be yourself, Ara!

Dian Nafasah
Karya Dian Nafasah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 26 April 2016
be yourself, Ara!

Sorenya sore. Awalnya malam. Sebuah kosan di Gerlong.

Langit Bandung tidak pernah berhenti dari pekerjaannya. Mendung-gerimis-hujan-reda-mendung-gerimis-hujan-reda. Begitu seterusnya sampai bertemu sorenya sore dan awalnya malam. Aku sedang duduk di pinggir jendela kamar kosan. Menikmati pekerjaan langit nomor dua, gerimis. Menikmati petrichornya. Begitu menenangkan.

Hujan selalu membuat suasana sendu. Barangkali  hujan selalu meninggalkan bekas rindu pada masa lalu. Masa saat kita tertawa bahagia dibawah guyuran air hujan. Tertawa tanpa beban. Tanpa peduli celoteh orang tua yang akan memarahi kita nanti. Kita tetap memilih hujan-hujanan. Memilih membuat bahagia kita sendiri. ya, barangkali hujan selalu membuat suasa sendu karena merindu masa lalu.

Ditengah asiknya menikmati petrichor, seseorang membuka pintu kamarku dan menutupnya dengan kencang. Ara.

"Haniii. Huhuhu"

Lagi. Kejadian ini terulang kembali. Membuka pintu, menutupnya keras-keras, memanggil namaku, menangis dan sebentar lagi akan bilang..

"Aku putuuus.. Huhuhuuu"

Tepat! Entah sudah ke berapa kalinya hal ini terjadi selama aku menempati kamar ini.

"Adit jahat Hanii. Aku harus gimana dong, Haniii?! Huhuhu"

"Ya move on atuh, Ra. Apalagi yang bisa dilakuin."

"Tapi aku masih sayang Adit, Haniii.."

"Tapi Adit ga sayang kamu."

"Haniii. Kok kamu juga jahat siiih. Huhuhu"

Aku diam saja. Membiarkan Ara menangis.

"Kok kamu diem aja sih, Hanii. Kamu udah ga peduli ya sama sahabat kamu ini. Huhuu"

"Kamu puasin nangisnya dulu gih. Percuma ngomong sama orang nangis. Ga akan didengerin. Ketutup sama suara tangisannya. Otaknya juga ga bisa nerima usulan. Sibuk sama ngasih rangsangan buat nangis."

Tangis Ara semakin pecah. Aku memberi pelukan padanya untuk menenangkannya. Perlahan, suara tangisnya mulai merendah. Seperti hujan saat ini, mereda.

"Udah tenang?"

Ara mengangguk. Ara melepaskan pelukanku dan mengusap air matanya dengan tisu.

"Jadi aku harus gimana Han? Aku masih sayang sama Adit. Kata Adit aku berubah. Emang aku berubah ya, Han? "

"Iya. Berubah. Jadi diri kamu sendiri."

"Lho, kok?Kata Adit aku berubah jadi orang lain yang ga Adit kenal. Aku jadi cerewet, cengeng, manja, nyebelin. Gitu.."

"Emang itu kamu kan? Itu sifat kamu sebenarnya. Kamu berubah jadi awalnya bukan kamu menjadi kamu sendiri. Adit ga kenal kamu sebenarnya. Adit cuma tahu kamu yang bukan kamu."

"Aku ga ngerti kamu ngomong apa, Han. Hiks.." Masih ada sisa tangis pada Ara.

"Gini. Gini. Kemarin2, selama kamu PDKT sama Adit, kamu tuh bukan kamu. Kamu jadi cewe anggun, kalem, mandiri, pokonya bukan kamu banget deh. Kamu jadi orang lain . Jadi apa yang Adit suka. Setelah pacaran, satu persatu sifat kamu sendiri muncul. Semakin lama pacaran, nampaklah sifat kamu sendiri itu gimana. Kenapa? Karena jadi orang lain itu ga enak. Jiwa kita lelah jadi orang lain. Makanya, lama kelamaan kamu akan jadi diri sendiri. Sifat asli kamu nongol. Nah, karena pas kalian lagi PDKT-an kamu ga jadi diri sendiri, jadilah gini."

"Terus aku harus gimana Han? Aku masih sayang Adit, Haan. Aku udah serius sama Adit. Aku harus jadi kaya yang Adit mau gitu?"

"Ya ga atuh, Araa. Kamu harus move on. Move on! Nih kata Mas JeeS, 'Jika dia benar lelaki baik yang pengertian, dia akan menghormati prinsipmu tanpa penghakiman-penghakiman yang dikarangnya sendiri'. Kalau Adit beneran sayang sama kamu, Adit bakal terima kamu dan menghargai kamu gimanapun kamu. Kalau di saat kamu jadi diri sendiri terus dia malah ga sayang sama kamu, itu artinya dia cuma sayang orang yang anggun, kalem, mandiri. Dan jelas, itu bukan kamu banget. Emang kamu mau terus-terusan bukan jadi diri kamu sendiri?"

"Ga sih, Han. Capek. Rasanya harus nahan perasaan mulu."

"Nah tuh tau sendiri. Siapa lagi coba yang bisa menghargai diri kita sendiri kalau bukan kita sendiri. Cintai diri kita sendiri maka kita akan di cintai orang lain. Kamu ga perlu susah-susah jadi orang lain buat disukai orang lain, karena pasti ada orang yang suka dengan sifat dan sikap kita sendiri. Gimanapun sifat itu. Jadi diri kamu sendiri, Ara! Mending jauh-jauhin tuh makhluk bernama Adit yang jelas ga sayang sama kamu."

"Iya ya, Han. Kamu bener. Oke. Jadi aku harus move on dari Adit!"

"Move on  juga dari kelakuan kamu yang berubah-ubah jadi orang lain pas dideketin orang lain. "

"Hehehe. Iya, Hani my honey."

Aku kembali menikmati petrichor dari balik jendela kamar.

"Kamu lagi ngapain sih, Han?"

"Lagi menikmati petrichor."

"Petrichor? Apa itu?"

"Bau tanah bekas hujan. Asik deh, Ra. Nenangin.. Coba kamu sini." Aku menggeser posisi duduk. Ara mengikuti apa yang aku lakukan.

"Iya, Han. Nenangin banget."