Belajar Islam Harus Pada Guru Yang Punya Sanad

dialektik id
Karya dialektik id Kategori Agama
dipublikasikan 06 Juni 2018
Belajar Islam Harus Pada Guru Yang Punya Sanad

Belajar Islam Harus Pada Guru Yang Punya Sanad

Mengapa Tidak Boleh Belajar Islam Lewat Google? – Jadi sebetulnya bukannya tidak boleh memanfatkan Google dalam menggali informasi tertentu, apalagi informasi masalah ilmu agama. Hanya saja anda harus tahu bahwa Google bukanlah sumber ilmu agama secara langsung. Google suatu robot search engine yang dapat mencari dengan cepat berbagai informasi yang berserakan di dunia maya.

Google sendiri bukan sumber informasi, tapi bermanfaat sekedar memberi clue atau jejak saja, yang masih mesti ditelurusi lebih lanjut, entah nanti jejak tersebut sampai ke lokasi yang benar atau pun ke lokasi yang tidak benar. Buat Google, benar salahnya informasi tersebut tidak terdapat urusan.

Maka anda tidak belajar agama dari Google, namun dalam situasi tertentu dan situasi yang terbatas, Google dapat saja dimanfaatkan untuk menggali jejak tulisan berhubungan dengan ilmu agama. Tentu dalam jumlah yang amat paling terbatas sekali.

Maka bila ada orang yang semata-mata mengandalkan ilmunya melulu dari Google saja dan hingga menjadikan Google sebagai satu-satunya sumber ilmu agama, pasti saja dari mulai, dia telah keliru dan tentu sesat. Mengapa? Sebab sumber ilmu agama ialah Rasulullah SAW dan semua shahabat beliau. Dan Allah SWT sama sekali tidak pernah mengirim duta seorang nabi atau rasul yang mempunyai nama Nabi Google alaihissalam.

Guru yang bersanad



1. Nisbinya Kebenaran Google

Seringkali orang keliru menjadikan Google sebagai tolok ukur kebenaran. Caranya dengan menyaksikan jumlah hasil apa yang diperlihatkan Google saat suatu masalah dicari. Padahal kebenaran tersebut tidak pernah diukur menurut jumlah suara, karena kebenaran tidak sama dengan demokrasi.

Sebagai ilustrasi, terdapat 100 orang zindiq mencatat di dunia maya bahwa zina tersebut halal, namun tidak ada satu orang mukmin yang mencatat bahwa zina tersebut haram. Begitu terdapat orang jahil menggali hukum zina gunakan Google, apa yang bakal terjadi? Sudah dapat dipastikan dia akan menuliskan bahwa zina itu halal.

Kok halal?

Karena dari hasil pencariannya di Google, Mbah Google ternyata berfatwa,”Zina tersebut halal”. Dasarnya sebab telah ditemukan 100 artikel yang menghalalkan zina dan pasti ada satu artikel yang mengharamkan zina.

Bayangkan bila bangsa Indonesia yang rata-rata awam masalah agama selalu mengandalkan hasil penelusuran di Google dalam masalah hukum-hukum agama, apa jadinya dengan agama ini?

2. Isi Dunia Maya Banyak Sampahnya

Walaupun terkesan keren, sebetulnya isi dunia maya banyak sekali mengandung sampah tidak berguna. Mengapa demikian?

Karena siapa saja boleh menyebutkan apa saja yang dia mau, tanpa terdapat batas hukum kecuali amat sedikit. Orang dapat mengupload hal-hal berhubungan dengan kebencian, sadisme, pornografi, SARA bahkan menawarkan perjudian dan prostitusi.

Bahkan secara bebas dapat memaki-maki pemerintah dan kepala negara tanpa risi dan risau. Padahal di alam nyata, tidak terdapat orang yang punya nyali untuk mencerca maki kepala negara secara terang-terangan di depan istana, apalagi kalau sendirian. Biasanya beraninya bila bergerombol ramai-ramai. Sebab bila cuma sendirian, dia tentu takut karena dapat ditangkap oleh petugas keamanan.

Tetapi di dunia maya, siapa saja merasa berhak untuk mencerca maki siapapun, baik orang tersebut dikenalnya atau tidak dikenalnya. Pokok caci maki dan sumpah serapah ialah hal yang lumrah dilaksanakan di dunia maya dan rasanya seperti dipastikan halal 100%, seakan-akan ada sertifikat halalnya.

Di tengah-tengah onggokan sampah dan limbah pemikiran seperti ini, Google tidak pernah peduli. Pokoknya tugasnya selalu mencari, benar atau keliru, masuk akal atau tidak, sopan atau bejat, Google tidak pernah dapat membedakannya.

3. Google Tidak Pernah Menyeleksi Kapasitas dan Otoritas Sumber Penulis

Belajar ilmu agama Islam seharusnya lewat semua guru agama, yang kapasitas dan otoritas keilmuannya diakui. Dalam dunia nyata, tak dapat orang yang baru masuk Islam kemarin senja tiba-tiba di pagi hari telah jadi ulama besar, yang berani menghalalkan ini dan mengharamkan itu.

Tetapi di dunia maya, orang yang bahkan tidak pernah belajar ilmu syariah dengan benar. hanya baca-baca kitab terjemahan, atau download-download artikel entah siapa, tiba-tiba menampakkan diri menjadi mufti agung, yang fatwanya ma’shum tidak pernah salah. Dan sayangnya, sosok-sosok semacam ini jumlahnya di Google lumayan banyak, bahkan sebenarnya malah mendominasi seluruh dunia maya.

Saya kenal begitu tidak sedikit ulama yang ilmunya luar biasa. Jelas saya jatuh kagum dan bertekuk-lutut untuk para ulama tersebut. Sayangnya, mereka dengan ilmu yang sedemikian luas itu, jarang terdapat yang mau mencatat di dunia maya. Ilmunya sekedar dinding lokasi beliau-beliau mengajar, sama sekali tidak dapat diakses oleh umat.

Sebaliknya, saya kenal dengan ribuan orang jahil pangkat dua, dalam makna jahil sejahil-jahilnya, tidak memahami bahasa Arab, tidak dapat baca kitab, bacaannya cuma buku terjemahan yang lebih tidak sedikit salah terjemahnya ketimbang benarnya, tidak pernah duduk di majelis ilmu, tidak kenal semua ulama dengan spesialisasinya, bahkan yang menjadi aib besar ialah ketika menyimak Al-Quran masih dalam taraf melafalkan terbata-bata, tidak mengerti buku referensi ilmu syariah, dan sejuta aib lainnya, ternyata merasa dirinya ialah sumber kebenaran.

Konyolnya sosok-sosok seperti ini merasa dirinya telah sah dan sah menjadi juru dakwah, aktifis pergerakan, dan di antara ‘dakwahnya’ ialah rajin sekali mencatat tanpa ilmu dan kegemaran memposting hoax dalam agama, aktif mencatat kajian-kajian yang belum pernah seumur hidup dipelajarinya dengan benar. Kalau dia tahu, sumbernya dari ‘ustadz saya’, ‘guru saya’, ‘murabbi saya’, selalu segitu saja.

Yang menciptakan saya terpingkal-pingkal ialah mereka yang 100% jahil ini juga punya murid-murid yang secara teratur ‘mengaji’ kepadanya. Kok terdapat ya orang yang inginkan menimba ilmu dari orang yang tidak punya ilmu?

Wallahi saya heran dan takjub. Dan lebih edan lagi, semua muridnya tersebut pun mengusung diri mereka sebagai sumber agama, lalu mencatat pula di blog, web, FB, dan seterusnya. Kalau diungkapkan serupa dengan firman Allah SWT :

أَوْ كَظُلُمَاتٍ فِي بَحْرٍ لُّجِّيٍّ يَغْشَاهُ مَوْجٌ مِّن فَوْقِهِ مَوْجٌ مِّن فَوْقِهِ سَحَابٌ ظُلُمَاتٌ بَعْضُهَا فَوْقَ بَعْضٍ إِذَا أَخْرَجَ يَدَهُ لَمْ يَكَدْ يَرَاهَا وَمَن لَّمْ يَجْعَلِ اللَّهُ لَهُ نُورًا فَمَا لَهُ مِن نُّورٍ

Atau laksana gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, bilamana dia menerbitkan tangannya, tiadalah dia bisa melihatnya, (dan) barang siapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia memiliki cahaya tidak banyak pun. (Qs. An-Nuur : 40)

Maka bila mau disalahkan, sebenarnya bila kita tahu duduk masalahnya ya tidak boleh salahkan Google, namun salahkan yang memakai Google sebagai satu-satunya sumber dalam mengetahui agama Islam. Dan nomor satu, salahkan dulu mereka yang jahil namun belagak punya ilmu lalu mencatat di dunia maya.

4. Bagaimana Mengambil Manfaat Dari Google Dalam Belajar Agama?

Tentu tidak budiman kalau saya selalu menyalah-nyalahkan saja tanpa memberi solusi. Di awal sudah saya katakan bahwa Google tetap dapat dimanfaatkan, asalkan tahu aturan dan batasannya.

Contohnya, saat saya perlu informasi tentang suatu hadits yang saya tidak tahu siapa perawinya. Untuk tersebut Google dapat digunakan dalam batasan tertentu. Caranya, ketikkan potongan haditsnya dalam bahasa Arab, contohnya : إنما الأعمال بالنيات kemudian cari.

Kita akan diserahkan sekian tidak sedikit link yang dapat kita pilih oleh Google. Dari sini kepintaran kita mulai diuji, pilih link yang mana seharusnya?

Anggaplah saya memilih suatu situs yang memperlihatkan teks hadits itu. Tertulis disana informasi yang lengkap, yakni matan dan sanadnya, lalu dilafalkan adanya di buku apa, jilid berapa dan halaman berapa. Kalau pas beruntung seperti ini, pasti bagus sekali.

Cuma satu urusan yang urgen untuk diketahui, level informasi tersebut masih terlampau rendah. Sebab anda belum membuka langsung hadits tersebut di dalam buku aslinya. Kita hanya baca artikel orang entah dia benar atau keliru mengenai informasi mula mengenai hadits tersebut. Oleh karena tersebut level informasi dari mbah Google ini masih mempunyai sifat ‘konon kabarnya’ dan belum ditahqiq cocok dengan prosedur.

Untuk tersebut kita mesti buka buku rujukan yang dilafalkan dalam tulisan tersebut dan anda tahqiq, apa benar si penulis menuliskan demikian. Dan nanti baru ketahuan seberapa hoax tulisannya.

Tetapi kadang saya kejeblos pada website yang jelek, penulisnya juga jelek juga. Memang terdapat teks hadits tersebut dalam bahasa Arab, namun tidak dilafalkan info urgen selanjutnya. Tidak terdapat perawinya, tidak ada buku rujukannya, bahkan tidak jelas siapa yang menulis tulisan ini. Nah, berikut bukti bahwa Google tidak sepandai yang anda kira.

Bahkan bila lagi apes, boro-boro bisa tau haditsnya, yang terdapat cuma kelompok link-link tidak jelas, isinya iklan dan virus yang siap menghancurkan komputer kita. Atau lebih sial lagi, anda ketemu link dari orang jahil yang mencatat sesuatu tanpa ilmu, sampai-sampai alih-alih saya dan anda bisa pencerahan justru dapat kesesatan.

Jadi kesimpulannya, informasi dari Google tersebut jangan dulu langsung dipercaya. Prinsipnya, artikel hasil penelusuran di Google tersebut harus dirasakan keliru dulu dan dilemparkan saja dulu, hingga nanti terdapat sekian tidak sedikit pembanding yang mumpuni dan dapat menguatkan kebenarannya.

  • view 17