Nilli

Dian Nafasah
Karya Dian Nafasah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 2 bulan lalu
Nilli

Nilli. Perempuan cilik bermata bulat berambut hitam sebahu itu bernama Nilli. Nilli Karimah. Ibunya menamai demikian dengan harapan gadis ciliknya selalu memiliki nilai-nilai yang mulia. Sebab, Ibunya paham, esok hari akan jarang sekali manusia memiliki nilai mulia. Manusia akan lupa dengan kemanusiaannya.

Tak dinyana, nama yang diberikan Ibunya membawanya pada suatu takdir bernama kepandaian menghitung angka-angka, nilai-nilai. Dari seragam merah-putih sampai abu-abu putih, nilainya nyaris sempurna pada pelajaran matematika. Perhitungannya selalu tepat. Namun Nilli tak pernah tinggi hati. Membuat decak kagum pada setiap guru matematikanya.

Apalagi Ibunya. Ibunya sangat bangga pada Nilli. Ibunya tak pernah tahu darimana kepandaian anak gadisnya dapatkan perihal menghitung. Selama ini, Ibunya hanya pandai menghitung soal berapa kuintal padi yang selesai di panennya menjadi berapa rupiah. Selebihnya, Ibunya tak tahu. Tentang akar, sin, cos, tan apalagi logaritma, semuanya terdengar aneh ditelinga Ibu ketika anak gadisnya sibuk mengerjakan PR didepannya.

"Kalaupun kau pandai bermain angka-angka, jangan lupakan nilai-nilai ya, Nduk. Yang terpenting dari angka adalah nilainya. Angka 9 tak akan bernilai jika kau mendapatkannya dengan tak jujur. Angka 9 sebatas angka, tapi tak memiliki nilai yang tinggi seperti angkanya." Pesan Ibu suatu malam pada Nilli yang sedang asik menghitung. Nilli memahat baik-baik pesan Ibu.
"Namamu Nilli. Yang artinya nilai. Ibu ingin kau memiliki nilai, bukan angka."
"Iya, Bu. Doanya saja biar Nilli memiliki nilai yang baik dan menjadi orang yang bernilai buat masyarakat ."
"Kau sudah jadi orang yang bernilai, Nduk. Setidaknya bernilai dimata Ibu dan Bapak."
Ibu dan anak itupun berpelukan.
~~~
Kepandaiannya menghitung angka-angka membawanya pada jurusan matematika. Semasa kuliahnya, menghitung adalah kawan karibnya. Segala hidupnya penuh perhitungan. Entah di pelajaran atau di organisasi. Pun pada takdir pekerjaan. Nilli di hadapkan pada pilihan untuk mendapatkan pekerjaan dengan gaji bernilai deretan angka yang banyak tapi posisinya tak sesuai keinginannya atau posisi yang nyaman tapi gajinya hanya lumayan.

Nilli mulai memperhitungkan untung-ruginya. Mencatat baik-baik plus-minus pada setiap hal. Apa keuntungan dan kerugian yang didapat.
"Kamu sudah memutuskan mau kerja dimana, Nduk?"
"Masih bingung, Bu."
"Pikirkan baik-baik. Yang penting, jangan me-matematika-kan hidup, Nduk. Atau, kau tak akan pernah mendapat kebahagiaan."
"Akan Nilli ingat, Bu."
Ibu menghela napas. Panjang. Berat.
"Hidup itu tak hanya untung-rugi didunia, ada akhirat yang harus jadi pertimbangan juga. Ada banyak hal yang tak bisa kita hitung dengan perhitungan matematika. Shodaqoh misalnya. Secara perhitungan, uang kita berkurang, tapi nyatanya kita bahkan bisa mendapatkan berkali-kali lipat balasannya selama kita ikhlas." Ibunya menjeda sebentar, lalu melanjutkan. "Yang terlihat baik sekarang belum tentu benar-benar baik. Kita tidak akan pernah tahu kebaikan apa yang akan terjadi dalam hidup kita di masa depan. Yang penting, selalu berdoa semoga apa yang menurut kita baik juga baik menurut Allah."
"Menurut Ibu baiknya yang mana? Baik menurut Ibu kan baik menurut Allaah juga."
Ibunya tersenyum. Bangga. Anak gadisnya bisa berpikiran seperti itu.
"Yang menurut kamu baik. Ibu percaya kamu bisa memilih mana yang baik. Ibu akan ridho pada apa yang menjadi pilihanmu."
Nilli menarik napas panjang. Kuat. Memantapkan hati pada pilihannya. Pilihan yang disemogakan tak hanya baik menurutnya, tapi juga menurut Ibunya, sekaligus menurut Allah.
#cermin #18ke3