Aku, Arai, Dan, Ngarai

dian agustina
Karya dian agustina Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 06 Maret 2016
Aku, Arai,  Dan, Ngarai

? ? Sore ini waktu begitu binal. Mempermainkanku dalam kejenuhan. Menunggu kedatanganmu di sini, di ngarai panjang ini. Mataku nyalang menatap sekeliling, dan hanya kutemukan batang-batang ilalang yang separuhnya telah menjelma menjadi batang-batang kerinduan.

? ? Di setengah senja seperti ini kau selalu datang, Arai. Dari arah sana atau sana, dengan seikat gardenia kesukaanku di tangan kananmu. ?Kita duduk berdua menunggu senja, sambil aku berceritalah tentang aku, kau, dan cinta. Sementara kau terdiam dalam alam yang selalu kau sebut kenangan. Ada saatnya kau menangis. Dan aku akan memelukmu erat, berusaha menenangkanmu. Sesekali kau mengerti lalu menghapus airmatamu. Namun seringkali kau tak merasa, walau sesungguh apapun aku memeluk dan menghapus air matamu.

? ? Hingga akhirnya senja tiba. Kau beranjak dari ngarai ini. Membawa harapanku untuk kau datang lagi esok, seperti kemarin dan hari-hari yang telah berlalu selama dua tahun ini.

***

"Di sini, Arai?"?

"Iya,. Di sini, Dee."

? ? Aku tertegun di hadapan Arai-ku. Hari ini dia tidak datang sendiri. Seorang gadis dengan mata coklat dan rambut pekat turut bersamanya. Arai-ku memanggilnya Dee.

"Ngarai ini begitu landai, Arai. Setiap sore kau datang kesini?" Suara gadis itu terdengar merdu, menyatu bersama angin sepoi-sepoi.

"Iya, Dee. Bersama seikat gardenia ini, bunga favorit Agnes." Suara Arai-ku tercekat sesaat. ?"Agnes adalah wanita yang cantik, Dee. Secantik dirimu. Aku benar-benar merasa memiliki dunia saat aku memiliki Agnes."

"Berceritalah," ujar gadis manis itu lagi.

? ? Arai-ku meletakkan gardenia di atas tanah, lalu menarik nafas panjang sebelum melanjutkan kata-katanya.

"Kami dipertemukan empat tahun lalu dalam sebuah cinta. Namun dua tahun lalu, takdir telah merenggut Agnes dariku. Kau lihat tikungan di atas ngarai ini, Dee?" Arai-ku menunjuk pada tikungan di sudut sana.

"Dua tahun lalu, satu jam sebelum acara pertunangan kami. Aku dan Agnes melewati jalan itu untuk mengejar waktu. Sementara hujan begitu lebat. Aku berusaha melewati sebuah bus, tanpa kusadari bahwa ada sebuah truk dari arah yang berlawanan..."

? ? Suara Arai-ku mulai bergetar, tapi dia melanjutkan ceritanya.

" Kami terlempar menghantam pembatas jalan itu, Dee. Aku sekuat tenaga berpegangan pada pembatas itu, sementara sebelah tanganku memegang tangan Agnes agar tak terjatuh ke jurang. Tapi... Takdir berkata lain. Sedikitdemi sedikit tangan kami melemah. Dan Agnes terjatuh ke ngarai ini. Tepat di tempat kuletakkan gardenia ini..."

? ? Sesaat semua hening. Hanya gemerisik ilalang yang saling beradu.

"Kau masih mencintainya, Arai?" tanya gadis itu lembut.

"Cinta itu akan selalu meninggalkan jejak, Dee," Arai-ku tersenyum tipis."Namun sebuah kenangan tetaplah abstrak dan tempatnya di belakang. Kehadiranmu membuatku kembali memiliki duniaku, Dee. Memiliki cinta dan harapan yang baru. Agnes adalah bagian hidupku yang lalu. Dan kini aku akan melanjutkan hidupku bersamamu."

? ? Arai-ku berlutut, menyodorkan sesuatu. Kutatap mereka dalam diam saat Arai-ku menyematkan sebentuk cincin di jari manis gadis itu. Cincin yang dulu seharusnya ada di jari manisku...?

***

? ? Senja mulai merayap ke langit. Sekali lagi kupandangi Arai-ku dan gadis itu berpegangan tangan. Lambat laun mereka menjauh dan menghilang diantara barisan ilalang.

? ? Arai-ku dengan apapun yang membuatku tak bisa berhenti mencintainya. Namun dia benar, kenangan hanyalah abstrak. Aku dan Arai hanyalah satu dari sekian keabstrakan itu.

? ? Semoga kau berbahagia Arai-ku. Biarlah kuhabiskan cinta ini di sini, di ngarai panjang ini.

? ? Dan akan kutulis namaku sendiri di udara: Agnes...

?

  • view 180