KurinduITD - Indonesia Bebas Diskriminasi

Chatty Kinan
Karya Chatty Kinan Kategori Buku
dipublikasikan 17 November 2016
KurinduITD - Indonesia Bebas Diskriminasi

Indonesia Bebas Diskriminasi

 

            Semboyan bangsa Indonesia ialah “Bhinneka Tunggal Ika” yang artinya meskipun berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Perbedaan disini meliputi ragam budaya, bahasa daerah, ras, suku bangsa, agama dan kepercayaan. Setidaknya bangsa Indonesia memliki 1.128 suku bangsa, 6 agama dan etnis-etnis lainnya. Sebagaimana lainnya perbedaan inilah yang disebut dengan keragaman, yaitu kekayaan bangsa yang penuh nuansa dan variasi. Perbedaan akan semakin banyak apabila dilihat dari sisi yang lebih luas, misalnya saja dalam hal golongan, partai politik, organisasi dan lainnya.

            Dari banyak perbedaan dan keragaman, Indonesia tidak luput dari masalah diskriminasi. Diksriminasi bisa dilakukan oleh kelompok etnis, ras, agama, kelamin, ideologi dan budaya. Namun Indonesia sudah memliki aturan-aturan sendiri tentang diskriminasi. Berdasarkan Undang-Undang No.39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, pengertian diskriminasi tertuang dalam pasal 1 ayat (3) UU[3] menyatakan bahwa diskriminasi adalah setiap pembatasan, pelecehan manusia atas dasar agama, suku, ras, etnik, kelompok, golongan, status sosial, status ekonomi, jenis kelamin,bahasa, dan keyakinan politik, yang berakibat pengangguran, penyimpangan atau penghapusan pengakuan, pelaksanaan atau penggunaan hak asasi manusia dan kebebasan dasar dalam kehidupan, baik individual maupun kolektip dalam bidang politik, ekonomi, hukum, sosial, budaya, dan aspek kehidupan lainnya.

            Pengertian diksriminasi adalah “perbuatan atau sikap yang membedakan, perlakuan tidak adil, memberikan prioritas atau hal yang menguntungkan kepada kaum atau yang sepihak karena alasan kesamaan yang menguntungkan kepada kaum atau kelompok sepihak karena alasan kesamaan dan merugikan kelompok  lain, merendahkan atau melecehkan suatu kelompok karena merasa kelompoknya superior dan kelompok lain adalah inferior, merusak atau menghancurkan sistem, tatanan budaya atau kepercayaan kaum yang berbeda.” Tidak selalu diskriminasi disebabkan kebencian, ada dikriminasi yang bertujuan memojokan suatu kelompok demi keuntungan pribadi atau kemolpoknya sendiri atau menunjukan kekuasaan. Contohnya yang sering kita lihat adalah pelarangan pembangunan atau perusakan tempat-tempat ibadah kaum minoritas, penyerangan terhadap umat agama tertentu.

         Saat ini hubungan antara kelompok agama menjadi salah satu persoalan besar yang belum terselesaikan. Berulangnya model kekerasan beragama dengan pola yang mirip, merupakan dampak tindakan diskriminasi yang dilakukan negara terhadap kelompok agama minoritas. Bahkan, kasus kekerasan beragama tidak lagi diselesaikan melalui kebijakan publik, namun menyerahkan sepenuhnya kepada elit politik lokal. Dengan keterdiaman pemerintah dan cenderung melokalkan penanganan kasus seperti ini, mengakibatkan timbulnya main hakim sendiri dari kalangan agama konservatif. Fenomena kekerasa beragama yang kerap terjadi di daerah menjadikan masyarakat kian permisif terhadap berbagai aksi kekerasan yang dilakukan kelompok tertentu yang mengatasnamakan agama. Sangat disayangkan bahkan pemerintah masih menganggap kasus kekerasan beragama yang terjadi selama ini dalam batas normal. Sementara dari kelompok agama yang melakukan aksi kekerasan melakukan pemberanaran dengan doktrin teologi. Bahaya besar apalagi menganggap kekerasan agama yang terjadi ini sebagai sesuatu yang normal. Lawan dari toleransi yakni, ekstrimitas yang artinya tindakan berlebih-lebihan dalam melakukan sesuatu dan cenderung tidak mau menerima perbedaan. Akhir-akhir ini yang sedang terjadi di Indonesia adalah ekstrimitas yang dilakukan oleh beberapa kelompok terhadap suatu agama. Hal-hal seperti itu akan memunculkan konflik antara umat beragama.

               Salah satu contoh yang sedang hangat di perbincangkan di Negara ini ialah kasus; Ahok yang melecehkan agama Islam atau tentang penistaan agama. Bagi kaum mayoritas itu sangatlah fatal hingga berbagai golongan atau organisasi tertentu demo besar-besar hanya untuk meminta pemerintah menjadikan Ahok sebagai tersangka. Apalagi Ahok kaum minoritas yang sedang menjabat sebagai pemimpin daerah. Padahal bagi kaum awam yang tidak mengerti apa yang terjadi bisa saja terpengaruhi oleh provokator. Seharusnya masalah ini bisa terselesaikan dengan baik dan musyawarah, tidak main hakin sendiri dan tidak saling menghujat satu sama lain. Kasus diatas merupakan bentuk mayoritas besar yang menindas minoritas kecil. Pembiaran diskriminasi agama akan membuat disintegritas bangsa rusak dan hancur. Gesekan masyarakat akibat dikriminasi agama harus dicegah secepat mungkin agar tidak berakibat fatal kedepannya. Seharusnya Indonesia bisa menjadi contoh dunia dalam hal keragaman, tidak hanya pemerintah dan para pelindung Negara seperti polisi, tentara, satpol pp dan yang lainnya sebagai pelindung negri.

            Tidak rindukan bangsa ini dengan kedamaian? Jangan menjadi pelaku yang tidak bertanggung jawab yang meninggalkan bekas kejahatan, jadikan Negara ini aman dan damai lagi dengan perilaku dan perbuatan yang baik. Karna bangsa yang besar ialah bangsa yang menghargai sesama manusia. Rindu Indonesia Tanpa Diskriminasi harus diwujudkan, maka dalam hal keragaman dan berbagai permasalahan diskriminasi di negara ini maka diperlukannya toleransi bagi semua masyarakat Indonesia mecangkup golongan-golongan tertentu. Toleransi adalah sikap atau kesediaan hati untuk menerima perbedaan dalam bentuk tidak menjadikan alasan untuk bersikap bermusuhan terhadap orang atau kelompok orang yang berbeda. Toleransi di lakukan bukan karna paksaan melainkan dari dalam diri sendiri untuk bisa saling menghargai dan menghormati sesama manusia. Sebagai pemuda dan pemudi Indonesia mari wujudkan Hidup Tanpa Diskriminasi di negri ini, sebab Hidup Tanpa Dikriminasi bisa mewujudkan Negara yang aman, damai, dan rukun. Dialog yang terbuka antar umat beragama, membuang perasaan superioritas harus diusahakan untuk asas saling menghormati dan menghargai, tujuannya adalah demi membangun masyarkat yang harmonis. Toleransi juga membuat persatuan negara ini semakin kuat dan kokoh, tidak terpecah belah hanya karna kesalah pahaman dan ego pihak-pihak tertentu yang ingin berkuasa.

 

 

 

 

 

  • view 169