tentang senja, hujan dan cerita yang telah usai

Dian Nafasah
Karya Dian Nafasah Kategori Buku
dipublikasikan 06 Februari 2017
tentang senja, hujan dan cerita yang telah usai

Buku ini sebenarnya sudah saya baca sejak desember, namun karena  baru tuntas sekarang, maka buku ini masuk dalam agenda catatan buku yang dibaca di bulan Januari. Buku ini bukanlah novel, melainkan catatan tentang perpisahan.  kebanyakan bercerita tentang dua orang yang jatuh cinta namun berpisah dengan alasan yang berbeda pada setiap judul tulisannya. Bisa karena laki-lakinya atau perempuannya. Tentang tak dipilih padahal sudah berjuang. Tentang ditinggalkan padahal sedang cinta-cintanya. Tentang hujan atau senja yang membuat kisah yang dulu terasa syahdu namun pada akhirnya membuat pilu ketika menikmati hujan atau senja tanpa seseorang itu. Ah, baik hujan atau senja memang pandai membuat kita terjebak masa lalu. Dari judul bukunya itulah yang membuat saya melirik buku ini.

Setelah saya baca, saya dibawa berenang-renang pada masa lalu. Padahal dalam ceritanya, penulis mengisahkan dirinya di masa lalu, namun saya yang membacanya juga ikut terbawa pada masa lalu, tapi masa lalu saya. Itu juga alasan mengapa saya agak lama membacanya karena saya tak mau terlalu hanyut dalam masa lalu sehingga saya tidak bisa menghadapi masa kini. Saya takut kembali tenggelam dalam masa lalu. Maka, saya harus menyudahi bacaan saya ketika saya rasa sudah cukup dalam menyelami masa lalu. Saya harus kembali ke permukaan agar tak terjebak dalam lautan masa lalu.

Setiap kata-katanya indah sekali. Penulis pandai dalam memainkan diksi sehingga setiap kalimatnya terasa mewakili hati dan enak dibaca. Setiap kalimatnya pantas dijadikan quote.  Saya sampai bingung menggaris bawahi kalimat yang mengena di hati karena hampir semua kata-katanya mengena. Haha.

Dari buku ini saya belajar bahwa masa lalu memang menjadi pembelajaran yang baik buat kita. Sekalipun itu menyakitkan, toh itu bagian dari yang membuat kita paham sehingga tidak mengulanginya sekarang. Juga, membuat kita kuat sekarang. Tanpa pernah merasakan, kita tidak akan tahu bagaimana rasanya sakit. Dan jika kita tahu rasanya sakit, maka kita tidak mau menyakiti orang lain. Saya juga belajar bahwa bertemu dengan orang yang salah adalah menjadi bagian dari yang harus dilalui untuk bertemu dengan orang yang benar. Maka, tidak apa-apa. Tidak perlu menyesali betul dengan keputusan kita dulu telah memilih orang itu. Karena kita tak pernah tahu dia orang yang salah atau bukan. Jadi, jika ingin mencoba harus bisa menyiapkan hati sedari awal memilih bahwa bisa jadi kita salah memilih.

Tentang semua cerita yang telah usai, maka biarkanlah selesai. Jangan dibuat menjadi belum selesai dengan kita mengungkitnya lagi.

  • view 500