hujan dan impian

Dian Nafasah
Karya Dian Nafasah Kategori Motivasi
dipublikasikan 13 November 2016
hujan dan impian

Merekapun menanti hujan. Sebab langit telah memberi mereka harapan, mendung dan gerimis. Mereka menanti langit benar-benar menumpahkan airnya. Dan, menanti Allah melimpahkan rahmat-Nya. Hujan(hujanan) memang selalu menjadi salah satu sumber kebahagiaan bagi mereka, selain bermain tentunya. Tapi hujan tidak benar-benar turun sore ini. Namun bukan berarti tidak sama sekali. Mungkin, nanti malam. Barangkali Allah hanya menundanya. Mereka kecewa? Ya, sebab yang mereka nantikan adalah hujan sore ini, bukan sekedar hujan.

Dan saya tetiba ingat dengan impian saya. Impian yang rasanya semakin jauh jaraknya. Padahal tidak. Saya bukan menjauh, tetapi diam ditempat. Dan terkadang, saya kecewa. Sama halnya seperti mereka yang kecewa sebab hujan tidak turun sore ini, kitapun pasti pernah kecewa pada apa yang kita inginkan sekali, namun tidak terjadi saat itu. Dan, kita lupa  bahwa semisal hujan yang bisa jadi turun nanti malam(yang penting hujan turun), apa yang kita inginkanpun bisa saja terjadi, namun bukan sekarang. Nanti. Pada saat ujian kesabaran kita lulus. Pada saat kita pantas mendapatkannya. Dan, soal kepantasan, Allah lebih berhak untuk menilai.

Saya jadi belajar bahwa bermimpilah dan berharaplah pada sesuatu, namun jangan menuntut harapan itu cepat terkabul. Sebab jika begitu, maka kita akan selalu punya alasan untuk kecewa dan menyerah pada impian jika impian kita tidak juga terkabulkan. Yang lebih parahnya lagi(dan bisa jadi), kita tidak percaya pada-Nya sebab selalu diberi ‘harapan palsu’. Ah, harapan memang menjadi hal yang paling rentan membolak-balikkan perasaan.
Selamat malam. selamat me-nik-ma-ti perjalanan menuju impian ....

Dilihat 138