kontemplasi di 1438 H

Dian Nafasah
Karya Dian Nafasah Kategori Renungan
dipublikasikan 02 Oktober 2016
kontemplasi di 1438 H

Selamat tahun baru Hijriah 1438 H.

Dari semalem pengen kontemplasi, tapi ternyata sayanya ketiduran. -,-  saya mulai berkeinginan untuk melakukan resolusi pada setiap tahunnya dari tahun lalu. tahun baru hijriah diisi dengan resolusi ibadah, sedangkan tahun baru masehi resolusi kehidupan. bisa tentang menambah list impian, misalnya.  jadi, ada tiga hal yang menjadi catatan kontemplasi kali ini.

Kontemplasi pertama tentang resolusi setahun yang lalu. Saya punya resolusi saat menjelang tahun baru 1437 H. Dan ternyata saya gagal. belum sepenuhnya terealisasi. Huhu  :( saya memikirkan baik-baik alasan mengapa tidak bisa tercapai.

Dan, kontemplasi kedua saya berkeinginan untuk tahun ini saya masih harus berusaha melakukan resolusi tahun kemarin. Bismillaah, semoga tahun ini bisa ya diaaaaan. Fighting!

Kontemplasi ketiga tentang kehidupan saya. Ini masih tentang membela impian saya yaitu menulis dan memiliki karya yang bisa dijadikan kartu nama sekaligus menjadi amal yang tiada putus(Aaamiiin). Tapi rasanya perjalanan membela impian ini semakin sulit mengingat hidup saya sudah bertaut dengan hidup orang lain. Saya tidak bisa lagi 'semau gue'. Kemarin-kemarin masih melakukan apa yang mau saya lakukan. Sedangkan sekarang, ada hak-hak orang lain yang harus saya jaga. Maka, saya rasa semakin sulitlah menuju impian itu. Tapi saya belajar hal baru. Dan hal itu adalah .... Menjadi bermanfaat untuk orang-orang disekitar saya walaupun kecil dan di ruang lingkup yang kecil. Jadi latar belakangnya begini...

Seharian kemarin saya banyak menjadi pendengar. Saya mendengarkan curhatan dari dua murid dari tiga murid yang kebetulan masuk disaat yang lain tidak. Bahkan salah satu murid itu seperti sengaja menunggu saya untuk curhat. Bahagianya ditunggu orang~. Murid yang pertama, curhat soal masa depannya. Soal keinginannya untuk kuliah sedangkan orang tuanya menginginkan dia untuk mondok saja. Maka, galaulah dia. Dia menceritakan banyak hal. Dan saya juga bingung sih harus menanggapi apa. Tapi karena saya guru dan guru itu tugasnya memberi petunjuk pada murid yang sedang menentukan arah, maka saya memberi masukan. Saya masih melihat kebingungan di wajahnya. Barangkali dia bingung bagaimana melakukan masukan saya. Ah, saya juga pernah mengalami seperti yang dia alami. Semoga saja dia bisa melakukannya. Dan jika dia membutuhkan saya untuk membantunya, maka saya insyaaAllaah siap. Sebab, guru dan orangtua memang harus bersinergi untuk membantu anak yang sedang menentukan arah. Dari murid pertama ini saya belajar bahwa tugas guru sebenarnya adalah memberi petunjuk kepada siswanya, bukan hanya tentang mengajar. Dan saya berterimakasih pada dia untuk membuat saya merasa dibutuhkan sebagai penunjuk arah. Terima kasih :)

Murid kedua, dia tiba-tiba masuk kelas dan curhat. Padahal murid pertama terlihat belum selesai dengan kebingungannya. -.- . Curhatan murid kedua tentang masalah percintaan. Ceritanya dia putus dan baru saja mengusahakan hubungannya kembali baik-baik saja. Namun perempuannya malah acuh. Padahal, dia sudah memperjuangkan untuk bertemu sampai hampir ketahuan ustadznya. Ckck, masalah klasik anak pondok, takut ketahuan ustadz. :D . Mendengar curhatannya membuat memori saya memanggil-manggil masa lalu. Sayapun pernah merasakan cinta monyet seperti dia. maka dari itu, saya mencoba menyelami dunianya. Dan ketika dia meminta saran bagaimana agar cepat melupakan dia, sayapun mengusulkan untuk mencoba jatuh cinta lagi. Sebab, sayapun dulu begitu. Haha. Untuk suka lagi sama orang bagi seumuran anak remaja tanggung itu mudah. Jika jatuh cinta mudah maka melupakanpun mudah. Menurut saya. Beda dengan orang dewasa. Namun dia menolak untuk suka lagi ke orang lain sebab dia masih menyayangi perempuannya. Ups, mantan maksudnya. Haha. Saya punya jawaban lagi, tapi bingung bagaimana membuatnya paham dengan jawaban saya. Akhirnya saya memutar otak untuk mengatakan sesederhana  mungkin tapi ngena. Maka, jawaban saya saat itu adalah 'dulu saat pertama kali suka sama perempuannya juga tidak sebesar sekarang. Semuanya bertahap. Setiap hari terbiasa berkomunikasi hingga bisa sesayang ini. Maka, untuk melupakanpun sama. Butuh waktu untuk terbiasa tanpa dia dan menghilangkan perasaan.' tapi, dia masih belum bisa menerima  saran saya lalu minta cara tercepat. Cara tercepatnya apa? Menerima bahwa sudah diputuskan. Apalagi berdasarkan ceritanya, dia menjadi pihak yang disakiti. Pihak yang disalahkan. Pihak yang dianggap jahat. Maka, secara logika akan mudah melupakan perempuan tersebut. Sebab sudah jelas perempuannya sudah tidak lagi sayang, untuk apa lagi diperjuangkan ? Tapi sayangnya, logika murid itu belum juga normal. Maka, logika sesederhana itu tidak akan terpikirkan olehnya. Ah, remaja labil -.-

Dari murid kedua ini saya belajar bahwa ketika seorang murid tidak mendengarkan gurunya yang sedang menerangkan, itu bukan hanya karena gurunya yang menjelaskannya tidak enak, tapi ada masalah pada siswanya sehingga tidak fokus belajar yang menyebabkan nilainya rendah. Dan itu menjadi tugas guru juga untuk memahami apa yang terjadi pada siswanya. Maka menjadi guru sebenarnya tidaklah mudah. Sebab yang dididik adalah manusia dengan perangkat otak dan hati. Jika hati bermasalah maka otakpun ikut bermasalah. Dan seringnya masalah itu menyerang hati. Maka, susah fokuslah muridnya. Fiuuh -,-

Ada satu murid lagi dikelas itu. Dia tidak bercerita apa-apa. Justru berdasarkan cerita murid kedua, mantan perempuannya suka pada murid ketiga ini. Entah kebenarannya seperti apa. Tapi jika benar, entahlah apa yang akan terjadi. >.< . Murid ketiga dan pertama ini malah menjahili murid kedua yang sedang galau. Saya berpikir bukannya nyari solusi malah bikin keramaian. Tapi, dari situ saya memahami bahwa cara laki-laki menghibur hati temannya justru dengan menjahili temannya itu. Sedangkan perempuan biasanya menyalahkan laki-laki yang menyakiti temannya sehingga bisa membuat perempuannya merasa benar dan terhibur. Haha.

Lalu, siangnya saya mengajar anak kelas 4 SD. Namanya ayasha. Anaknya cantik dan ga ngebosenin liat wajahnya, pintar, kalem, dan kritis. Dia protes hanya karena banyak typo yang dia temukan dalam bacaannya. Haha. Belum tahu saja rasanya ngetik banyak dengan deadline waktu. Tapi yang membuat saya bahagia adalah saya banyak mendengarkan dia. Dia banyak sekali berbicara kemarin. Bahkan dia mendongeng. Di tengah dia mendongeng saya sudah mengetahui isi dongengnya. Tapi saya membiarkan dia terus mendongeng sampai akhir. Bahkan dia sampai memperagakan tokoh dalam dongengnya. Saya merasa sangat takjub sekaligus bahagia. Sebab dia bisa berekspresi seperti itu didepan saya yang baru ditemuinya 3 kali. Biasanya anak kecil malu-malu bercerita, apalagi sampai berekspresi . Pokoknya sama persis seperti iklan anak kecil yang mendongeng di tengah bus. Saya bahagia sebab saya merasa bahwa saya tidak lagi dianggap orang asing oleh Ayasha. Aaah, suatu hari nanti semoga saya punya anak seperti Ayasha. Aamiiiin.. Dari Ayasha saya belajar untuk terus menghidupkan impian saya bisa mendongeng. Setidaknya untuk anak-anak saya kelak. Terima kasih, Ayasha :)

Sorenya, saya pulang mengajar bimbel lalu melihat kedua sepupu kecil saya, Aulia dan Arul. Aulia sedang bermain dengan Arul. Sayapun menghampiri mereka. Lalu, saya diminta untuk membayar tagihan saldo oleh Ibunya Aulia. Tempatnya lumayan jauh sehingga harus naik motor. Maka, pergilah saya dengan Aulia. Arul hampir menangis karena lagi asik-asiknya main dengan Aulia tapi ditinggal. Saat di motor, Aulia berkata 'Mba, Arul tuh suka sama Dede, tapi Dedenya suka sama mba Dian.' Aaaah, terharuuu. Mendengar anak kecil mengatakan sayang kepada kita itu rasanya bahagiaaaa sekali. Karena saya tahu bahwa mereka tulus. Ketulusan merekalah yang membuat saya begitu bahagia. Lalu saya jawab dengan candaan 'Tapi mba diannya suka sama Arul. Haha'. Auliapun berkomentar, 'Yah. Itu sih muter-muter aja terus.' Yaampuuun, ini anak cerdas banget sih. Dia bisa begitu cepatnya mengambil kesimpulan. Duh, makin sayang aja sama sepupu satu ini.

Oke, jadi dari beberapa kisah itu saya merenung. Saya memikirkan bahwa membela impian agar bisa tercapai itu suatu keharusan. Saya tetap harus terus membela impian saya. Sekalipun itu butuh waktu yang lama. Sebab membayangkan impian itu tercapai saja sudah membuat saya bahagia apalagi beneran tercapai. Saya membayangkan buku saya akan bermanfaat untuk banyak orang disekitar saya maupun yang jauh dari saya. Sebuah kebahagiaan yang besar bisa memberi manfaat kepada orang banyak. Tapi, sayangnya saya lalai untuk mengupayakan kebermanfaatan kecil yang bisa saya lakukan. Saya merasa bermanfaat jika impian saya tercapai. Padahal tidak demikian. Dari potongan cerita kemarin, saya diingatkan Allah bahwa sayapun sudah bisa menjadi orang yang bermanfaat. Sebab ada orang yang bahagia saya ada. Sebab ada orang yang merasakan kebermanfaatan saya sekarang. Walaupun hal yang kecil. Maka, mulai sekarang, dalam perjalanan menuju menjadi orang yang bermanfaat untuk banyak orang, saya harus mengupayakan diri menjadi bermanfaat untuk orang disekitar saya dulu, walaupun kecil. Sebab, yang membuat saya bahagia itu adalah menjadi bermanfaat untuk orang lain. So, jangan hanya fokus pada kebahagiaan sendiri tapi juga belajar membahagiakan orang dan kau sendiri akan bahagia, dian. (:

selamat tahun baru Hijriyaah. semoga selalu semakin menjadi lebih baik lagi dan semakin banyak kebermanfaatan yang bisa diberikan kepada orang lain. semangat berhijrah!

  • view 259