Dari masa lalu hingga masa depan

Dian Nafasah
Karya Dian Nafasah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 05 Mei 2016
Dari masa lalu hingga masa depan

Entah apa yang membuat dia datang menemuiku sore itu. Kala aku sedang asik-asiknya duduk sembari membaca majalah ditemani suara Duta Sheila on 7 yang sedang menyanyikan Sephia-nya di balkon rumah. Dia yang dengan tanpa undangan ataupun permintaan, masuk dan ikut duduk disampingku. Aku yang masih bingung dan,,, terpesona dengan penampilannya sore itu membuatku melayang entah kemana. Nyatakah ? Sapaan 'hai' darinya mampu mengajakku kembali pada dunia nyata, duduk di balkon dengan sebuah majalah yang tengah kugenggam. Akupun hanya mampu membalas 'hai' dan tidak tau harus berkata apalagi. Ah, kau tahukan bahwa secerewet atau setidak bisa diamnya seseorang jika sudah dekat dengan sang pujaan maka hilanglah sifat itu. Akupun begitu. Lebih memilih diam dan tidak berkata apa-apa lagi dibanding salah tingkah didepannya. Walaupun aku harus menggantung tanya yang cukup besar di kepala perihal kedatangannya di balkon rumahku, aku tetap memilih diam. Tapi aku rasa(dan aku harap) dia mengerti keherananku perihal kedatangannya yang tiba-tiba tanpa aku mengatakannya. Ah, perempuan. Memang selalu tidak ingin memulai duluan. Selalu menganggap bahwa laki-lakinya akan mengerti.

" boleh duduk disini'kan?" tanyamu

" eh.. i.. Iya. Silahkan"

Selesai. Tidak ada percakapan apa-apa lagi setelah itu. Kamu mendiamkan aku yang penuh tanda tanya perihal kedatanganmu.  Tidak biasanya kamu ikut duduk denganku di balkon rumah. Jika ingin bertemupun kamu pasti mengajak bertemu di suatu tempat. Kamu memang aneh. Tapi, aku yang lebih aneh, menyukai pria aneh. Ah, biarlah. Mau diapakan juga aku tetap menyukaimu.  

"Hmm, boleh aku bertanya sesuatu?"

Aku menyerah. Menyerah untuk hanya diam saja. Menyerah untuk tidak mengobrol dengan dia yang dari dulu sampai sekarang aku sukai. Ya, aku akui aku mencintai orang yang sama setiap hari. Kalian, pernah mencintai seseorang dari masa lalu sampai saat ini? Mau kita beranjak kemanapun tetap saja dia. Mau kita berpindah ke negeri terjauhpun tetap saja dia. Mau kita melirik orang lainpun tetap saja dia. Dia. Dia. Dan selalu dia yang ada dihati. Dia yang dari masa lalu masih ada sampai masa sekarang ini. Bahkan ingin menjadi masa depan. Pernah?

Perasaan itu masih aku miliki karenanya. Dia yang duduk disampingku. Dia yang terlihat bersahaja nan lugu. Tapi nyatanya dia lebih gentle dari laki-laki lain. Disaat yang lain (hanya) berani menyatakan cinta padaku, dia berani menyatakan cintanya padaku juga mengatakannya kepada orang tuaku.

Sore itu, aku mulai membuka percakapan. Ada suatu hal yang sangat  ingin aku tanyakan. Aku mengabaikan keherananku atas kedatangannya di balkon rumahku yang tiba-tiba.

"Boleh. Mau tanya apa?"

Aku memberanikan diri bertanya mengapa dia mencintaiku, dia diam beberapa saat. Kupikir dia sedang mengingat alasan kenapa mencintaiku, tapi nyatanya malah jawaban lain yang kudapat.

" entahlah. Aku bingung apa alasannya. Aku rasa aku tak punya alasan mengapa aku mencintaimu. Tapi aku ingat kapan aku mulai mencintaimu."

"kapan?" tanyaku penasaran.

" ketika pertama kali bertemu denganmu. Dari saat itu aku hanya merasa ingin dekat dengan kamu"

Aku tersenyum.

" aku juga mau bertanya sesuatu, kapan kamu jatuh cinta padaku?" Dia balik bertanya.

" pada caramu jatuh cinta padaku, aku jatuh cinta padamu"

  • view 93