yang terjadi dalam ceritanya. Hanya satu babak memang, tapi terasa nyata sekali dalam benak saya gara-gara covernya.

Kisah awalnya sederhana, yaitu tentang anak populer dan anak jenius matematika yang saling jatuh cinta. Kalimat perkalimatnya yang puitis membuat saya tak bosan membacanya. Juga ada beberapa adegan yang membuat deg-degan. Penasaran dengan apa yang akan terjadi berikutnya ketika Angan bertemu Pagi. Mungkin karena masa SMA itu masa yang berkesan di banding masa sekolah yang lain sehingga kisah cinta masa SMA Angan dan Senja mampu membuat saya senyum-senyum sendiri.

Yang asik lagi dari novel ini adalah alurnya yang bolak-balik atau maju-mundur. Sehingga kita dibuat penasaran akan kisahnya. Padahal sedang seru-serunya Angan dan Senja di masa SMA eh di bagian selanjutnya kembali ke masa 17 tahun setelahnya. Masa dimana Angan telah sukses sebagai akuntan dan Pagi telah menjadi Ibu satu anak bernama Embun dengan bakat musik yang luar biasa. Begitupun sebaliknya. Namun itu yang membuat kita ingin terus membacanya. Bang Fahd pas sekali menempatkan perubahan alurnya. Pas kita sedang penasaran-penasarannya! Kadang dibuat jengkel sih dengan alur begitu, tapi justru seru! Apalagi ketika masa SMA itu berakhir dengan adegan menyedihkan yaitu Angan yang lulus pertukaran pelajar ke Amerika dan akan meninggalkan Pagi sedangkan Pagi sudah berniat mengutarakan perasaannya di hari itu juga. Sepertinya patah semua hati Pagi. Dan yang membuat serunya begitu kejadian itu, bab selanjutnya yaitu 17 tahun setelahnya dimana akhirnya mereka dipertemukan kembali.  Saya merasa bang Fahd pas sekali menyambungkan ceritanya. Alurnya menyenangkan. Tak ada cerita selama 17 tahun itu, tapi apa yang terjadi selama 17 tahun itu terjawab ketika Angan dan Pagi bertemu kembali. Pertemuan yang mengejutkan!

 

Pertemuan yang membuat saya  deg-degan. Apa yang akan terjadi dengan mereka? Bagaimana perasaan mereka masing-masing? Seasing apakah mereka? Akankah semua yang terpendam dalam hati mereka masing-masing akan terkatakan? Membuat saya berhenti sejenak dari membaca untuk menebak-nebak apa yang akan terjadi. Dan yang terjadi pada pertemuan itu sudah menjawab perihal apa yang terjadi selama 17 tahun mereka tak bertemu. Namun, jawaban tentang apa yang terjadi pada mereka selama 17 tahun tak bertemu tak lantas menjawab bagaimana takdir mereka berdua nantinya. Akankah mereka bersatu kembali? Akankah penjelasan Angan mampu menggoyahkan hati Pagi yang akan menikah dengan Hari? Bagaimana dengan wasiat ibunya Angan yang ingin agar Angan menikah dengan Dini yang selama ini mengurus ibunya Angan? Pertanyaan-pertanyaan itu membuat saya terus dan terus membaca. Pokoknya dibuat terus penasaran sampai akhir. Keren! Jika diingat-diingat, ceritanya sama kaya Cinta dan Rangga yang bertemu di Jogja. Pertanyaan apa yang terjadi selama 14 tahun dan mengapa Rangga memutuskan Cinta itu terjawab hanya dalam adegan mereka duduk didepan rumah. Tapi apa yang terjadi setelah mereka bertemu itulah yang membuat rasa penasaran semakin besar.

 

Hal yang saya sukai lagi dari novel ini adalah tentang konsep ketakterbatasan, infinity. Yang pernah belajar matematika di SMA harusnya mengenal kata infinity beserta lambangnya. Saya dulu suka sekali dengan lambang ini, tapi tak pernah suka dengan matematika karena tak tahu apa dampaknya dalam kehidupan sehari-hari. Tak tahu untuk apa konsep logaritma, matriks, trigonometri, limit dan lain sebagainya. Namun menemukan harmoni yang indah antara matematika(juga fisika ) dengan musik membuat saya sedikit memahami fungsi matematika(juga fisika).

 

Namun terlepas dari semua yang keren-kerennya, tentu ada sedikit kurangnya. Saya menemukan ada yang rancu di halaman 92, yaitu ketika Angan masuk ke kantin lalu Pagi memanggil Angan dengan keras. Disitu dikatakan bahwa,

'Pagi beranjak dari duduknya dan buru-buru menghampiri Angan yang berusaha jalan dengan tenang'

Tapi di paragraf berikutnya menyatakan,

'Pagi hampir berdiri diatas bangku kantin dan terus melambaikan tangan.'

Tapi kerancuan itu tidak terlalu mengganggu jalan ceritanya sih. Hehe. Selain itu, ada juga beberapa yang typo. Tapi saya lupa dimana aja karena udah lama baca tapi baru bikin catatannya. :D

Akhir kata, pernyataan Reza Rahadian, 'kisah cinta yang dewasa. Liris. Manis. Puitis.' juga menggambarkan apa yang ada dipikran saya. Selamat membaca untuk yang akan membaca !

  • view 88