Begowong!

dian agustina
Karya dian agustina Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 08 Maret 2016
Begowong!

"Lik Yat, masak opo?"

" Nggoreng tiwul, Mak Sup! Sampeyan masak opo?"

"Masak glithi, ?Lik... Gawe begowong sesuk!"

? ? Saya geleng-geleng sendiri mendengar percakapan antar tetangga belakang rumah. Beberapa hari ini istilah 'begowong' begitu nge-trend di sekitar rumahku yang notabene ada di desa 'puthuk-an' alias terpencil.

? ? Sebenarnya bukan hanya di desa kami saja yang lumayan heboh menyambut fenomena alam gerhana, atau yang biasa disebut begowong oleh para sesepuh desa. Seluruh dunia juga lagi heboh, kok. Buktinya turis-turis asing dan lokal dengan kamera canggihnya sudah membludak di lokasi terlihatnya gerhana. Ilmuwan-ilmuwan dengan teropong dan kawan-kawannya pun pasti sudah bersiap menciptakan teori-teori baru yang super luar biasa. Tak ketinggalan para kaum peramal yang tentunya sudah sibuk membuka primbon, kaca ajaib, bola ajaib, atau apa sajalah namanya demi meramalkan pesan tersirat dan tersurat dari sang matahari.

? ? Begitu juga dengan para awam seperti sebagian warga sepuh di desa-desa pinggiran seperti desa kami. ?Sejak kemarin mereka sudah mulai menyiapkan berbagai hal untuk menghadapi begowong...

? ? Pertama, tentu saja menyiapkan makanan populer anti mainstream versi mereka, thiwul dan glithi. Thiwul adalah makanan yang terbuat dari saripati ketela pohon. Bentuknya di buat kecil-kecil seperti nasi. Rasanya aduhai... Saya saja jatuh cinta sama rasanya yang khas. Sedangkan glithi, singkat ceritanya adalah kripik ketela pohon. Nama lainnya adalah 'balung kethek' (tulang monyet) atau bisa juga disebut krecek. Lumayanlah, buat cemilan sambil menunggu gerhana usai...

? ? Kedua, senter. Awalnya saya sempat heran kenapa yang mereka siapkan adalah senter. Ternyata, masya'allah... Sebagian sesepuh menganggap begowong alias gerhana matahari total itu membuat semua cahaya lumpuh total.

Konon, kata mereka listrik akan mati.Korek apipun tidak akan bisa menyala. Entah itu pengalaman siapa atau teori dari mana...

? ?Ketiga, saling mewanti-wanti alias saling mengingatkan. Mengingatkan untuk tidak keluar-keluar rumah. Kata para sesepuh, bahaya. Kalau ditanya bahayanya apa Mbah? Pokoknya bahaya! Ya, baiklah... Setidaknya mengurangi kemungkinan menatap matahari yang bisa merusak mata...

? ? Saya sendiri menulis ini sambil menyimpan perasaan was-was. Bukan karena begowong yang konon kata para sesepuh demikian dahsyatnya. Saya hanya berfikir, ?betapa Maha-nya Tuhan yang bisa mengatur bulan dan matahari sedemikian rupa. ?Dan saya juga khawatir besok saat gerhana, jangan-jangan Tuhan berinisiatif menggulung langit sekalian. Jika itu terjadi, lalu bagaimana nasib saya masih menjadi pendosa ini? Semoga Tuhan mengampuni dosa-dosa kita semua...

? ? Buat mbak-mbak dan mas-mas yang kebetulan lewat daerah Blitar utara silahkan mampir Mbak, Mas. Siapa tau kita bisa berbincang santai tentang begowong sambil makan thiwul dan glithi sama-sama...

  • view 334