Catatan Kontemplasi -12

Dian Nafasah
Karya Dian Nafasah Kategori Project
dipublikasikan 11 Januari 2017
Catatan Kontemplasi

Catatan Kontemplasi


Saya ingin melakukan kontemplasi selama 23 hari dalam rangka menutup umur 22 ini menuju 23. catatan kontemplasi ini juga sebenarnya sebagai bentuk kerinduan saya akan menulis.

Kategori Acak

1.6 K
Catatan Kontemplasi -12

Hujan memang bukan hanya hujan air, tapi juga kenangan.

Siang menjelang sore. Belum lama saya mengendarai motor menuju tempat kerja, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Sayapun mencari emperan toko yang cukup luas untuk berteduh. Dan terjebaklah saya dalam hujan selama kurang lebih 45 menit. Namun, tidak cukup sampai terjebak hujan rupanya, saya juga terjebak oleh kenangan. Setelah kurang lebih 15 menit saya menunggu hujan reda, seorang pembeli membuat pemilik toko keluar dari dalam rumah untuk melayani. Beliau melihat saya yang sedang berteduh diluar lalu mempersilahkan saya berteduh didalam rumahnya. Sebab hujan memang sangat lebat dan banyak petir. Saya menolaknya sebab saya sudah bersyukur dengan boleh berteduh di tokonya dan juga saya sedang menikmati hujan. Saya enggan melewatkan hujan ini.

 

Pak Ramah, begitu saya menyebutnya sebab keramahan beliau, kembali masuk kedalam rumah setelah melayani. Namun, belum lama kemudian beliau keluar lagi. Menemani saya. Lalu beliau bercerita bahwa baru saja beliau menelepon anaknya. Menanyakan kabar sebab rindu. Sebab lain adalah saya mirip anak beliau, namun masih kuliah. Melihat saya mengingatkan pak Ramah pada anak satu-satunya yang sedang merantau jauh. Apa yang beliau katakan selanjutnya membuat saya terkejut. Sebab kata pak Ramah, anaknyapun sekarang sedang terjebak hujan dan sedang berteduh. Persis seperti saya. Lalu, beliau bercerita tentang anaknya. Tentang kuliahnya. Tentang harapan masa depannya. Dan tentang kerinduannya. Saya melihat ada rindu yang besar pada mata pak Ramah.

 

Seperti pak Ramah yang melihat saya seperti anaknya, sayapun melihat sosok Ayah saya pada pak Ramah. Ayah yang sudah hampir setahun meninggalkan saya. Ayah yang menemani saya selama 22 tahun kurang 10 hari. Dan sayapun dibuat rindu dan terjebak pada kenangan masa lalu. Kenangan saat hujan. Saya jadi teringat bahwa setiapkali hujan turun lalu saya dan Ayah ada dirumah, kami selalu duduk bersama. Saya menjadi pendengar setia cerita Ayah di masa lalu. Cerita tentang bapak angkatnya yang luarbiasa baiknya. Cerita tentang masa-masa di pesantrennya dulu. Dan cerita-cerita lain. Walaupun terkadang ceritanya sama. Namun mendengarkan cerita dari Ayah itu menyenangkan. Saya jadi menyadari kenapa saya suka dengan hujan. Sebab hujan membuat saya bersama lelaki tercinta . Utuh. Bahkan, terkadang ketika saya mengantuk saat hujan, Ayah yang akan menina-bobokan saya. Melantunkan sholawat dan pujian-pujian ditelinga saya sambil mengusap lembut kepala saya. Membuat saya semakin mengantuk. Saya benar-benar dibuat rindu pada Ayah. Kami, saya dan pak Ramah, adalah dua orang yang sedang rindu pada seseorang. pak Ramah yang rindu pada anak perempuannya, saya rindu pada Ayah tercinta.

  • view 148