Catatan Kontemplasi -terakhir

Dian Nafasah
Karya Dian Nafasah Kategori Project
dipublikasikan 20 Januari 2017
Catatan Kontemplasi

Catatan Kontemplasi


Saya ingin melakukan kontemplasi selama 23 hari dalam rangka menutup umur 22 ini menuju 23. catatan kontemplasi ini juga sebenarnya sebagai bentuk kerinduan saya akan menulis.

Kategori Acak

1.4 K
Catatan Kontemplasi -terakhir

23 tahun. Saya menjadi semakin percaya pada kalimat mba Uti, bahwa "setiap orang bertumbuh–yang menjadikan keresahannya pun bertumbuh. semakin menjadi-jadi ketika masuk usia kritis–setelah 22 dan sekitaran 25 sampai 30." beberapa hari yang lalu, saya satu angkot dengan dua anak SMA yang sepertinya kelas XII. Mereka sibuk bercerita soal rencana masa depan mereka. Sebelum saya turun dari angkot, salah satu dari mereka mengatakan, 'Ih rumit banget ya sekarang. Nggak kaya dulu waktu masih SMP mau nentuin sekolah kemana tuh nggak sepusing sekarang.' . Dari kalimat tersebut saya teringat dengan masa lalu ketika saya berhadapan dengan pilihan soal masa depan. Saya pernah mengalami sulitnya memilih seperti mereka, namun ketika saya memikirkan apa yang sedang saya alami sekarang, saya merasa apa yang saya alami dulu itu se-der-ha-na. Tidak serumit sekarang yang dimana saya harus bertanggungjawab penuh atas apa yang saya ambil. Pilihan yang membuat keresahan saya semakin menjadi-jadi. Dulu kalau saya salah memilih, saya masih bisa menjalaninya dengan perasaan baik-baik saja karena ada tenggat waktu, akan ada masa habisnya. Misalnya, saya salah memilih IPA, toh itu hanya untuk 3 tahun. Selesai. Namun sekarang, ketika misalnya saya dihadapkan pada pilihan yang salah atau takdir yang tidak saya inginkan, saya menjadi semakin resah sebab saya tidak tahu sampai kapan saya harus berada pada takdir itu. Tak ada tenggat waktu yang pada akhirnya membawa saya pada takdir lain. Jika saya memilih untuk keluar dari takdir itu, tidak lantas membuat saya pada keadaan baik-baik saja. Bisa saja lebih buruk dari berada dalam takdir yang tidak kita inginkan.  Maka benarlah apa yang dikatakan mba Uti, di usia saya sekarang yang 23 itu saya menjadi semakin resah soal hidup.

 Senada dengan kalimat mas Gun, "usia 20-29 sebagai fase pembuktian. Fase dimana (paling tidak) ada dua life-crisis yang harus dilewati oleh setiap orang. Krisis setelah lulus dan mulai masuk ke dunia profesional dan krisis memutuskan untuk menikah dengan siapa." Pernyataan dari mas Gun-pun semakin membuat saya tersadarkan bahwa di usia ini memang saya sedang dalam life crisis.  Dua keresahan atau life crisis yang dialami ketika menginjak umur 23 ini, yaitu pekerjaan dan pernikahan. Usia 22 kemarin saya masih belum terlalu memikirkan soal pernikahan. Saya masih ingin menghidupkan impian saya saja. Namun di umur 23 ini, pikiran saya mulai mengarah pada pernikahan. Dengan siapakah saya menikah ? Kapankah saya menikah? Rumah tangga seperti apa yang akan saya jalani? Pertanyaan itu mulai mengganggu pikiran saya. Maka, di tahun ini selain memikirkan soal menghidupkan impian saya sendirian, juga menghidupkan impian yang hanya bisa diwujudkan berdua, bersama teman hidup. Saya merasa bahwa pernikahan adalah salah satu impian. Impian setiap orang. Namun impian ini hanya bisa terwujud jika ada orang lain.  Impian yang diwujudkan berdua. Maka, di umur ini saya mulai mempersiapkan diri. Mulai belajar tentang pernikahan. Terutama tentang makna pernikahan. Tentang niat menikah. Sebab niat adalah awal dari semuanya. Sebab pernikahan adalah pilihan untuk selamanya, tak ada tenggat waktu, tak ada hanya untuk sementara. Sekali seumur hidup.

  • view 91