Suamiku, Terimakasih Telah Menikahiku Secara Siri

dian agustina
Karya dian agustina Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 24 September 2016
Suamiku, Terimakasih Telah Menikahiku Secara Siri

Akhir Ramadhan 2016.

Bukan suatu proses yang mudah, ketika aku harus mengucapkan kata "ya",saat kau melamarku sore itu. Hanya aku dan Allah yang tahu betapa sebelumya brkali-kali aku harus merajuk pada-Nya agar diberikan ketetapan hati untuk memilihmu menjadi imamku. Dan sebuah pernikahan ini telah menjadi jawaban atas semuanya.

***

Sejak awal aku sadar, menerima ajakanmu untuk menikah adalah sebuah anugerah. Namun aku sadar pernikahan siri kita bukanlah suatu hal yang lazim untuk ebagian orang. Alasannya adalah karena pernikahan kita ini bukanlah pernikahan yang berkekuatan hukum, itu kata mereka. 

"JIka ada apa-apa pada pernikahanmu, pada siapa Kamu akan menuntut? Lalu bagaimana jika Kamu memiliki anak nanti? Jangan, nikah siri-mu itu akan merugikanmu, merendahkan harga diri dan martabatmu sebagai wanita!'' Dan masih banyak lagi kata-kata mereka yang harus kutahan di telinga  ketika kita akan menikah. 

Saat itu aku hanya terdiam dan bergumam di dalam hati. Apa salahnya menikah siri? Bukankah sudah sah pernikahan kami ini di mata Allah? Salah dan hinakah jika kami memilih menikah siri untuk menghindari dosa? JIka memang menikah siri itu merendahkan harga diri dan martabat wanita, biarkan kami bertanya kepada kalian; lebih berharga mana antara wanita yang memilih menikah siri untuk menjaga dirinya, ataukah wanita yang berboncengan dan berpelukan kesana kemari dengan laki-laki yang masih disebutnya sebagai pacar atau calon suami? PLease deh, hargai pilihan kami.  Karena toh kami tetaplah warga negara yang berusaha taat dan akan tetap mencetak surat nikah dalam waktu dekat nanti.

Bukan kami sok suci, karena kamipun hanyalah manusia biasa yang hidupnya dipenuhi dosa.  Namun kami merasa berhak untuk bertobat dan menjaga diri bukan?

***

Tak terasa telah 2,5 bulan kami bersama.  Cemoohan mereka terhadap pernikahan kami mulai sedikit demi sedikit sirna. Kami sangat bersyukur ditakdirkan untuk berbagi hidup bersama, dan kami ingin tetap bersama selamanya sehidup sesurga. 

Teruntuk suamiku yang saat ini sedang mendengkur halus di sampingku, terimakasih telah dengan sabar menjaga, mengajari, dan mencintaiku. Terimakasih juga karena telah menerimaku apa adanya dan tak lelah untuk selalu menyabarkanku. Aku mencintaimu.