Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Project 31 Desember 2016   19:28 WIB
Catatan Kontemplasi -5

Segerombolan awan berpindah perlahan

Dari satu tempat ke tempat lain. ditiup angin kecil. Sesuai perintah-Nya. Berpindah menuju tempat yang entah dimana Tuhan akan menyuruh angin berhenti menggesernya. Awan tak pernah tahu dimana hujannya akan ia turunkan. Dimana bulir airnya akan ia jatuhkan.

 

 Segerombolan awan berpindah perlahan

Dia berhenti pada suatu tempat. Dimana penduduk bumi sedang sibuk-sibuknya dengan dunianya. Beberapa terlihat tergesa-gesa setelah memandang ke arahnya. Beradu cepat dengan bulir air yang akan ia jatuhkan. Lalu, disitulah awan menurunkan hujannya. Menurunkan bulir airnya di tanah yang kering.  Tanah yang merindukan hujan.  Dan penduduk bumipun bahagia mensyukurinya.

 

Beberapa awan tetap berpindah perlahan

Lalu berhenti pada suatu tempat. Yang kemudian, awan menurunkan hujannya. Pada tanah yang baru saja kemarin dihujaninya. Tanah yang tak nampak lagi tanahnya sebab terisi penuh oleh air. Tanah yang dimana penduduk buminya sedang nelangsa sebab air tak surut-surut. Penduduk bumi yang kini mengutuki awan sebab hujannya turun lagi. Namun, awan tetap menurunkan hujannya. Tak ada penolakan.  Tak ada pertentangan. Sebab Tuhan memerintahkannya demikian.

 

Segerombolan awan masih menurunkan hujannya

Awan tak pernah tahu hujannya akan membuat penduduk bumi senang atau sebaliknya. Awan tak pernah tahu. Tapi awan tahu Tuhan Maha Tahu.

 Segerombolan awan masih menurunkan hujannya

Diatas genting rumah sederhana. Dimana penghuninya sedang menikmati suasana hujannya. Seorang Ibu dan gadis kecil berambut ikal yang sibuk menyiapkan diri untuk hujan-hujanan.ditengah sedang mengucir rambut ikalnya, gadis kecil bertanya pada Ibunya, "Bu, kenapa anak kecil kalau hujan itu senang bahkan ingin hujan-hujanan sedangkan orang dewasa malah berlarian menghindari hujan ?" . Sang Ibu terkejut mendengar pertanyaan gadis kecilnya. Lalu, sang Ibu tersenyum sebelum menjawab. "Sebab orang dewasa dulu sudah pernah mengalami kebahagiaan seperti kamu ini. Semakin mereka besar, mereka tak ingin bahagia yang sederhana. Mereka ingin bahagia yang besar juga. Mereka sibuk mencari kebahagiaan yang besar sehingga mereka lupa ada kebahagiaan kecil yang diturunkan langsung dari Allaah." gadis kecil tampak belum memahami benar apa yang diucapkan ibunya. Yang dia mengerti hanya 'orang dewasa itu aneh. Diberi nikmat malah menghindari.'. Lalu, gadis kecil segera berlari menuju teman-temannya yang sudah menunggu di halaman rumah. Dibawah genting dengan bulir airnya yang besar-besar. Me-nik-ma-ti hu-jan ....

Karya : Dian Nafasah