Kota Sejuta Wali dan Sifat Wanita Kota Tareem

dialektik id
Karya dialektik id Kategori Agama
dipublikasikan 06 Mei 2018
Kota Sejuta Wali dan Sifat Wanita Kota Tareem

Di negara kita banyak disebut sebagai kota santri karena banyaknya pondok pesantren serta majelis ta'lim yang berdiri dibeberapa kota. Serta juga ada yang menyebut sebagai kota wali, karena di kota tersebut banyak sekali para makam Wali Songo seperti di Surabaya ada makam Sunan Ampel, kemudian di Demak ada makam Sunan Kalijaga dan masih banyak makam para wali yang ada. Nah, jika kita mengunjungi Kota Yaman, maka tidaklah sempurna kalau kita tidak mengunjungi kota yang nilai religiusnya sangat kental. Nama kota tersebut ialah Kota Tareem yang terletak di Provinsi Hadhramaut.



Sejak dahulu, Tareem merupakan mazhab Imam Syafi'i. Kota ini disebut sebagai kota sejuta wali karena banyaknya makam para wali Allah yang dimakamkan dan dilahirkan disana. Bahkan menurut berbagai sumber diceritakan bahwa leluhur para wali songo sebenarnya berasal dari Tarim, Hadhramaut Yaman. Suasana yang sangat religius tersebut bukanlah tanpa sebab, karena memang penduduk Yaman telah telah memeluk agama Islam sejak zaman Nabi saw. Bahkan di Hadhramaut Yamat terdapat makam Nabi Hud As yang mana lokasi makam berada di daerah bernama Syi’ib Hud yang berjarak sekitar kurang lebih 80 km dari kota Tarim. Masyarakat Hadhramaut mempunyai tradisi ziarah ke makam Nabi Hud alaihis salam secara bersama-sama setiap tahunnya,yaitu di bulan sya’ban tepatnya pada tanggal tujuh sampai tanggal sepuluh sya’ban.



Setelah kita mebahas sedikit tentang Kota Tareem yang disebut sebagai kota sejuta wali, tidak ada salahnya kita membahas para wanita yang ada di kota sejuta wali ini. Ya, para wanita tareem ini pun mempunyai sifat dan kebiasaan yang jauh berbeda dari sebagain besar wanita-wanita muslimah yang ada di dunia. Wanita Tareem terbiasa dari sejak kecil dibesarkan dilingkungan ulama, siang malam mereka adalah membicarakan tentang Ilmu Allah, Majelis Ilmu, Al Quran, adab, akhlak, tasawauf dan masih banyak lagi pembicaraan yang bermanfaat bagi dirinya sendiri ataupun nanti jika sudah berumah tangga.

Dalam hal berpakaian, para wanita tareem ini selalu mengunakan baju serbahitam atau dikenal dengan sebutan baju baluthu yang menutupi seluruh tubuh serta menggunakan cadar atau niqab. Sehingga yang terlihat hanyalah kedua matanya dan telapak tangan. Meski begitu, para wanita tareem tidak akan keluar rumah bersama mahram atau saudara perempuanya.
Begitu juga di pasar. Tidak banyak dijumpai oleh kita para wanita tareem yang ada di pasar. Aktivitas jual beli banyak di dominasi oleh kaum lelaki.  Bahkan yang uniknya lagi, masyarakat tareem mengkhususkan pasar bagi kaum perempuan, agar dengan leluasa bagi mereka ketika berbelanja kebutuhan khusus untuk perempuan.

Tetapi, hal tersebut bukan menjadi halangan untuk kaum perempuan yang ingin beraktivitas diluar rumah, dinamika sosial kaum perempuan menjadi lebih berat ketika ada acara keagamaan bersama seperti Sholawat Burdah, zikir bersama, serta pengajian mingguan yang berlangsung dirumah perkumpulan khusus perempuan.

Karena kuatnya agama islam dalam diri mereka para wanita tareem, meskipun hidup dalam kesederhanaan, namun kehidupan mereka jauh lebih tenang ketimbang wanita yang berkehidupan dunia bebas pada umumnya. Begitulah jika syariat Islam benar-benar diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat.

Yahh, begitulah sekelumit tentang kehidupan para wanita tareem, semoga menjadi teladan bagi wanita seluruh dunia.

  • view 53