Jelita

Dian Nafasah
Karya Dian Nafasah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 02 April 2016
Jelita

Perempuan itu menangis di dekapan lelaki yang baru saja menjadi imam barunya. Menjadi pengganti ayahnya yang sudah 24 tahun menjadi imamnya. Setelah usai acara resepsi pernikahannya, meledaklah tangis perempuan itu dalam dekapan laki-lakinya.

Jelita, namanya Jelita. Serupa wajahnya yang cantik jelita. Lahir dari rahim seorang Ibu yang berhati mulia juga sekeras baja. Sepengetahuannya, Ibunya tidak pernah menangis. Tidak pernah mengeluhkan keadaan. Ibunya selalu bersikap tegar.

"Mas, boleh aku menangis begini?" kata Jelita di tengah tangisannya.

Laki-laki itu mengangguk. Tangis Jelita semakin pecah. Ada sebening air diujung mata sang laki-laki. Dia tidak menyangka, perempuan yang sejak dulu selalu ingin dibuatnya menangis, baru hari ini perempuan itu menangis. Menangis dalam dekapannya. Jelita, teman masa kecilnya begitu tangguh. Jelita tak pernah menangis. Sekalipun laki-laki yang baru jadi suaminya itu seringkali jail ingin membuat Jelita menangis, namun usahanya selalu gagal. Jelita tetap tak menangis. Bahkan, sehari setelah kepergian Ibunyapun, Jelita tidak menangis. Jelita tetap bermain seperti biasanya. Tertawa bersama teman-temannya. Bahagia ketika Ayahnya menjemputnya pulang kerumah.

Hari ini, Jelita telah menjadi perempuannya. Menjadi makmum dalam rumah tangganya. Dan hari ini pula, laki-laki itu melihat Jelita menangis. Laki-laki itu mengusap-usap kepala Jelita. Dia menyesal dulu ingin membuat Jelita menangis. Ternyata, membuat perempuan menangis, membuat hatinya kacau.

Jelita menarik diri dari dekapan laki-lakinya dan mengatakan, "Mas, Ayah ga apa-apa kan?"

?

Jelita mengusap air mata di pipinya. Akhirnya Jelita bercerita saat itu. Dia bercerita bahwa selama ini, Jelita menahan dirinya untuk tidak menangis. Bahkan, setelah kepergian Ibunya yang secara tiba-tiba dipanggil Tuhan, Jelita? tidak ingin menangis. Jelita tidak ingin membuat Ayahnya kembali bersedih dan menangis. Maka, sejak itulah Jelita selalu menegarkan diri dihadapan Ayahnya. Jelita tidak akan menangis didepan Ayahnya.

Namun hari ini, Ayahnya menangis. Jelita kembali melihat Ayahnya menangis setelah usai ijab kabul.? Jelita harus menahan tangisnya selama resepsi seperti ketika Jelita menahan tangis setelah kepergian Ibunya.

?"Aku membuat Ayah menangis. Dulu, aku selalu menguatkan diri untuk tidak menangis di hadapan Ayah agar tidak membuat Ayah menangis. Namun, hari ini aku membuatnya menangis. Ayah kembali kehilangan perempuan yang dicintainya".

Tangis Jelita kembali pecah. Laki-laki itu kembali mendekap Jelita. Berusaha menenangkan hati Jelita.

"Ayah tidak kehilangan kamu. Kamu juga tidak meninggalkan Ayah. Aku hanya menggantikan posisinya sebagai yang bertanggung jawab atas hidupmu hingga nanti. Kamu tetap harus mencintainya dan kamu harus terus membersamainya."

Jelita memeluk laki-lakinya dengan erat. Hari ini, dia hanya ingin menangis. Setelah 15 tahun Jelita menahan tangis, hari ini Jelita benar-benar menumpahkan keinginannya untuk menangis.

  • view 84