Catatan Kontemplasi -20

Dian Nafasah
Karya Dian Nafasah Kategori Project
dipublikasikan 17 Januari 2017
Catatan Kontemplasi

Catatan Kontemplasi


Saya ingin melakukan kontemplasi selama 23 hari dalam rangka menutup umur 22 ini menuju 23. catatan kontemplasi ini juga sebenarnya sebagai bentuk kerinduan saya akan menulis.

Kategori Acak

1.6 K
Catatan Kontemplasi -20

Entah kenapa hari ini serba resah. Ada banyak hal yang mengganggu pikiran. Termasuk Ibu. Sudah sekian kalinya ibu menanyakan sudah ada calon belum. Dan sekian kali itu pula aku selalu bisa menjawab asal pertanyaan itu. Namun hari ini ketika saudara sepupuku kembali ada yang menikah, Ibu semakin gencar saja menanyakan calon. Sepulang kondangan tadi, Ibu memanggilku dan mulanya berbasa-basi bercerita tentang pekerjaannya yang pada akhirnya " bagaimana kalau sama anaknya bu Rani? Anaknya baik, nduk. Sudah mapan pula. Kemarin Ibu bertemu dengannya pas dia nganterin bu Rani. "

Aku menarik nafas panjang. Kali ini bukan ditanya calon lagi, tapi menawarkan seseorang. Aku tersenyum. Berusaha menenangkan diri. Takut-takut terbawa emosi gara-gara beban pikiranku yang lain.

" Bu, ibu tahu kan kalau Salwa ingin menikah dengan orang yang tidak hanya baik budinya, tapi juga agamanya. Orang yang mampu menjadi imam dunia-akhirat, Bu. Orang yang menuntun Salwa dan anak-anak Salwa ke surga. Salwa kenal anaknya bu Rani. Salwa tahu dia baik. Tapi sholatnya masih bolong-bolong. Masa untuk menolong dia sendiri ke surga aja nggak bisa, gimana dia bisa  membawa Salwa dan anak-anaknya nanti? Ibu mau nanti Salwa nggak bahagia di akhirat sana? Salwa ingin seseorang seperti Ayah, Bu".

Ibu  terdiam. Beliau memegang tanganku dengan lembut.

Aku tersenyum. " Salwa minta maaf Bu. Belum bisa membawa calon kesini. Salwa masih ingin bersama Ayah dan Ibu".

 Hari ini ceritanya beda lagi. Kali ini bukan Ibu yang sibuk menanyai calon, tapi sanak famili. Sesudah walimahan sepupu kemarin, Eyang mengadakan makan bersama. Mumpung kumpul selain lebaran. Sekaligus menyambut hangat anggota keluarga baru, kata Eyang. Aku sebenarnya sudah punya acara ingin keluar bersama teman-teman. Namun kubatalkan karena merasa tidak enak jika absen diacara keluarga. Terutama pada Eyang yang sudah mempersiapkan semuanya. Mulanya semua berjalan lancar sampai kemudian paman Syam nyeletuk " kapan nih undangan dari Salwa?" Semua terdiam, menunggu jawaban dariku. Aku yang terlihat kikuk dibantu oleh Eyang. " Salwa masih harus disini dulu meneman Eyang. Ya'kan, Salwa?"

 "Eh, iya, Eyang" Raut mukaku seketika langsung lega mendengar kalimat Eyang. Namun tetap saja aku menjadi bahan obrolan keluarga. Semakin lama aku semakin tidak betah. Seusai makan, aku langsung pamit ke Eyang ingin pergi. Eyang langsung menyetujui.

 Segera ku ambil motor dan berlalu meninggalkan rumah Eyang menuju rumah teman yang dia tahu banyak hal  tentangku. Rasanya nyaman sekali bisa bercerita kepadanya. Dia sudah seperti kakak buatku. Padahal kami seumuran, tapi dia lebih dewasa dibanding aku. Tapi, tidak jarang juga malah memberi nasehat konyol. Ada dirumahnya dan bisa bercerita kepadanya itu sudah membuat perasaanku lega. Tidak ada bosan-bosannya aku main kerumahnya. Sudah seperti rumah kedua buatku.

 

Aku melihat Bunda sedang memotong daun tanaman di halaman. Bunda memang suka sekali merawat tanaman. Ini juga alasan aku betah dirumahnya, karena penuh dengan tanaman. Jadi rasanya udaranya segar. 

" Assalamu'alaikum, Bun."

" Eh, Salwa. Wa'alaikumsalam. Lho, nggak pergi juga?"

" Enggak, Bun. Tadi ada acara keluarga, terus ya gitu ngomongin kapan Salwa nikahnya.  Ayo Salwa cepat menyusul. Jadi tambah bete deh."

"Hmm. Pantes wajahnya bete gitu. Duduk dulu sini. Bunda buat teh dulu."

"Makasih, Bun"

Tidak berapa lama,Bunda sudah datang membawa dua gelas teh dan setoples kue kering buatan Bunda sendiri.

" Kenapa Salwa nggak ngajakin calonnya aja buat ikut acara keluarga? Kan biar memantapkan dia buat cepat melamar Salwa."

" Ah, Bunda. Calon yang mana ? Orang ada juga belum, Bun. Hehe. Kalo ada juga Salwa nggak akan se-bete ini."

" Lho, belum ada tho. Kirain udah ada calon."

" Belum, Bun. Belum ada laki-laki yang pas. Hehe"

" Bagaimana kalau laki-laki itu anak Bunda?"

Aku langsung menoleh ke arah Bunda. " Fahmi maksud Bunda?"

" Iya. Siapa lagi ? Bunda kan Cuma punya anak satu."

Mendengar kalimat Bunda membuatku seketika membisu. Terlebih seseorang yang Bunda sebut tadi langsung muncul. Entah perasaan apa yang tiba-tiba lewat di hatiku. Tapi mendengar kalimat Bunda hatiku berdebar sangat cepat. Namun segera ku tenangkan hati. Menepis semua perasaan aneh tadi.

"Ada apa ini ribut-ribut? Hmm, pantes aja ada Salwa. Rupanya ibu-ibu lagi pada ngerumpi tho".

" eh, ini dia orangnya. Baru diomongin langsung muncul."

" Ngomongin apa nih Bunda sama Salwa?"

" Itu ngomongin …"

" Tanaman. Bunda jago banget merawat tanaman. Hehe " aku langsung memotong kalimat Bunda. Berusaha menahan agar Bunda tidak mengatakan yang tadi di katakan. " Keluar yuk." Aku langsung pamit ke Bunda. Berusaha menghindar dari obrolan tadi. 

 

"mau kemana?"

" kemana aja deh."

Fahmi menjalankan motornya menuju sebuah kafe. Sesampainya di kafe, aku mulai menceritakan semuanya padanya. Seperti biasa, air mukanya selalu datar saat aku bercerita, sekalipun aku bercerita dengan berapi-api. Biarlah. Aku hanya ingin ada seseorang yang mau mendengarkan. Namun kali ini Fahmi hanya diam. Biasanya dia selalu memberi saran.

"Kok diem aja sih? Kasih saran dong aku harus gimana"

Fahmi masih saja terdiam. Sepertinya sedang berpikir. Aku membiarkannya. Asik melahap ice cream bertabur chocochips.

"Jadi gimana menurut kamu, Mi? Apa aku kenalin Aldi aja? Kamu tahu'kan dari dulu dia suka sama aku. Aku kenal baik sama dia. Tapi keliatannya dia belum serius deh buat nikah. Hmm, atau Rey. Ah, nggak deh. Dia kan playboy. Hmm, atau... "

" Bagaimana kalau laki-laki itu aku?"

  • view 131